Negeri Van Oranje : sebuah novel yang menginspirasi


Negeri Van Oranje, novel yang saya pinjam dari seorang teman bernama Anik Eka Hidayati. Mungkin novel ini berjudul seperti itu karena mengingat pahlawan Belanda Willem Van Oranje atau timnas kebanggaannya skuad Oranje :P novel terbitan 2009 dan menjadi best seller. Ditulis oleh Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizky Wahyu Permana.

bercerita tentang 5 orang sahabat yang mengenyam pendidikan S2 di Belanda. Novel yang membuat pembacanya tak mau beranjak ketika sudah memulai membacanya. Penulis bercerita secara gamblang dan memeparkan secara jelas keindahan sudut-sudut kota di Belanda, Utrecht, Wageningen, Amsterdam, Leiden serta memberi beberapa tip bagi kita yang ingin belajar di sana. Diantaranya : Tips belajar ala Daus, cara membuat verblijf [pengurusan kependudukan], tip bertahan hidup di Belanda yang ya ampun! Mahalnya! para penulis mendetailkan tempat-tempat nongkrong asyik di Negara Kincir Angin sana.

Tokoh Utama novel ini adalah Wicak, Daus, Banjar, Lintang, dan Geri.

pertemuan kelimanya dimulai ketika terjadi badai Katrina di Amersfort. Bermula dari situ, timbul persahabatan yang terikat dalam suatu geng bentukan mereka bernama Aagaban. Penulis, pada awal cerita mengisahkan bagaimana kelima orang itu akhirnya sampai di Belanda. Wicak yang seorang aktivis Lingkungan mendapat keberuntungan disekolahkan di Belanda oleh para musuh pembalak liarnya. Daus, anak betawi asli yang taat pada Engkongnya sekolah karena mengambil beasiswa di STUNED. Banjar, area manager III, seorang anak juragan bawang dari Banjarmasin sekolah karena menerima tantangan temannya untuk hidup kesusahan di negeri orang. Lintang, satu-satunya gadis di lima sekawan itu beruntung mendapat deposito untuk bersekolah di Belanda. Dan Geri, the most perfect man among man inside them, anak juragan angkot atau bus mendapat kesempatan emas untuk menimba ilmu di Negeri Tulip.

sebagai mahasiswa perantauan, mereka sering kekurangan Euro. Hal seperti ini memaksa mereka untuk bekerja part-time. Belum Lagi mereka harus menyelesaikan paper dan mereampungkan tesis. Tapi, dibalik kesengsaraan itu mereka masih sempat berpartisipasi dalam kegiatan dan festival di Belanda.

kelima orang tersebut dari background yang berbeda-beda juga memiliki watak yang berbeda-beda. Akhirnya, terjadilah cinta di antara mereka. Namun, pada akhirnya ada sebuah rahasia pada salah satu diantara mereka sehingga terjadilah akhir yang bahagia.

Novel ini menarik dan gaya bahasanya luwes sehingga tak susah untuk dipahami malah seolah-olah terkesan nyata. Namun, menurut saya, klimaks cerita novel ini kurang menggigit dan nilai moral di dalamnya rasanya tidak cocok untuk manusia berbudaya Timur seperti Indonesia, mengingat kalau Belanda adalah negeri yang bebas. Pesan novel ini adalah, dimanapun kalian berada, ingatlah sahabat. Karena sahabat selalu ada walau kita tak selamanya ada untuk mereka~