Greendy

Pagi hari yang cerah, matahari bersinar terang dan ayam pun bernyanyi nyaring-emang ayam bisa nyanyi?- berkokok maksudnya- menandai bahwa hari baru telah tiba, hari telah berganti. Di sebuah kota, di salah satu provinsi di Indonesia, negara kita tercinta tepatnya pada sebuah kompleks perumahan yang di sana terdapat sebuah rumah bercat biru laut cerah dan pada salah satu kamarnya terbaring seorang gadis. Gadis itu bernama Radiethyavani Syailendra Putri Zominiqueimbia yang, My God! Gaya tidurnya biaya’an koyok jaran kata orang Jawa. Dan seberkas iler berbentuk pulau-pulau di Indonesia tercetak dengan bangganya di atas bantal gadis itu. Ya Ampun! Amit-amit deh. Kalau kita melongok sedikit saja ke kamar yang ditempati si gadis ini, maka dijamin mata Anda akan langsung terkena iritasi ringan dan seketika perut Anda akan terasa mual dan ingin muntah. Lihat saja! –eh, bayangkan saja!- antara kasur dan lantai tak ada bedanya, selimut dan bantal berserakan, guling terlempar di atas lemari pakaian. Buku-buku pelajaran dan majalah dan juga komik-komik menghambur tak keruan bahkan ada diantara benda-benda itu terkena noda bekas makanan dan minuman yang dengan sengaja terjatuh dan tergeletak begitu saja. Kertas dan sampah bekas bungkus keripik kentang ikut meramaikan pemandangan yang tak sedap dipandang mata itu. Dinding kamar yang seharusnya bersih bercat hijau segar hampir seluruhnya tertutup oleh poster band rock. Meja belajar gadis itu juga Amboi! Tak keruan lah rupanya. Sehingga membuat penulis sendiri mual mendeskripsikan kamar yang berantakan bak kapal pecah yang karam dan sudah menjadi bangkai yang telah dimakan ikan –Waw! Sepertinya hiperbola sekali ya?- Lebih baik kita akhiri saja deskripsi kamar buruk rupa ini.

Ya, Radiethyavani Syailendra Putri Zominiqueimbia ini adalah tokoh utama kita, penyuka warna hijau dan dia adalah manusia terjorok yang pernah Anda temui dalam skala orang bersih. Maklum, Adit-nama panggilannya- kita ini adalah seorang preman sekolah yang kerjanya ngupil dan kentut sembarangan. Di masing-masing telinganya terdapat 8 tindikan itu belum yang di lidah dan juga tattoo yang terlukis manis di pinggangnya. Ah! Mungkin Anda bertanya-tanya dan heran kenapa tokoh ini menggemari warna hijau? Padahal dia adalah seorang preman. Yak, berdasarkan bukti kuat bahwa nuansa warna hijau di kamar Adit sangat kental begitu pula sampul buku-bukunya dan juga warna tasnya hingga warna dalamannya adalah hijau. Bukan berarti seorang preman identik dengan warna hitam bukan? Di sini kita buktikan bahwa preman juga manusia, yang masing-masing punya hak untuk memilih warna kesukaan. Oleh karena itu Adit sering disebut GREENDY oleh teman-temannya. Gadis ini beruntung terlahir dengan paras rupawan walau akhirnya ia rusak dengan tindikan, terlahir dalam keadaan sehat wal afiat tanpa cacat dan juga terlahir sebagai anak dari keluarga yang berkecukupan, sayangnya ia tidak terlahir dengan otak se cemerlang teman-temannya yang lain.

“ADIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTT!!!”, teriakan ibu tiri Adit menggema dari arah bawah tangga. Teriakan berkekuatan 100 Mega Hertz itu tak mampu membangunkan Greendy dari tidur nyenyaknya. Greendy masih saja pulas dan terbuai dalam alam mimpinya yang indah, sedangkan hari sudah semakin siang dan waktu tak lagi menunggu. Mama Adit mulai jengkel karena teriakan mautnya tak digubris. Dengan hentakan, ia menaiki tangga menuju kamar Greendy dan mengetuknya keras,

“ADIIIT!! BANGUN ENGGA KAMU? SUDAH SIANG INI! KAMU GAK SEKOLAH?!”

Masih saja tak ada tanda-tanda Greendy bangun dari tidurnya. Akhirnya pintu dibuka paksa dan refleks Greendy mengejang karena kaget, matanya melotot, ia mengumpat dalam hati.

“ADIT! Cepat sana mandi! YA AMPUUN!! Ini kamar apa gudang habis tergulung angin puyuh?! Kamu itu cewek tapi jorok banget! Males lagi! Kalau kamu gak mau jaga kebersihan diri kamu sendiri mana bisa kamu jadi istri yang baik?! Siapa yang bakal kamu suruh bersihin kamar kamu yang amit-amit jabang bayi begini rupanya? Bik Iyem?! Terus kapan kamu bisa mandiri?! Bla bla bla…”, sebelum terjadi Perang Dunia Lokal Adit alias Greendy kita ini sudah ngloyor pergi ke kamar mandi dengan tutup kuping secara tidak sopan. Mama Adit hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak tirinya yang masih belum bisa menerima kehadirannya sebagai ibu di rumah pak Arif, ayah Adit.

***

Greendy berjalan lunglai menuju depan pagar depan rumahnya, karena ia bangun siang dan berlaku tidak sopan sekaligus belum sikat gigi sudah menyerobot roti sarapannya ia tidak diberi jatah uang jajan oleh ibu tirinya. Greendy menggerutu sembari memandangi kukunya yang sudah ia cat dengan kuteks warna hijau neon kemarin. Greendy menghela nafas lalu mengumpat-umpat sembari mengayunkan tangan ke arah truk yang kebetulan melintas di depan perumahan. Yak, hari ini preman kita bernagkat sekolah dengan naik truk alias nggandol. Greendy tak cukup gengsi untuk membiarkan dirinya terlihat kotor dan lusuh karena naik truk saat berangkat sekolah, dia lebih memilih cuek dan bersikap tak peduli apa kata orang seperti kata The Changcuters “biar orang berkata apa” yang namanya Greendy tak kan peduli.

Gerbang sekolah SMA Kopennhagen, sekolah dimana Greendy menimba ilmu –sekolah ini termasuk dalam jajaran sekolah favorit di kota tempat Greendy berada selain SMAN 1, SMA Pelita, SMA Helsinki dan SMA Don Bosco-. Sesampai disana, Greendy melongok dari balik gerbang yang sudah tertutup. Pos satpam aman rupanya, sedangkan jalanan setelah gerbang sepi lengang menunjukkan bahwa bel pelajaran telah berbunyi dan lakon kita ini terlambat masuk sekolah. Greendy yang pada dasarnya nekat dan memang berbakat preman lantas memilih jalan pintas dengan memanjat pagar sekolah.

“Bruk!!”, suara tas hijaunya jatuh terlempar dari balik gerbang. Greendy mengambil ancang-ancang dan secepat kilat kini ia sudah berada di dalam sekolah tetapi tetap bergelantungan di gerbang sekolah dan menimbulkan suara-suara kelotekan.

“Adit!”, Greendy mengejang dan semakin memelankan suara kakinya yang hampir menyentuh tanah. Ia tak berpaling.

“Adit kan? Ap..”, sepersekian detik kemudian Greendy sudah mendekap mulut tempat suara itu berasal. Greendy mengerling pada korbannya.

“SST!! Diem lo!”, Greendy mengancam. Kemudian ia melonggarkan dekapannya dan membiarkan sang korban bernapas. Setelahnya, ia menarik tangan korban untuk pergi menjauh dari TKP sebelum aktivitas mbobol gerbangnya terendus Pak Satpam.

“Gila lo, Dit! Nekad lo! Kalau ada guru yang mergokin gimana bego?!”, cerocos pemuda korban itu. Greendy meutar bola matanya dan menghembuskan nafas pelan.

“Apa peduli elo, Ru? Toh yang kena hukuman juga gue bukan elo.”, Greendy menjelaskan tanpa memandang lawan bicaranya, Aru. Aru merasa tidak terima, aneh saja kalau melihat sahabatnya dihukum oleh guru seandainya Greendy mau Aru mau saja menggantikan posisi Greendy ketika dihukum.

“Tapi kalau elo ngerasa sakit atau kecapekan atau sebel sama guru-guru yang ngehukum elo gue juga ngerasa hal yang sama, Dit. Elo sih gak bakal peduli ma gue tapi gue peduli ma elo.” Aru membantah.

“Plok! Plok! Plok”, suara tepukan tangan Greendy.

“Nah, kalau elo peduli sama gue sekarang traktir gue makan. Gue belum sarapan tadi pagi dodol.”, Greendy membalas jahil. Aru hanya bisa pasrah, apapun akan ia lakukan untuk sahabatnya yang aneh bin ajaib dan langka satu-satunya di dunia itu, Radiethyavani. Tanpa banyak cingcong sepasang sahabat itu kini berada di kantin dan si Greendy telah menghabiskan bermangkuk-mangkuk bakso.

“HAIKH!!,” Greendy bersendawa. Kemudian memasukkan ujung jari kelingkingnya ke hidung dan mengupil, setelah mendapatkan upil ia mengoleskan upil itu di bawah meja kantin. Aru tersenyum kecil,

“Apa lo?! Heh, elo gak ilfil ma gue, Ru?”, Tanya Greendy sambil membusungkan perutnya yang sudah membuncit. Aru geleng-geleng kepala.

Ilfil sama elo?! Udah dari dulu kale. Sayangnya, karena gue ini sahabat yang baik dan gak ngebedain ras jadi gue juga mau ngapain lagi? Gue udah biasa liat elo bertingkah jorok dan semrawut gitu. Elo itu unik, Dit. Tapi gue berharap elo bisa berubah”, jelas Aru, yang bertanya hanya manggut-manggut karena tak berniat memperpanjang pertanyaan bodohnya. Aru berbicara dalam hati, “Elo kok gak Tanya dimana uniknya elo sih?”. Setelah bersendawa lagi –yang kali ini cukup keras- Greendy mengambil tasnya dan pamit pada Aru.

“Eh, makasih udah nraktir gue ya. Elo baik banget sih ma gue. Hha!”, Greendy kemudian mencubit kedua pipi Aru kemudian menghilang.

***

Greendy berjalan di sepanjang koridor perpustakaan untuk menuju kelasnya. Ia menatap ke bawah, ke sepatunya yang berwarna hijau. Tadi pagi masih terlihat bersih namun gara-gara –sekali lagi- nggandol kini warna hijaunya dihiasi dengan warna abu-abu kehitaman oleh debu. Rambutnya yang sebahu tak sengaja tertiup angin mempertontonkan piercing yang ada di telinga kirinya pada gerombolan siswa kelas satu yang tak sengaja lewat di sampingnya. Greendy mendengar kisik-kisik anak kelas satu itu.

“Eh, eh Greendy itu pakai susuk kali ya? Udah penampilannya jorok begitu masih aja Kak Aru mau ngedeketin dia. Aku kan kasihan Kak Aru-nya, takut kalau nanti dia ketularan sama si Greendy preman sekolah kita ini. Nanti imej Kak Aru yang artis bakal jelek dong. Terus dia gak bisa jadi artis terkenal deh.”

“Iya, gue setuju sama elo, La. Bisa bawa wabah buruk tuh manusia kalau deket-deket Kak Aru.” Tukas temannya yang satu lagi. Yang lainnya manggut-manggut. Greendy berbalik arah dan seketika meraih pundak anak yang menyebutnya pakai susuk. Si anak yang bernama Lola itu gemetar.

“Heh, elo kira elo siapa pake ngata-ngatain gue pakai susuk? Elo ada bukti?! Seenak elo aja nuduh gue. BERANI LO LAWAN GUE?!”, Greendy mengerling badge anak-anak itu. Kemudian melotot.

“MASIH KELAS SATU AJA KEBANYAKAN GAYA LO PADA!!”, bentak Greendy dengan nada yang tak bersahabat lagi. Gerombolan itu seketika nyalinya menciut., mereka menunduk.

“Awas lo sampai gue denger elo pada ngomongin gue lagi. Gue abisin elo semua!!,” ancam Greendy seraya mngecungkan kepalan tangan tepat di depan muka Lola yang mulai menitikkan air mata. Sepersekian detik berikutnya, Greendy melepaskan cengkramannya dari bahu Lola dan berbalik lalu menendang bak sampah.

“Brengsek!!”, umpatnya dalam hati.

Kini, Greendy sudah sampai di kelasnya 3-IPA-10 kelas IPA terlower dalam skala sekolah favorit SMA Kopennhagen. Greendy mengambil tempat duduk paling belakang, yang memang anak-anak lain tak mau menempatinya kalau mereka masih ingin selamat dari amukan badai liur Greendy sekaligus bonus bogem mentah yang mendarat di pipi. Suasana kelas lengang –sangat cocok bagi Greendy untuk melanjutkan tidurnya yang belum lengkap tadi pagi-, padahal biasanya kalau jam ganti pelajaran seperti itu di kelas lain sudah terdengar celotehan para tukang gossip kelas. Masalahnya, ini adalah jam pergantian pelajaran Fisika dengan guru super killer bernama Pak Umar Bakrie. Umar Bakrie Umar Bakrie pegawai negeri. Bukan, bukan Umar Bakrie yang ada dalam senandung Iwan Fals juga bukan Abu Rizal Bakrie yang memiliki Bakrie Telecom hehe. Pak Umar Bakrie yang lebih beken dengan nama kecil Pak UB adalah sosok yang garang, sudah tercetak jelas di wajahnya yang merengut, kaku dan berkumis tebal tak lupa bagian depan kepalanya yang kinclong alias botak. Suara langkahnya dari koridor terdengar sampai ruang kelas, buku-buku setebal bantal tak luput dari genggamannya. Yak, tak butuh waktu lama kini beliau sudah sampai di kelas 3-IPA-10.

“Bruk!!”, bunyi buku-buku setebal bantal terbanting malang di atas meja guru. Greendy mengejan lagi lalu melotot. Seketika kata-kata tak senonoh melucur mulus dari mulutnya.

“BRENGSEK!!”, tanpa takut ia berdiri dan memandangi Pak UB yang agak shock. Pak UB sudah dapat menguasai diri.

“Kamu bilang apa Radiethyavani?”, Tanya Pak UB menahan amarah

“Elo Brengsek!”, wuish! Betapa kurang ajarnya anak ini bisa berkata seperti itu dengan ekspresi datar tanpa dosa. Pak UB melotot.

“Murid macam apa kamu Radiethyavani?”, bentak Pak UB. Greendy melengos.

“KELUAR DARI KELAS SAYA!!”, Pak UB mencoba menghardik barangkali Greendy meminta maaf. Tapi, tidak! Tentu saja, Greendy malah mengambil tasnya dan hendak keluar kelas. Pak UB gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya. Bertanya-tanya kenapa anak ini malah keluar mau menantang saya ya?

“DUDUK RADIETHYAVANI!!”, Pak UB berteriak.

“Elo tadi nyuruh gue keluar sekarang nyuruh gue duduk. Maksud elo apa? Jadi guru jangan plin-plan dong.” Greendy membalas keras. Sekarang Pak UB sudah berdiri di hadapannya dan ‘PLAKK!!’ tamparan keras mendarat di pipi Greendy. Greendy mengerang sambil memegang pipinya yang panas.

“BEDEBAH!!”, teriaknya di depan muka Pak UB kemudian ia membulatkan tekad untuk melengan pergi dari kelasnya. Yah, satu kali lagi, satu lagi dosa yang sudah diperbuat Greendy di tahun terakhirnya bersekolah di SMA Kopennhagen. Bagi Greendy hukuman sudah menjadi pekerjaan rutinnya, poin sudah menjadi kebanggaan, sudah berkali-kali Greendy melakukan kesalahan, berkali-kali Greendy menjalani hukuman, semua itu tak mampu membuat Greendy berubah. Bahkan kenaikan kelas 3 ini seharusnya Greendy sudah tak bersekolah di sini lagi, namun orang tuanya memohon pada kepala sekolah agar Greendy dipertahankan dengan dalih Greendy akan berubah. Pada kenyataannya, Greendy masih belum berubah hingga detik ini.

Greendy memilih pergi ke tempat tongkrongan aliansi geng preman sekolahnya. Tempatnya berada di sebuah sudut sekolah yang jarang tersentuh staff guru dan murid-murid lainnya. Di situ aliansi geng preman sekolah Greendy berkumpul, untuk menyulut rokok atau bahkan menonton video bokep di handphone bersama.

“Eh, elo Ndy. Bolos pelajaran lo?”, sapa Carlos yang sedang menghembuskan asap rokoknya.

“Gue minta satu,” pinta Greendy. Seketika Carlos mengulurkan rokoknya dan Greendy meraihnya lalu menyulutnya.

“Heh, elo belum jawab pertanyaan gue dodol!”, Carlos memaksa. Greendy menghembuskan asap rokoknya.

“Iya, ngapain gue jawab kalo elo sebenernya uda tau jawabannya. Retoris lo!”

“Pelajaran apa, bos?”, Tanya salah satu anak buah Greendy.

“Mau tau aja sih elo. Emang kalau gue jawab pelajarannya Si Botak Umar Bakrie mau apa lo? Berisik!”

“Wuih! Hebat banget elo bisa bolos pelajarannya guru sadis itu. Gue aja senakal-nakalnya gini kagak berani.”, Carlos berkomentar diikuti derail tawa anak-anak lain. Greendy meringis.

“Itu bodohnya elo, dan ini pinternya gue.” Tukasnya menyombongkan diri. Tiba-tiba, datang anak buah Greendy yang lain dengan tergopoh-gopoh.

“Bos, ada tantangan tawuran bos!”, teriak anak itu. Alis Greendy bertaut.

“Sama siapa?!”, Greendy bertanya setengah berteriak, adrenalinnya terpompa.

“Anak Helsinki!!”, jawab anak itu.

“Yuk, Guys! Kumpulin yang lain terus kita cabut. Gue terima tantangannya.” Greendy bertitah dan seketika itu pula bagai kerbau dicocok hidungnya anak buahnya menurutinya begitu saja.

***

Tak butuh waktu lebih dari seperempat jam, kini gerombolan aliansi geng preman sekolah SMA Kopennhagen sudah berkumpul di tempat yang telah ditentukan preman SMA Helsinki.

“Elo ada masalah apa ngajak tawuran kita?”, Greendy membuka mulut.

“Atur anak buah elo ya cantik. Seenaknya aja dia bawa cewek anak buah gue jalan.” Jawab ketua Preman SMA Helsinki. Greendy memutar bola mata.

“Cih! Urusan cewek aja elo gede-gedein. Cowok apaan lo?!”, ejek Greendy.

Cowok itu naik darah seketika dan ‘BUGH!’ kepalannya sudah mendarat telak di pipi Adit.

“Salam kenal, Gue Galih!” Greendy mengerang lalu terjadilah pertempuran yang tak terelakkan.

***

Begitu mendengar berita tawuran antara sekolahnya dan SMA Helsinki, Aru langsung tancap gas menuju TKP. Ia sungguh tak ingin sahabatnya itu terjatuh ke jurang yang lebih dalam lagi. Ia menginjak gas kencang, ia hanya ingin cepat sampai.

Sepersekian detik berikutnya, Aru sudah sampai dan berusaha menerobos tawuran yang belum sempat dihentikan Polisi. Ia menyapu pandangan dan menemukan sosok Greendy yang tengah membelakangi musuhnya, tampaknya musuhnya itu mengambil sesuatu dan rupanya itu PISAU!! Pisau lipat yang tersimpan di balik kaos kakinya. Pemuda yang berada di belakang Greendy mengambil ancang-ancang dan bersiap menikam Greendy dari belakang. Aru bergegas cepat menuju arah Greendy.

“ADIIIIIIIIIITTT!!”, Aru berteriak dan ‘JLEB” pisau itu telah menancap di tubuh. Darah korban menyembur ke muka Galih. Galih gemetar dan berkeringat dingin. Ia salah sasaran.

Greendy berbalik, matanya terbelalak. Di hadapannya, ada Aru yang bersimbah darah, wajah pemuda itu memucat. Kemudian sayup-sayup terdengar suara sirine Polisi diikuti turunnya rinai hujan membasahi bumi, darah Aru menggenang. Adit meraung dan menangis terisak-isak.

***

Adit tak pernah bisa lupa kejadian 6 bulan lalu. Kejadian yang membuatnya tak lagi bersikap premanisme. Sepenuhnya, Greendy yang sekarang adalah anak yang pendiam dan selalu berlaku baik. Akibat dari kejadian itu Galih ditahan selama 20 tahun dan dirinya mendapat tekanan keras dari orang tua dan sekolahnya. Tak ada lagi aliansi geng preman di SMA Kopennhagen. Tak ada lagi hukuman untuk perbuatan jahil dan nakal Greendy. Bahkan, sekarang Greendy menggantikan posisi Aru sebagai siswa kelas 3-IPA-1. Greendy sudah berubah, tak ada lagi 16 piercing di masing-masing telinganya ataupun di lidahnya. Tak ada lagi bau kentut yang meracuni seisi kelas, tak ada lagi olesan upil di bawah meja. Yang ada sekarang adalah,

“Radiethyavani Syailendra Putri Zominiqieimbia!”, nama Adit dipanggil ke ruang kepala sekolah.

“Selamat! Kamu mendapat beasiswa untuk sekolah kedokteran di Singapura.”

Senyum Greendy mengembang. Ia mengeluarkan frame foto berwarna hijau dari dalam tasnya.

“Aru, gue udah berhasil mewujudkan impian elo. Gue berubah!”