Mencari Jati Diri Bangsa



Indonesia and Indonesian. Ya, Saya adalah seorang Indonesia. Saya lahir di Bumi Pertiwi, berdarah asli melanesia. Saya asli keturunan Jawa. Dan kini sedang menimba ilmu di sebuah Universitas di Kota Saya.

Saya ingin memotret keadaan moral negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Dulunya, Bangsa kami dikenal sebagai bangsa yang berbudi luhur, patuh pada orang tua, menghargai sesama, dan juga saling toleransi antar umat beragama. Setidaknya, itulah gambaran manusia (bangsa Indonesia) pada zaman sebelum reformasi yang Saya baca di buku PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Saat orang tua saya masih kecil, saat pemerintahan masa itu bernama 'Orde Baru'. Yang Saya tekankan disini adalah pembinaan soft skill pada pendidikan usia dini bukan kebobrokan maupun kemajuan pemerintahan kala itu.

Dulu, ada penataran P4 dan juga pendidikan penghafalan (pemahaman) butir-butir Pancasila. Menurut orang tua saya, pendidikan semacam itu cukup membawa pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan moral generasi penerus Bangsa. Dan entah mengapa program P4 dan mata pelajaran PPKn kini mulai tergerus. Yang hasilnya adalah : Korupsi merajalela, premanisme semakin garang, Perkosaan dimana-mana, Pergaulan Bebas, Ketidakpedulian kepada orang lain, dan segala macam kebobrokan moral yang kita temui di kehidupan kita berbangsa dan bernegara Indonesia.

Kemudian, manakah jati diri bangsa kita yang 'Gemah Ripah Loh Jinawi'? Kemana ia pergi? Apakah kini tinggal sisa keluhuran bakti bangsa? Apakah semua luntur karena modernisasi dan globalisasi?

Para orang tua zaman sekarang tak terima anaknya diperlakukan keras oleh Guru. Mereka berlindung atas nama HAM. Hello! Pada zaman dulu, perlakuan Guru justru lebih keras kepada Murid dengan tujuan untuk membentuk karakter bertanggung jawab dan independen. Coba lihat anak sekarang? Selalu tergantung, manja, dan tidak mandiri. Tak mungkin Guru bersikap keras pada murid jikalau murid diam dan patuh. Dimana ada asap disitu ada api. Jadi, para orang tua cobalah lebih bijak dalam menyikapi kegusaran guru. Dan HAM?! Persetan dengannya. HAM hanya bisa memojokkan pemerintah. Sekali pemerintah melakukan kekerasan, Ormas HAM berkoar-koar! Namun, ketika pegawai pemerintah teraniaya, apakah mereka membela? Mana suara HAM kalian?

Itulah Jati diri kita sekarang. Mental Korup, menjadi boneka barat, mental pemalas, dan segepok keburukan lainnya.

Wahai Rakyat Indonesia, Mari kita sadar dan berjuang demi perubahan!