Review Film : Hugo (2011)

Poster Hugo
Hollywood selalu bisa menghadirkan teknik sinematografi kelas wahid dengan cerita dengan plot menakjubkan termasuk dalam kisah mekanik cilik yang disutradarai Martin Scorsese 2011 silam, Hugo Cabret (Asa Butterfield). Dengan mengambil setting Paris zaman 1960-an, film ini mengisahkan si kecil Hugo yang menghabiskan hari-harinya sebagai penanggung jawab jam kota sejak ayahnya meninggal. Hugo memiliki obsesi untuk memperbaiki sebuah robot boneka yang dinamakan automaton yang ditemukan ayahnya di museum. Ayah Hugo berpesan agar Hugo memperbaiki automaton tersebut sehingga automaton tersebut dapat bergerak seperti yang mereka impikan.


Ceritanya bermula ketika Hugo seringkali mencuri mur-mur dan baut-baut kecil di toko seorang Pak Tua, George Meiles (Ben Kingsley). Awalnya kita juga akan berpikir Hugo ini bukanlah bocah yang jenius mesin, tetapi seorang pencuri cilik yatim piatu yang tinggal di menara Jam stasiun. Namun, seiring kita mengikuti cerita film ini, kita akan tahu bahwa Hugo memiliki bakat luar biasa dalam dunia permesinan, dia belajar dari ayahnya yang seorang tukang jam tentunya. Malangnya, ketika berusaha mencuri tikus mainan di toko Pak Tua George tadi, Hugo tertangkap dan hukuman untuknya adalah dia harus menyerahkan notes kecil peninggalan ayahnya yang ia gunakan sebagai pedoman untuk memperbaiki automaton. Hugo takkan mudah menyerahkan notes warisan ayahnya begitu saja sehingga ia bersikeras untuk mengambil kembali notes itu dengan mengikuti Pak Tua George pulang ke rumah. Malang, Pak Tua George tetap mengacuhkannya dan malah membuat Hugo berkenalan dengan anak angkat Pak George bernama Isabelle (Chloe Moertz).



Sejak saat itu mereka bersahabat dan berpetualang bersama. Isabelle ini anak yang patuh dan kutu buku dan dengan mudahnya bersahabat dengan Hugo karena keunikannya. Petualangan itu membawa mereka berdua menemukan rahasia masa lampau si Pak Tua George dan Istrinya. Kesuksesan Pak George dan keberhasilan Hugo membuat automaton bergerak. Ceritanya tak berhenti di situ, setelah rahasia Pak George terkuak dan Hugo berhasil memperbaiki automaton, Hugo malah diburu Inspector Gustave (Kepala Stasiun) yang suka mengirim anak jalanan ke panti asuhan.

Untungnya, karena Pak George mulai menyukai Hugo, Ia mengangkatnya menjadi anak dan mengajarinya beberapa trik sulap.

Menurut Saya, film ini tidak fokus dalam satu problem. Di dalam problem yang secara tersurat dijelaskan masih ada problem lagi. Dan menurut Saya film ini agak membosankan. Awalnya bercerita tentang mesin ternyata bercerita tentang seni dan film. Kemudian, nilai plus disini adalah sinematografi, awalnya saya berpikir ini adalah film animasi tapi ternyata Live Action. Nilai plus yang lain, klimaks film ini dihadirkan begitu menakjubkan sehingga Anda bisa benar-benar menikmati film ini. Mau dibilang bagus, ya kurang bagus dan kurang dari ekspektasi Saya tetapi mau dibilang jelek itu juga engga jelek sekali.

Score : 7.8/10
Lumayan lah untuk mengisi liburan Anda