Agama Sebagai Komoditas

Agama, tidak rusak. Sebuah kata yang sakral, terkadang malah dikultuskan oleh sebagian masyarakat. Agama, menjadi hal yang tabu untuk didebatkan, diperbincangkan, maupun disinggung. Oleh sebab itu, muncullah frasa SARA yang apabila disinggung maka kemungkinan terjadinya konflik akan menjadi lebih besar. Karena sebagian orang berpikir bahwa agama yang mereka anut lah yang paling benar. Namun, Saya sebagai pemeluk Islam memandang tidak perlu lah menyinggung masalah Agama ini, terutama menjadikannya tameng atas pembenaran perilaku yang malah menurut kacamata Islam tidak benar.


Mengapa?
Bayangkan, sekarang Islam sebagai keyakinan dengan pemeluk terbanyak di negeri ini fatwanya malah seolah diperjual belikan. Berlandaskan hadits dan Al- Qur'an petinggi negara menggunakannya sebagai tameng politik untuk merusak reputasi lawan. Apakah sedangkal ini esensi sebuah keyakinan?

Memang, Islam menganjurkan untuk memilih pemimpin dari kaum/hamba yang seiman tetapi apabila pemimpin di negeri ini kini sudah beralih menjadi penguasa? Apa yang bisa kita lakukan? Mengenakan tameng berembel-embel 'FATWA HARAM' untuk memuluskan jalan menjadi penguasa? Apakah Rasulullah mengajarkan kita hal seperti itu? Lengkap sudah imej buruk Islam, bahkan Indonesia di mata negara lain.

Terorisme, faham jihad dengan cara yang salah. Mengapa Saya sebut salah? Sekarang begini, Apakah Rasulullah memerangi ummat dari kalangan Non-Muslim tanpa sebab? Apakah Rasulullah melakukan gerilya untuk membinasakan semua orang kafir? Tidak bukan? Rasulullah menyampaikan Islam, akidah, dan akhlak dengan cara yang lemah lembut dan damai. Rasulullah tak akan berperang kecuali jika memang Ia terpaksa berperang atas nama Allah. Bahkan Rasulullah melakukan perjanjian agar ummat Nasrani tidak disakiti tanpa sebab. Apakah kekerasan itu Islam? Puaskah Anda dicap sebagai teroris? Puaskah Anda merusak nama keyakinan Anda sendiri?

Mungkin sekarang Anda mulai berpikir bahwa Saya sudah terpengaruh liberalisme?
Silahkan berpikir sesuka Anda karena Saya menulis sesuka hati Saya. Saya lebih suka tinggal di negara sekuler, jadi tak seorang pun peduli Apa keyakinan Saya, Siapa Tuhan Saya. Karena menurut Saya, keyakinan, keTuhanan, kebutuhan akan kasih sayang Allah, kegiatan ibadah dan amal Saya adalah hak Allah, urusan vertikal Saya denganNya. Menurut Saya, manusia tak berhak ikut campur mengenai hubungan Saya dengan Allah. Manusia hanya bertugas sebagai pengingat, karena Allah lah Hakim Yang Paling Adil jadi biarkan Allah yang memberi ganjaran atas apa yang telah diperbuat hambaNya semasa di dunia. Jadi, jangan jadikan agama sebagai komoditas, tameng politik, atau pembenaran hal salah yang telah Anda lakukan. Beribadahlah sesuai dengan apa yang telah Ia turunkan.

Lakuum diinukum waliyaddiin~