Psychologic Movies

Kali ini ane mau review beberapa film sekaligus yang memiliki benang merah yang sama. Sebenernya salah satu dari mereka udah ane tonton dua tahun yang lalu tapi engga papa kan kalau ane review sekarang? Jadi ketiga film ini sebenernya hampir sama temanya dengan dua film yang ane review sebelumnya yakni psikologi. Entahlah ane jadi suka mantengin film yang agak berat akhir-akhir ini. Jadi langsung scroll ke bawah ya gan!

  1. A Beautiful Mind
  2. Film ini berkisah mengenai seorang jenius matematika, John Nash yang sedang kuliah di Princeton karena mendapatkan beasiswa. Si jenius ini, setelah berhasil menemukan teorinya sendiri akhirnya masuk ke labrotarium terkenal Wheeler dan mendapat pekerjaan high class yakni menjadi analis kode. John Nash ini adalah seorang freak, tanpa ada yang tahu tiba-tiba Ia didiagnosis menderita penyakit Schizophrenia (memiliki tingkat khayalan tinggi; tidak bisa membedakan yang mana yang nyata dan mana yang khayalan).

    Suatu saat, muridnya Alicia jatuh cinta padanya dan menjadi pendamping hidupnya. Balik lagi, penyakit John Nash ini semakin hari semakin parah dan membuatnya depresi secara pribadi. Sehingga Ia harus diterapi di Rumah Sakit Jiwa, dan dengan sabarnya Alicia setia mendampingi Nash sampai hidup mereka jatuh miskin dan Nash hanya berdiam diri di rumah. Finally, John Nash masih tetap berkhayal tetapi Ia mulai bisa mengabaikan khayalannya. Hidupnya mulai tertata kembali, Ia berhasil menyibukkan diri dan menjauh dari khayalannya. Dan akhirnya dia berhasil mendapatkan Nobel karena telah menemukan teori baru kala Ia berkuliah di Princeton dulu. Menurut ane, film ini bagus. Sayangnya butuh fokus yang berkelanjutan dan durasi yang membuat cukup bosan. Akting dari pemainnya juga bagus, pesannya ngena, sayangnya jika kita kurang fokus maka kita akan dibuat bingung dengan kronologi. Tambahan lagi, ketika menonton film ini kita seolah-olah juga dikacaukan dengan sugesti bahwa kita juga ikut sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang maya.

    BASED ON TRUE STORY
  3. Black Swan
  4. Kalau film ini menceritakan tentang orang yang mengidap kepribadian ganda. Sebenarnya Nina (Natalie Portman) adalah seorang balerina yang lemah lembut dan bisa dikatakan cewek banget. Sayangnya karena ada audisi pementasan "Swan Lake" yang pemeran utamanya (Swan Lake) harus berkepribadian ganda maka akhirnya hal ini juga berpengaruh pada kejiwaan Nina sendiri. Ambisi Nina untuk menjadi pemeran utama terganjal oleh Lily (Mila Kunis) yang lebih cocok berperan sebagai black swan. Sedangkan keperfeksionisan Nina dan kecemburuannya terhadap Lily malah membuat dirinya depresi sendiri dan membuatnya menjadi sering berkhayal. Ia berkhayal seolah dirinya memiliki sisi yang lain, lebih gelap. Karena itu juga Nina mengalami akhir yang tragis meskipun Ia sukses berperan sebagai The Swan Queen (White Swan/Black Swan).

    Film ini berat. Emosi, obsesi, ambisi Natalie Portman sebagai Nina tergambar jelas. Akting Mila Kunis sebagai Lily juga keren abis. Konflik dan ketegangan setiap adegan dihadirkan dengan epik. Tak heran kalau film ini dapat banyak nominasi penghargaan.
  5. I am Sam
  6. Film yang ini mengharukan. Menghadirkan Dakota Fanning dan Sean Penn (Sam). Jadi ceritanya si Sam ini secara sengaja (atau engga sengaja ya?) menghamili seorang gadis, Rita Harrison (Michelle Pfeiffer). Nah gadis itu dengan seenaknya meninggalkan anak mereka, Lucy (Dakota Fanning) kepada Sam. Akhirnya Sam, seorang keterbelakangan mental ini mengasuh si kecil yang mungil. Sam mengalami keterbelakangan mental bahwa dia bersifat seperti anak umur lima tahun sedangkan Ia berusia 40 tahun. Awalnya tak ada masalah mengenai pengasuhan Lucy, karena Sam dibantu oleh tetangganya. Sam berhasil membesarkan Lucy.

    Masalah datang ketika Lucy berusia 7 tahun. Pengadilan Anak Amerika khawatir mengenai pengasuhan Lucy yang bisa dibilang 'lebih dewasa' dari ayahnya sendiri. Pengadilan ini mencoba memberi pendidikan yang lebih layak bagi Lucy dengan memberi pilihan adopsi keluarga lain. Sayangnya, ikatan batin bapak dan anak ini sudah terjalin dengan baik. Baik Sam maupun Lucy tidak ingin kehilangan satu sama lain. Di sinilah titik perjuangan dan konflik film memuncak.

     Ane terharu, seorang anak bisa mengerti keadaan ayahnya yang keterbelakangan mental. Ane engga tahu harus bilang apa lagi. Karena film ini sukses bikin ane mewek.