Review Cerpen : Ibu Pergi ke Laut - Puthut EA


Membaca cerpen ”Ibu Pergi ke Laut”, sama seperti menjadi seorang Dinda yang tak kuasa menahan rindu kepada Ibunya. Cerpen ini, memiliki gaya bahasa yang sederhana tapi terasa dalam. Untaian kata Puthut EA benar-benar menghujam dan menyayat hati. Gambaran keluguan dan kepolosan seorang bocah yang kehilangan Ibunya membuat kita seharusnya merasa bersyukur Ibu kita masih berada di samping kita, menemani kita.

            Gaya bahasa cerpen “Ibu Pergi ke Laut” ini sendiri sebenarnya repetitif, semacam puisi tetapi tetap mengalir dan tidak membosankan. Kadangkala, perulangan kata dalam tubuh cerpen jika tidak diramu dengan baik maka akan membuat pembaca merasa bosan, berbeda dengan cerpen menyedihkan ini. Puthut EA pandai memposisikan dirinya sebagai seorang gadis kecil yang polos yang memiliki mimpi besar yakni bertemu dengan Ibunya dan ingin maju agar Ia bisa bertemu dengan Ibunya. Puthut EA menuliskan barisan kalimat repetitif dengan imajinatif. Sehingga pembaca ikut merasa hanyut dalam gambaran latar belakang dan adegan sarat emosi yang Ia paparkan.
            Puthut EA, selain berhasil menggambarkan kuatnya asa seorang Dinda yang merindukan Ibunya juga sukses menggambarkan kuatnya ikatan bathin antara Ibu dan anak yang jarang ditemui di dunia nyata. Puthut juga berhasil melukiskan dilema yang dialami seorang Bapak yang berusaha menyimpan rahasia kelam dari anaknya, seorang Bapak yang tak sanggup melihat anaknya sedih dan kebingungan, seorang Bapak yang tegar menemani putrinya ketika kehilangan sandaran hidup.
                Jadi, secara keseluruhan Saya suka dengan cerpen ini baik dari segi bertutur terlebih lagi cerita dan penggambaran tokoh. Cerita epik dan sayang sekali kalau tidak cukup diapresiasi. Pesannya adalah bersyukurlah bahwa kita masih mempunyai Ibu, orang yang paling menyayangi kita di samping kita. Masih ada banyak orang kurang beruntung di luar sana yang kehilangan sosok yang menguatkan kita untuk hidup di dunia ini.