Resensi Buku : Mockingjay

Setelah melahap The Hunger Games, tanpa baca Catching Fire terlebih dahulu ane melahap buku ketiganya langsung. Sejujurnya membaca Trilogi Hunger Games tidak sama dengan dengan ketika membaca septalogi Harry Potter yang cerita antara satu buku dengan yang lain tidak terlalu berhubungan. Dalam trilogi Hunger Games, kita dituntut untuk membaca runut karena jika melewatkan buku pertama atau kedua kita tidak akan memiliki pijakan untuk menjelajah di buku yang ketiga. Namun, pada akhirnya ane berasumsi "Ane Paham Cerita Buku ke-2", jadi ane nekat langsung ngabisin buku ketiganya ini. Soh, mari cek feed back ane ke buku ketiga Best Seller ini.

Katniss beruntung selamat dari Hunger Games dua kali tapi itu tidak serta-merta membuatnya aman dari ancaman Presiden Snow dan Capitol. Semua tingkah pemberontakan yang Ia siratkan ketika Ia berada di pertandingan menyulut pemberontakan di distrik-distrik yang diprovokatori oleh Distrik 13 yang sudah bangkit kembali setelah 75 tahun tenggelam karena diluluh lantakkan Capitol. Katniss, akhirnya memutuskan Ia harus melakukan perubahan menjadi simbol dan pejuang untuk memperjuangkan kemerdekaan kedua belas eh ketiga belas distrik yang dijajah Capitol dan berjuang pula untuk menyelamatkan Peeta dari siksaan Presiden Snow di Capitol. Sebelumnya, diceritakan bahwa distrik Katniss ikut dihancurkan setelah keberhasilannya lolos dari kematian Hunger Games ke-75 (di buku sebelumnya, Catching Fire). Katniss berjuang hingga akhir dan berusaha tegar meskipun Ia sempat kehilangan Peeta dengan kepribadian hangatnya yang dulu karena trauma siksaan Capitol, meskipun Ia kehilangan tempat tinggal, meskipun Ia harus menjadi prajurit yang siap bertempur dan mati bersama Gale. Dan semua perjuangan Katniss terbayar dengan ending yang mengejutkan dan tak terduga.

Suzanne Collins membuat buku ketiga lebih rumit dan sulit ditebak. Ada beberapa bab yang diakhiri dengan klimaks yang "wah" dan menegangkan tetapi tidak begitu dengan ending yang disajikan. Ending sempat menguras emosi dan air mata tetapi kurang "greget" kurang dramatisasi dan terkesan terpotong dan datar. Collins juga sukses mengombang-ambingkan emosi pembaca ketika mengikuti kisah cinta Katniss, Peeta dan Gale membuat pembaca susah menebak siapakah yang akan bersama Katniss akhirnya, dan mengapa ending mereka bertiga "Jadinya kok begini?". Romansa dalam buku ketiga ini disajikan lebih apik tanpa menghilangkan esensi "Keras" dan "Kejam" ala pemberontakan dan ciri Hunger Games itu sendiri. Overall, buku ini memang memiliki plot yang licin dan sukses mempengaruhi imajinasi pembaca tetapi endingnya kurang menyentuh klimaks, kurang sedikit lagi pasti membuat pembaca lebih trenyuh dan simpatik.

Jadi, kalau mau membaca Hunger Games jangan lupa baca dengan urut karena antara buku satu sampai tiga tidak ada yang bisa terlewat dan jangan lupa bersiap untuk membaca dalam gaya bahasa yang cerewet. At least, buku ini bagus dan sayang banget kalau dilewatkan.