Ada Apa dengan Rakyatku

Bangsa Indonesia, kelihatannya memiliki lebih banyak sisi minus daripada sisi plus. Dari kacamata siapa? Siapa saja yang sudah kita temui sepanjang kita memijak tanah Ibu Pertiwi. Kalau waktu kita masih duduk di bangku sekolah dasar, kita dijejali dengan perangai bangsa yang sopan nan santun, ramah tamah, dan menjunjung tinggi etika. Selama itu pula kita percaya bahwa bangsa kita baik-baik saja. Beranjak dewasa, ketika deraian pikiran logis dan kritis menghampiri perlahan kepercayaan kita memudar bak kabut pagi yang memudar karena sengatan panasnya matahari.


Bangsa kita dewasa ini, terkenal dengan perangainya yang gemar mengenyangkan perut pribadi. Dimanakah kemudian sifat tenggang rasa dan toleransi yang didengungkan patriot tanpa tanda jasa di masa sekolah dasar? Kita lihat sekarang, kesenjangan terjadi dimana-mana, yang miskin semakin miskin dan yang berkelimpahan semakin berjaya. Tidak ada lagi rasa iba dan peduli terhadap saudara satu tanah air. Indonesia kini disibukkan dengan kegiatan pengayaan diri sendiri.

Kemalasan juga mulai menjalari etos kerja bangsa Indonesia yang terkenal sebagai perajin. Kalau bukan perajin lalu bagaimanakah sebuah Borobudur dapat berdiri kokoh di tengah Magelang? Kalau bukan perajin bagaimanakah rel Anyer-Panarukan terbangun? Masalahnya kini, pekerja kita menuntut lebih banyak hak daripada kewajiban mereka. Meminta ini dan itu sementara sisi produktifitas mereka tidak menghasilkan angka yang signifikan. Berbeda dengan bangsa China, Jepang, dan Indocina yang bekerja tanpa kenal lelah dan menghargai setiap barang buatan tangan mereka. Kemudian kemanakah etos kerja tersebut menghilang? Apakah mereka tertelan oleh gaya hidup hendon ala Barat? Kalaupun begitu, kita masih punya banyak cermin yang tak perlu dibelah untuk mengingatkan kita sekali lagi dimana kita berpijak. Kita masih punya banyak cermin untuk menyadarkan diri kita, siapa kita sebenarnya.

Birokrasi yang rumit juga menjadi salah satu penghambat perkembangan ekonomi bangsa. Selain menjadi penghambat ekonomi, birokrasi yang rumit sedemikian rupa juga menunjukkan betapa bobrok mental bangsa yang tergerus keserakahan dan betapa malasnya orang Indonesia kita. Lalu sampai kapankah kita akan mengusir investor secara halus? Sampai kapankah anak bangsa kita yang bermimpi besar terhambat birokrasi?

Kalau saja kita ingin membentuk bangsa yang lebih baik dan mampu berdiri dengan kaki sendiri, mengapa harus mempersulit masalah yang sederhana? Bayangkan saja, dalam membuat surat perijinan kita harus berkali-kali kembali tanpa adanya sosialisasi persyaratan dan ketentuan yang diatur. Selain rumitnya persyaratan yang harusnya dipenuhi, hasil yang didapatkan tidak secepat yang kita butuhkan dan masih juga mengeluarkan dana "pelicin". Seburuk itukah bangsa kita?

Mari kita buat hal mudah menjadi semakin mudah dan hal yang rumit menjadi sederhana.