Virginitas, Masa Kini

Virginitas, simbol keagungan kaum hawa. Jikalau mereka ditahbiskan menjadi seorang virgin alias perawan maka laki-laki manapun yang menjadi pendampingnya akan berbangga hati. Seorang laki-laki akan merasa sangat bahagia dan bangga jika menikahi wanita yang masih virgin. Virginitas, simbol keusucian kaum hawa dan simbol keagungan akhlak yang mereka miliki. Meskipun belum tentu wanita baik-baik masih virgin pun sebaliknya belum tentu juga wanita nakal dan urakan sudah tidak virgin lagi.


Pertanyaannya sekarang  adalah masihkah virginitas dihargai di era serba modern ini? Dengan derasnya arus invasi negara Barat, ditambah lagi kelonggaran peraturan orang tua, ditambah lagi dengan pendidikan moral yang bisa dibilang sangat minim bagi remaja sekarang. Bahasan edukasi seks, dewasa ini sudah bukan menjadi barang tabu lagi. Sejak anak duduk di bangku sekolah menengah tingkat pertama, seks dikenalkan dengan alasan agar tidak terjadi kenakalan remaja yang menyebabkan hamil pra-nikah. Bagus! Alasan yang masuk akal, tetapi juga berkiasan layaknya pedang bermata dua.

Beberapa remaja intelek menganggap itu hanyalah sebuah pendidikan dan ada waktunya untuk mempraktekkan nanti berbeda dengan beberapa remaja lain yang kurang memahami esensi pendidikan seks kemudian mereka mengambil jalan yang salah tanpa dibimbing. Hal yang kedua merupakan cikal bakal kasus pemerkosaan, kenakalan remaja, dan hamil pra-nikah. Bukan perkara pendidikannya yang perlu kita perbaiki, namun perkara otorisasi pendistribusian alat pencegah kehamilan dan juga derasnya arus teknologi yang memuat perkara negatif termasuk pornografi.

Oleh karena itu, virginitas dirasa bukan lagi sebuah hal yang saklek nan sakral bagi perempuan jaman sekarang. Mereka menganggap, "Kalau lelaki saja boleh bercinta dengan wanita manapun tanpa meninggalkan jejak, mengapa Saya tidak? Perawan mendapat Perjaka begitupun sebaliknya". Dengan prinsip itu pula, penemuan terbaru seperti operasi hymenoplasti menjadi dewa penyelamat bagi kaum hawa. Pro dan kontra penemuan ini menghiasi kasus berharganya nilai sebuah virginitas atau tidak. Seperti yang Saya bahas  di sini, karena itulah virginitas menjadi sesuatu yang bisa dibilang tak penting lagi.

Di antara orang-orang yang mewajarkan sebuah ketidakperawanan, masih banyak juga orang yang menganggap virginitas adalah hal yang sakral dan tidak boleh rusak. Salah satu hal yang mendasari pemikiran ini adalah keyakinan yang dianut masing-masing individu. Ada benarnya, karena keyakinan yang kita anut membentuk kita menjadi manusia bermartabat dan tetap berada di jalan yang benar sesuai bimbinganNya. Masalahnya, bagaimana dengan perempuan yang kehilangan simbol keagungannya karena kecelakaan bukan kesengajaan? Kecelakaan disini dimaksudkan kepada korban perkosaan.

Beratnya derita moral yang mereka tanggung rasanya tak sebanding dengan hukuman yang ditimpakan hakim kepada pelaku perampas harta mereka paling berharga. Kalau boleh bersaran, pelaku pemerkosaan lebih baik dihukum seumur hidup atau kalau tidak dihukum mati saja. Secara tidak langsung mereka turut andil dalam penghancuran masa depan korban, bagaimana tidak hancur jika korban berada di lingkungan yang menganggap virginitas adalah hal yang saklek? Dari sini jugalah timbul alasan kewajaran terhadap ketidakvirginan wanita.

Jadi, setelah sekian lama bernarasi dan bereksposisi masihkah kita menganggap virginitas sebuah keharusan? Jika ya, mari kita obati nafsu yang tak terkendali dan menjaga pandangan. Jika tidak, maka apakah kita akan terus menerus terkungkung dalam kehampaan hidayah perihal menjaga kehormatan seorang wanita? Beberapa pewajaran memang perlu tetapi tidak diperlukan dalam semua hal. Ingat, apapun terjadi karena ada alasan di baliknya. Hargai virginitas dan selamatkan para korban perkosaan.