Hijab, Sebuah Fashion atau Kewajiban?

Fenomena muslimah berhijab semakin ngetrend dewasa ini. Ada baiknya karena para muslimah berbondong-bondong menuju jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Sayangnya, ada beberapa oknum muslimah yang cukup membuat kita merasa miris dan terkejut karena perangai mereka. Beberapa hijabers menyalahgunakan makna menutup aurat dan perintah Allah ke dalam bentuk yang salah, beberapa hijabers juga tidak mengerti betul esensi Hijab yang sebenarnya.

source 9gag

Sesungguhnya, berhijab yang memang kewajiban seorang muslimah adalah hal yang mulia. Bagi mereka yang melaksanakannya, kita patut menghaturkan apresiasi. Tapi, apakah beberapa dari mereka (yang setengah sadar) paham akan makna berhijab sebenarnya? Yakni menutup aurat, mengulurkan selendang menutupi dada, dan menundukkan tatapan? Saya bukan seorang hijabers dan Saya tidak bermaksud menghakimi. Saya hanya mengulas fenomena hijabers setengah-setengah yang beredar di masa kini.

Kenapa Saya menyebut mereka setengah-setengah? Ya, karena mereka berhijab atas dasar niat "Ikut-ikut", terlihat "fashionable" atau mungkin juga mendongkrak "nilai jual" mereka di mata kaum adam. Saya tahu Saya bukanlah orang yang lebih suci dari mereka bahkan Saya mungkin lebih hina karena telah mengulas penampilan mereka. Menurut Saya, seharusnya jika memang kita telah terpanggil untuk berhijab, lakukanlah dengan total. Berhijablah sesuai syar'i. Tidak seperti saat ini, ketika Agama menjadi komoditas dan Hijab menjadi sebuah tren fashion.

Sesungguhnya tak ada yang salah dengan tampil modis dan fashionable, tetapi kita harus memperhatikan aturan yang telah dibuatNya bagaimanapun itu. Kalau masih ingin terlihat fashionable ya lebih baik urungkan saja niat berhijab. Ada yang bilang kalau, "Saya tak ingin berhijab karena panas." kemudian dibalas dengan, "Masih lebih panas api neraka." Masuk di akal. Dan ketika Saya berargumen, "Saya ingin menjadi hijabers ketika hati Saya sudah mantap dan suci (setidaknya lebih alim dan religius)" ada yang bilang, "Mulailah dengan menutup kepala dahulu,". Oh tidak! Saya tidak setuju. Beberapa hijabers bahkan (memang manusia tidak ada yang sempurna dan suci) masih melakukan hal yang sesungguhnya tidak sejalan dengan penampilan HIJAB mereka seperti bergunjing, dengki, dendam dan penyakit hati lain. Saya tahu tidak semua hijabers seperti itu, tetapi ADA! Akui saja.

Sekali lagi, Saya tidak merasa lebih suci. Tapi Saya merasa lebih baik mengenakan kaos oblong oversized dan celana jeans longgar ketimbang berhijab dengan mengenakan hipster shirt dan celana hipster juga. Atau mereka yang berhijab tapi meninggikan kepala mereka sehingga terlihat seperti punuk unta. Atau mereka yang mengaku berhijab tetapi masih menggunakan skinny jeans dengan lengan baju tiga perempat.

Saya tidak menyalahkan saudara muslimah Saya yang berhijab, tetapi Saya lebih respek dengan saudara muslimah Saya yang berhijab sesuai syar'i yang suatu hari nanti akan Saya susul. Saya senang sekali melihat saudara muslimah Saya berhijab sesuai syar'i begitu juga dengan perangai muslimah mereka. Dan bagi kalian oknum hijabers poser dan setengah-setengah, lebih baik tanggalkan hijab kalian daripada mencoreng imej hijabers atau kalian mengubah cara kalian berhijab. Saya tahu, urusan ini adalah urusan vertikal kalian dengan Tuhan, begitu pula urusan vertikal Saya dengannya. Tapi sebagai sesama muslimah, sudah sepatutnya Saya mengingatkan, sekali lagi, meskipun Saya tidak lebih baik dari kalian yang berhijab.

Berhijab boleh, bahkan merupakan sebuah kewajiban. Tetapi alangkah lebih baik berhijab karena niat semata-mata untuk Allah SWT bukan orang tua, tuntutan pekerjaan, mencari jodoh, fashion, atau ikut-ikut.