Review Film : Gangster Squad

Film yang distrudarai oleh Ruben Fleishcer dan skenarionya ditulis oleh Will Beal ini bisa dibilang lumayan karena mengangkat tema Gangster a.k.a Mafia di Kota Los Angeles. Memasang aktor antagonis utama Sean Peann dan artis protagonis semacam Ryan Gosling juga Josh Brolin dan didukung oleh aktris yang namanya baru saja melejit lewat The Amazing Spiderman, Emma Stone membuat film ini tidak serta-merta merangkak di jejeran judul film Box Office lainnya. Penasaran? Terus scroll ke bawah.


Well, kisah sederhana dengan plot yang mudah ditebak. Alkisah Mickey Cohen (Sean Peann) seorang mantan atlet tinju yang kini menjadi dedengkot mafia Los Angeles menjadi kriminal yang tak terkalahkan. Untuk itu Sersan John O'Mara (Josh Brolin) diberi mandat oleh komandannya untuk melakukan operasi melawan organisasi mafia Mickey yang mulai menyerang Los Angeles tanpa mengenakan atribut polisi. Sempat dilarang istrinya, pada akhirnya Sersan John O'Mara beserta Sersan Jerry Wooters (Ryan Gosling) membentuk skuadron berisi anggota polisi loyal lain untuk mengumandangkan genderang perang melawan organisasi mafia Mickey Cohen. Permasalahan tak berhenti sampai di situ hingga Jerry merajut kasih bersama Grace Faraday (Emma Stone) yang notabene adalah wanita Mickey Cohen. Selanjutnya? Yah, Anda bisa menebak sendiri kelanjutan ceritanya atau lebih baik tonton saja filmnya *trollface*


Sebenarnya, film dengan settingan jaman 1940-an atau lebih lama ini menyuguhkan alur standar dan terkesan mudah ditebak. Sayangnya, pembawaan cerita berputar-putar dan konflik yang dihadirkan tidak maksimal sehingga membuat film yang diproduksi oleh Warner Bros ini terasa membosankan. Apalagi, akting yang mampu membuat film terasa hidup hanya terdapat pada satu orang yakni Sean Peann. Sean Peann mampu mengeksplor karakter boss mafia yang kejam dan depresi karena perampokan yang dilakukan oleh skuadron bentukan John. Dari segi yang lainnya, yah sudahlah film ini standar minimal. Ditambah lagi ada pengambilan gambar slow motion yang maksud hati sutradara menambah kesan dramatis dan walhasil memang cukup dramatis, tapi ada satu hal yang begitu ngena di hati. Adegannya sederhana tapi pengolahan emosi dan penyampaiannya cukup kuat. Apalagi keberadaan Emma Stone kurang esensial dalam plot film itu sendiri. Jadi, sesungguhnya film ini tidak termasuk dalam deretan judul film yang akan ane rekomendasikan untuk Anda tonton.

Plot★ ★ ☆ ☆ ☆
Akting★ ★ ★ ☆ ☆
Musik★ ★ ☆ ☆ ☆
Grafis★ ★ ★ ☆ ☆
Overall★ ★ ☆ ☆ ☆