Amoral Berbicara tentang Moral

Sudahkah kita menjadi makhluk beriman yang bermoral? Pertanyaan seperti itu layaknya dilontarkan pada tiap-tiap individu yang menjejak di muka Bumi ini. Sudahkah kita menjadi makhluk yang sesuai dengan tuntunan keyakinan atau setidaknya standar moralitas yang ditetapkan di muka Planet Biru ini?

Melihat kenyataan di dunia, dalam skala kecil adalah sebuah Negara, terutama Indonesia. Nyatanya bagian terkecil yakni individu pun masih belum dapat menyebutkan tingkat moralitas yang dimiliki. Penulis contohnya, belum dapat menyebutkan apakah moral penulis sudah cukup bagus untuk dikatakan bermoral atau amoral. Untuk itu, moralitas bisa dibilang relatif meski sebagian besar orang memiliki standar penilaian tingkat moral yang sama.


Lantas, apa sebenarnya yang ingin diangkat penulis?
Sudahkah kita lihat negara kita berisi manusia-manusia yang menggunakan akal sehatnya dengan bijak? Sepertinya belum. Sudahkah dasar fundamental semacam "Ketuhanan Yang Maha Esa" benar-benar merasuk ke dalam jiwa-jiwa kehausan mereka? Belum. Di negara bersimbol Burung Garuda ini, keyakinan masih kabur dan tidak jelas kemana arahnya. Ditambah lagi, penduduknya mengaku beriman tetapi berkelakuan layaknya mereka tak punya pegangan.

Hanya perlu sebagian kecil kelompok yang disoroti untuk membuktikan hipotesa bahwa penduduk beriman belum bermoral (meski masih ada sebagian penduduk beriman lainnya benar-benar bermoral). Kelompok radikal yang mengatasnamakan Muslim misalnya. Orang-orang yang tidak percaya Tuhan ada akan menertawakan kebodohan mereka dan perilaku barbar yang tidak Islamis sama sekali. Imbasnya apa? Semua Muslim Indonesia dicap sedemikian rupa, miris.

Belum lagi topeng dakwah yang digunakan untuk mengeruk keuntungan. Begitu hebatnya bisnis air liur membuat orang berlomba-lomba menjadi Da'i. Bukan, bukan seperti itu cara berjuang di jalan Allah. Agama kok dibikin komoditas? Bukankah Ia adalah urusan vertikal antara Tuhan dan hambanya? Jika memang berniat menyebarkan dakwah, tak bisa kah dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih tanpa bayaran? Wong ngaji di kampung saja sekarang juga bayar SPP.

Ada juga kelompok lain yang dengan seenak jidatnya memburu hewan baik itu gajah, ikan hiu, macan atau orang utan. Bukankah mereka memiliki keyakinan dan tentu saja keyakinannya tak akan membiarkan mereka berlaku keji pada binatang bukan? Lantas kemana pedoman keyakinan yang mereka genggam? Tidak salah bila orang-orang yang tidak percaya Tuhan kembali tertawa bukan?

Sejatinya, mau berTuhan atau tidak, mau berkeyakinan atau tidak, moral itu selalu ada. Dia tidak tertulis tetapi tertanam pada diri setiap individu. Mau dia berkeyakinan tapi tak bermoral itu bukan salah keyakinannya tetapi salah individu yang mengesampingkan moral yang telah ada dalam dirinya. Moral itu bukan satuan yang mengukur kita ini kafir atau murtad atau mukminin. Moral adalah suatu perekat antara sesama manusia, penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat (bagi yang percaya hidup setelah mati), dan jembatan kasih antara manusia dan makhluk lainnya.

Sebelum negara kita ini semakin bobrok karena krisis moral, maka mari bersama-sama memperbaiki moral demi Bangsa Indonesia lebih kuat untuk masa depan.

P.S : Tulisan ini dibuat tidak bermaksud menyinggung kelompok atau penganut keyakinan lain melainkan hanya sekedar pengingat bahwasanya Tuhan lebih memperhatikan moralitas yang kita miliki. Selain itu penulis juga belum bermoral sepenuhnya, hanya berbagi pikiran dan barangkali bisa memperbaiki moral bersama-sama pembaca.