Singa Betina di dalam Rumah

Ibu Saya lahir pada tanggal 29 Juli empat puluh tiga tahun silam. Karena beliau lahir pada tanggal 29 Juli, maka zodiak yang menaunginya adalah Leo (zodiak bersimbol singa). Tak heran juga karena Ibu saya memang setangguh singa dan sama seramnya dengan singa. Entah kebetulan atau memang ditakdirkan demikian, saya juga memiliki zodiak yang sama dengan Ibu, singa. Dan rupanya kami berdua sudah dianugerahi bakat kepemimpinan atau mungkin kecenderungan sifat pemimpin saya, saya warisi dari Ibu.
Menjadi dua orang dengan sifat yang hampir sama, sama-sama keras kepala, gengsi tinggi dan egois membuat kami lebih sering tak sejalan. Ibu yang terbiasa mengomel dengan nada tinggi seringkali saya balas dengan nada tinggi pula sehingga di rumah Ayah bagai memelihara dua singa betina.

Pada faktanya, Ibu saya tidak seburuk itu. Beliau lah yang menanamkan idealisme dalam diri saya, apalagi yang berhubungan dengan isu politik, kenegaraan, dan pemerintahan serta tetek bengek lainnya. Jujur, saya tidak terlalu doyan politik karena menurut saya politik itu berisi orang-orang munafik dan mau menang sendiri, tidak royal dan berbakat korup. Ibu saya memiliki pandangan berbeda dan mulai menjejali saya dengan virus-virus ilmu politik. Terpengaruh? Ya, sedikit.

Jejalan isu politik yang didengungkan Ibu saya membuat saya sedikit demi sedikit sadar, bahwa saya sebagai generasi muda haruslah tidak apatis apalagi kepada negara sendiri. Lantas dengan itu apakah saya terpengaruh untuk menjadi seorang politikus dan duduk di Senayan? Oh sama sekali tidak! Saya ingin mengubah kebobrokan moral petinggi negara ini dengan mulai membenahi diri sendiri. Untuk itu juga, saya bercita-cita menjadi seorang dosen.

Terima kasih Ibu yang sudah membuka mata saya, dengan menjadi seorang dosen yang terlibat dalam dunia perkuliahan dan bertemu bibit-bibit pemimpin negara generasi berikutnya saya bisa mengarahkan anak-anak lugu itu ke jalan yang benar. Jalan yang benar seperti apa? Mengarahkan idealisme mereka ke arah yang lebih tepat seperti yang Ibu lakukan pada saya. Idealisme mahasiswa tak selalu harus ditunjukkan lewat demonstrasi di depan gedung DPR maupun protes dan arak-arakan sepanjang jalan bukan? Fenomena demonstrasi semacam ini mengganggu ketertiban umum dan bisa juga saya bilang para mahasiswa protestan tersebut cuma omdo alias omong doang. Coba saja lihat ketika tes CPNS dibuka, ribuan dari mereka berbondong-bondong melamar, lantas setelah jadi CPNS mereka bekerja leha-leha, gitu kok protes?

Ibu saya yang segarang singa pun bisa jadi lembut ketika memberi support pada saya. Apa contohnya? Saya sering mengalami kegagalan, gagal ini gagal itu, gagal terlibat menjadi calon pegawai pemerintahan, gagal meraih mimpi saya. Ibu selalu ada untuk saya, ibu pernah berkata "Kamu itu memang punya jalan yang selalu bagus, hanya saja mungkin waktunya belum sampai buat kamu". Saya terharu ketika Ibu menyemangati saya seperti itu. Belum lagi ketika Ibu saya mendukung saya untuk mengembangkan bakat dalam diri saya, bakat menulis maupun tari misalnya.

Meski Ibu saya gahar, Ibu punya cara sendiri untuk menyiapkan anaknya menjadi calon pemimpin gebrakan baru di negara tercinta ini. Terima kasih Ibu.