Bukan Adu Domba, Hanya Bicara

Pemilihan presiden masih kurang satu bulan lagi akan tetapi persaingan kedua calon begitu panas. Sebenarnya yang membuat keadaan memanas adalah pemberitaan media dan adu argumen simpatisan kedua calon di sosial media. Ane sebagai rakyat Indonesia kadang-kadang merasa risih dengan berbagai ketimpangan dan argumen yang terlontar di sosial media, seolah tak terkontrol dan berlebihan. Ane memang tidak mengikutsertakan evidence untuk mendukung argumen ane karena ane sudah tak percaya lagi pada media. Terserah pembaca mau menyimpulkan tulisan ane seperti apa, yang jelas ane hanya berbagi pikiran agar pembaca tidak terjatuh terlalu jauh, agar kita sama-sama berpikir untuk Indonesia lebih baik. Dan apabila ada tulisan yang menyinggung harap dimaafkan karena ane adalah orang awam.

Ane sendiri menilai kedua calon presiden bukanlah orang yang benar-benar tepat untuk mengisi jabatan kosong pemimpin negara sepeninggal Pak SBY. Prabowo adalah orang yang menurut saya licik dan keras, saya sebetulnya kurang suka Prabowo. Jokowi adalah media darling dan tukang pencitraan, saya juga tidak suka dengan figur Jokowi. Lantas siapa yang akan ane pilih? Itu urusan ane.

Tulisan ini turun tidak untuk mengadu domba kedua kubu atau mengajak pembaca mendukung Prabowo atau menginsepsi pembaca untuk golput. Tulisan ini murni turun karena ane sendiri sudah sangat muak dengan segala macam puja-puji terhadap Nabi "cendekiawan dan orang cerdas lainnya" Jokowi serta serangan bertubi-tubi tanpa henti pada Prabowo. Belum lagi perang argumen SARA yang sungguh membuat ane tergelitik sekaligus begidik, kok bisa saling hujat sampai sebut-sebut SARA saking fanatiknya dengan calon. Hanya pilpres begini saja kok bisa memecah belah kita. Separah-parahnya rivalitas Pak SBY dan Bu Mega dulu tak pernah saya temui masyarakat Indonesia terbelah menjadi dua kubu yang saling bermusuhan begini. Apa kita mau perang saudara terjadi?

Sejak kedua calon diusung menjadi capres di negeri ini, Prabowo terus dibombardir oleh pemberitaan miring media dan yang terutama adalah kasus penculikan aktivis pada masa ORBA. Belum lagi pemberitaan negatif lainnya seperti Prabowo bukan WNI lah, Prabowo adalah pengusaha bangkrut lah, Prabowo duda lah, Prabowo ditebengi oleh FPI lah, kubu Prabowo diisukan membakar posko kampanye Jokowi lah dst. Ane bukan timses Prabowo, hanya saja pemberitaan negatif tentang Prabowo telah menghancurkan imej Prabowo di depan khalayak ramai.

Prabowo memang bukan figur yang perlu dibela, dia bisa membuktikan sendiri bahwa dia mampu. Dia tidak menyerang balik atau melontarkan isu tak sedap mengenai Jokowi. Malah Prabowo dibilang capres omdo dan ditebengi asing. Halo bapak ibu saudara sekalian, ingatlah bahwa Prabowo dulu pernah menjadi jenderal termuda di Indonesia atas kecerdasannya menyusun strategi perang bukan karena dia menantu Pak Harto. Mengenai kebenaran penculikan aktivis pada masa ORBA sendiri kita juga tak bisa sama-sama membuktikan. Apapun yang dikatakan manusia tidak dapat dipercaya sepenuhnya karena lidah manusia bisa saja terpelintir.

Jokowi adalah sosok yang dicintai media dan sebagian rakyat bermula dari penggunaan mobil esemka saat dia menjabat walikota Solo. Ane sempat bersimpati ke beliau sebelum tahu ternyata semua kesederhanaan dan kepolosannya hanyalah pencitraan belaka. Well, lebih tepatnya sebelum menyadari bahwa Jokowi adalah kutu loncat. Salahkah menjadi kutu loncat? Saya tidak menilai Jokowi salah atau tidak hanya saja tindakannya kurang tepat. Masyarakat terlalu terburu-buru menilai kenaifan Jokowi akibat kicauan media. Bahkan mengurus Jakarta saja masih belum diketahui hasil akhirnya. Tak bisakah kita menunggu hingga lima tahun ke depan untuk menilai kinerja Jokowi yang benar-benar BEKERJA.

Pertanyaan ane adalah apakah blusukan sama dengan kerja? Well, jika itu jawaban saudara-saudara sekalian berarti memang blusukan adalah kerja. Padahal menurut ane kerja dalam konteks sebagai seorang pemimpin tidak hanya blusukan (dengan membawa media agar diberitakan bahwa beliau pemimpin yang bersahaja). Kalau tujuan Jokowi blusukan adalah mendengar keluh kesah rakyat dan memperbaiki masalahnya, itu bisa kita sebut kerja. Nah sekarang apakah blusukannya Jokowi membuat harga bahan pokok di pasar turun? Apa blusukannya Jokowi membuat rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan kini hidup sedikit di atas garis kemiskinan? Mari kita renungkan.

Yang kedua, hal ini yang tidak mau saya akui dari Jokowi, apabila dia terpilih menjadi presiden bukan dia yang benar-benar memegang kendali pemerintahan. Partai yang mengusungnya, IMHO, memanfaatkan popularitas Jokowi seorang media darling sebagai penyedot simpatisan, sedangkan pemegang kendali utama tetaplah Bu Ex-Presiden. Sama dengan nol! Kita tidak lagi mempercayai Bu Ex-Presiden tetapi kita memilih bonekanya, jangan marah kalau aset negara kita dijual lagi.

Kedua calon sebenarnya sama-sama ditebengi oleh kapitalis. Tak bisa dipungkiri tidak mungkin (sulit sekali) bagi negara kita untuk move on dari ekonomi kapitalis. Orang boleh saja memiliki idealisme bahwa ekonomi negara kita harus ekonomi syariah, tapi nyatanya untuk meraih itu kita butuh lebih dari satu abad atau ketika rakyat Indonesia semua harus menjadi muslim. Kedua calon juga memiliki track record yang ane bilang sama-sama buruk, yang satu tukang pencitraan dan berlagak plonga-plongo yang satu (kata orang-orang) penculik.

Ane bisa ditahan karena menurunkan postingan ini, tapi ane ingin membuka pikiran pembaca sekalian. Setidaknya mari kita pilih yang paling sedikit mudharatnya. Menilai orang hanya karena pemberitaan media itu gampang, menilai orang hanya karena penampilannya "sok-sok" bersahaja itu mudah sekali, menilai orang karena kasus yang mengekornya justru hal yang tidak sulit. Kita yang menentukan nasib kita lima tahun mendatang, sudah puaskah kita hanya dengan memilih pemimpin yang menyerahkan pekerjaan pada wakilnya dan memilih klayapan? Atau kalau masih bingung, mari kita istikharah saja (bagi yang Musllim). Dan yang perlu dicatat, cermati mana yang direkayasa mana yang biasa-biasa saja. Kalau bisa mari kita hentikan saling hujat dan tuduh antar calon di sosial media, dibaca orang gak enak. Belum lagi kalau memuja-muja calon sampai terlalu fanatik, gak pantes. Toh kita sama-sama tidak tahu kebenarannya, yang tahu kebenarannya hanya pelaku, Tuhan dan media (sebelum dimanipulasi). Toh kalau kita membela kepentingan rakyat, kepentingan rakyat yang mana yang kita bela? Memampukan diri sendiri untuk memberi makan orang lain saja belum bisa kok mau membela kepentingan rakyat.