Gerilya 7 Tahun : Dari Jaman Jahiliyah hingga Naudzubillah

Jaman Jahiliyah

It's been 7 years I became a Kpopers. Semua hal ini dimulai ketika SM entertainment menyerang berikut juga demam internet yang dulunya merajalela lewat warnet. Sebenarnya tidak ada bertanya awal mula diriku menjadi Kpopers, tapi postingan ini hanya sekedar curhatan gerilya malang melintang di industri musik Korea Selatan itu. #PrayForKorea karena ketegangannya dengan negara saudaranya Korea Utara yang tiada henti. Kalau saja komunisme dan liberalisme dapat hidup berdampingan, mungkin hingga saat ini Partai Merah yang dilarang oleh TAP MPR itu masih ada. Kalau saja komunisme tidak seekstrim itu (ingat tragedi G30S dan PolPot #jasmerah). Maka jangan sampai lagi ada pertumpahan darah, fitnah besar-besaran, dan kebiasan fakta yang telah diputar balik sedemikian rupa untuk menghidupkan lagi hantu Komunis. Sebenarnya tak ada masalah dengan Komunisme, yang bermasalah adalah metodenya PEMBUNUHAN. Sudahlah, postingan ini bukan postingan berat di pagi hari dengan mambahas dinamika sosial politik dan sejarah yang menggelayuti masa lalu suram milik bangsa ini. End of story.

Love like Oxygen
Love like Oxygen
Sanso gateu neo.

Lagu pertama milik SHINee yang menghantarkanku menjadi fangirl stalker tingkat asisten dewa internet tujuh tahun yang lalu. Lima orang pemuda dengan gaya rambut polem (poni lempar) mengenakan celana kulit ketat, tanktop colorful dipadukan kemeja putih terawang menari-nari. Suara mereka indah, kuakui itu. Tujuh tahun lalu Bahasa Korea terdengar seperti bahasa Thailand yang sesungguhnya berbeda 180 derajat. Lima orang pemuda dengan satu orang yang paling menawan dengan suara serak-serak basah dan mengenakan tank top pink, dia adalah Key bias pertamaku ketika terjun di dunia Kpop. SHINee merupakan boyband pertama yang membuatku jadi fangirl mereka kurang lebih selama 5-6 tahun sebelum akhirnya pindah menjadi EXO-L (yang notabene masih satu manajemen).

Jaman Naudzubillah

SHINee diperkenalkan oleh Mami, teman wanita yang dulunya juga bukan Kpopers tapi semenjak SHINee debut dia juga jadi Kpopers dan lebih hobi koleksi KDrama ketimbang diriku. SHINee diperkenalkan olehnya kepada kami, Aku, Galuh, Kirana, dan Icha yang pada akhirnya kami berlima berperan sebagai bias masing-masing. Tak lama, butuh beberapa bulan saja akhirnya aku pindah bias pada Minho dan bertahan cukup lama dan hal itu perlu diapresiasi karena kesetiaan tiada tara sebelum Kyungsoo datang menyerang.


Flaming Charisma Minho
Beolgut kariseuma Minho
mampu mengalahkan seorang Almighty Key yang lama-lama terlihat lembeng di reality show mereka, SHINee Noona. Yah meski begitu, Key selalu memperlakukan wanitanya dengan romantis dan membuat fangirlnya klepek-klepek. Dalam reality show ini, anak-anak SHINee bermain pure dan polos, tidak ada kejaiman di antara mereka. Entah mengapa reality show ini begitu asli dan tidak palsu seperti reality show EXO (objektif bukan subjektif). Tapi tetap saja, hormon seorang fangirl hampir sama dengan hormon percintaan yang tak akan bertahan lama.

Seiring berjalannya waktu, SHINee yang berisi bocah-bocah muda 90 liner mulai beranjak dewasa. Seiring waktu berlalu, Taemin menjadi semakin cantik dan berpotensi. Minho semakin memperbaiki kegantengannya (yang sebetulnya tak perlu diperbaiki karena dari sononya dia sudah ganteng), dan Key menjadi semakin hipster. Ketika SHINee muncul dengan Lucifer, dimana Onew belah tengah, Jonghyun pamer punggung seksi dan Key mencukur botak setengah rambutnya I was just like Alright, never mind

Tidak ada hal yang paling dinanti except your favorite boyband comeback with different concept.

Aku turut senang ketika SHINee juga debut di Jepang, perjalanan karir yang bagus dan semakin menanjak. Aku senang ketika Minho mengembangkan potensinya di dunia akting ketimbang sekedar menjadi pagar bagus sebuah boyband (tapi kini segala kelebihan Minho tergantikan sudah oleh Kyungsoo), mianhae yo. Berkecimpung di dalam sebuah fandom selama 5-6 tahun dan mengoleksi segala macam MV, facts and figures, dan bergiga-giga koleksi foto mereka tidak menjaminmu akan selalu setia pada grup itu. Memang aku ini tipe fans yang gak modal, gak effort dan gak usaha. Terbukti meski sudah ngefans SHINee selama beberapa tahun dan menginginkan SWC INA, aku tetap saja tidak datang ke konser mereka, atau membeli album baru mereka, atau bahkan ikut gathering fandom mereka (lokal maupun nasional) #nuffsaid. Fans macam apa aku ini? Mengaku freak, hafal semua koreo dan lagu di luar kepala but do nothing for them, so don't count me as a loyal fans, mianhae.

I do fangirling in a very different way.
Terus terang aku juga engga mengikuti SHINee saja, saudara satu manajemen mereka juga aku ikuti (SM biased) bahkan manajemen sebelah juga seperti Big Bang, 2NE1, T-Ara, Miss A dll dll. Salahkah aku menjadi seorang fangirl yang mengklaim dirinya setia tapi tidak mendukung mereka sepeser pun?

Tapi kini keadaan telah berubah. Dengan catatan cara fangirling-ku yang masih tetap sama. Sejak SHINee menelurkan single Everybody, entah mengapa hormon fangirl terhadap mereka berkurang drastis bahkan menghilang. Sebab SHINee semakin ke sini semakin aneh dan membuatku semakin ilfil. Pada akhirnya aku hiatus, bertobat dari segala imajinasi liar dan kelalaianku menjadi seorang fangirl. Seperti yang kutulis dalam postingan EXO-L, aku berpindah-pindah, tak memiliki haluan, berubah arah dan terombang-ambing bagai butiran debu tanpa fandom. Hingga aku kesasar ke belantara AKB48.

Tetap, tak berubah.
DAN PERCAYALAH!! Sebelum aku mencintai Kyungsoo seperti saat ini aku ilfil padanya karena dia mirip Morgan. MORGAN WHAT THE FUCK ARE YOU DOING IN KOREA!?

Sebenarnya apa keuntungan menjadi seorang fangirl? Mendapatkan cinta dari bias kah? Berjodoh dengan bias kah? Menjadi bagian dari hidup bias kah?
Bukan kita yang menjadi bagian hidup mereka (meski kemungkinannya ada 0.00000001%) tapi merekalah yang menjadi bagian hidup kita. Fandom, bias, dan kegilaan fangirl membentuk diri kita saat ini. Kita ingin menjadi seperti apa? Kita bisa bercermin pada bias, secara tidak langsung bias memberi kita contoh nyata bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Berapa lama bias menjadi trainee hingga mereka dikenal di seluruh pelosok dunia? Berapa lama usaha mereka dan manajemen mereka hingga Korea Selatan di kenal karena industri musik mereka? Berapa lama bias berlatih hingga mampu menyuguhkan pertunjukan fenomenal di setiap konsernya? Bias adalah contoh nyata bahwa kita sama-sama manusia, jika kita mau berusaha kesuksesan akan datang dengan sendirinya.

Bias mungkin cinta pertama kita atau cinta terakhir kita, tapi bias juga seorang pelarian. Bias adalah seorang pelipur lara. Ketika kita depresi akut, atau memiliki problema romansa (jomblo menahun) kita bisa menggunakan bias sebagai tameng kita. Bilang saja, aku punya pacar dan dia sedang sibuk bekerja (sibuk konser, rekaman, dan lain sebagainya). Pacarmu di mana? di Korea .... #okeinigaring
Tapi cara ini terbukti ampuh bagi penulis sebagai seorang pejuang LDR yang sering miskomunikasi. Di saat hubungan tidak berjalan mulus, bias tempat pelarian penulis untuk mencurahkan kasih sayang, amarah serta kesedihan. Hanya dengan melihat senyum bias, segala keluh kesah di hati sekejap menghilang.

Bias adalah sumber inspirasi. Dari seorang bias kita bisa mereka berbagai macam skenario yang bercokol di otak kita. Bias dapat menjadi sumber penghasilan apabila kita dengan kreatif mampu mengelola potensi fangirl dalam diri kita, menjadi penulis misalnya. Tak sedikit jumlah fan fiction yang diterbitkan dan bertengger di toko buku. Oleh sebab itu, butuh alasan manalagi bagi kita untuk mendustakan kenikmatan fangirling ini? Apakah dengan menjadi fangirl lantas kita berdosa karena kita membayangkan bias beradegan panas dengan sesama member?

Semoga hubungan fangirlingku dengan EXO akan bertahan lebih lama dibanding sebelumnya. There's just too much memories remain in my mind.