Cognitive and Emotional Bias

Ketika kamu tahu pacarmu sudah engga lagi nyaman sama kamu atau sebaliknya kamu merasa gak nyaman dengan sikapnya tapi kamu masih maksa bertahan dengannya itu namanya cognitive dissonance bias. Dimana kamu gak bisa menerima hal yang kontradiktif dengan pikiranmu. Kamu ingin bertahan, di sisi lain kamu tersakiti.

Ketika kamu tahu semua orang akan menjawab untuk PUTUS SAJA kalau kamu tanya haruskah aku bertahan dengannya? Tapi kamu malah ngotot untuk mendengar jawaban BERTAHAN SAJA itu namanya confirmation bias. Dimana kamu terpaku pada paradigmamu saja dan mengabaikan informasi kontradiktif yang kamu dapat dari orang lain.

Ketika kamu tahu kamu terlalu meremehkan masalah yang terjadi dalam hubungan kamu dan kamu berpikir bahwa kamu bisa memecahkan karena persoalan yang kamu hadapi sama dengan persoalan yang dulu itu namanya representativeness bias. Kamu terlalu sombong untuk mencari jalan keluar baru dan lain, kamu terlalu takut untuk mencari cara baru mengatasi masalahmu.

Ketika kamu tahu sebenarnya hubungan kamu sudah hancur, bobrok, gak bisa dibenerin tapi kamu malah lebih suka bertahan dan gak mau keluar, gak mau memulai hidup baru, takut memulai hubungan baru itu namanya Regret Aversion bias. Kamu keenakan di zona nyaman dan gak mau berkembang mencari penyembuhan.

Ketika kamu tahu bahwa sikap pacarmu udah beda dan kamu ingin dia bersikap seperti dulu tapi dia tak bisa tapi kamu menganggap seolah itu baik-baik saja itu namanya Loss aversion bias. Kamu udah hilang kesadaran. Kamu lebih suka rugi daripada beruntung. Kamu terlalu lama menyimpan hal-hal negatif dan terlalu cepat membuang hal-hal positif.

Ketika kamu tahu kamu seharusnya mengakhiri hubungan kamu tapi kamu tetap mencari alasan untuk bertahan dan memperbaiki hal yang tak bisa lagi diperbaiki itu namanya Illusion of control. Kamu terlalu sombong untuk menganggap dirimu bisa mengendalikan keadaan dan memperbaikinya.

Ketika kamu tahu kalau kamu dan pasanganmu gak akan bisa bersatu tapi kamu berpikir bahwa kamu tercipta untuk bersama itu namanya Hindsight bias. Ramalanmu engga pernah tepat tapi kamu seolah-olah bisa meramalkan masa depanmu dengan benar dan tepat.

Jadi kamu yang mana?