Mencoba Menjadi Invisible

Kenapa postingan ini muncul? Tentu saja segala postingan yang ada di blog ini muncul karena timbulnya ide penulis. Latar belakangnya macam-macam, dari berita terkini atau dari renungan penulis atau bisa juga dari percakapan penulis dengan seorang teman. Sejatinya ide muncul dari berbagai tempat tanpa tahu waktu. Begitupun tulisan ini yang muncul berkat perbincangan penulis dengan seorang teman mengenai apa yang penulis rasakan di usia dewasa muda. Dan untuk tulisan kali ini, lagi-lagi penulis menyinggung mengenai kehidupan pribadi penulis. Hak Anda untuk membacanya atau tidak.

Well, kenapa judulnya "Mencoba Menjadi Invisible"? Apakah itu berarti penulis berencana untuk menciptakan Jubah Gaib seperti milik Harry Potter agar bebas berkeliaran kemana-mana tanpa terlihat? Apakah itu berarti penulis berencana untuk mengambil jurusan fisika demi meneliti partikel invisible? Bukan, yang dimaksud invisible di sini adalah menjadi seseorang yang kurang diperhatikan oleh lingkungan sekitar, kurang mencolok, bahkan seringkali kehadirannya tak dianggap. Loh kok?

Penulis sempat memikirkan salah satu firman Allah yang kurang lebih menyatakan bahwa "Tidaklah penting bagimu untuk dikenal di muka bumi, akan lebih baik bagimu untuk dikenal penghuni langit." Mungkin bunyinya tidak tepat seperti itu tapi firman ini berhubungan dengan Faiz Al Qurni (insya Allah). Faiz Al Qurni merupakan seorang yang beriman yang tak dikenal oleh penduduk Bumi tapi ajaibnya dia dikenal dengan baik oleh penghuni langit, siapa? Malaikat. Dia dikenal oleh penghuni langit sebab akhlak dan ibadahnya yang berbeda dengan kebanyakan manusia di muka bumi. Sementara dia tak dikenal di Bumi ini karena yah dia memang manusia biasa yang cenderung sederhana, tak punya jabatan atau harta.

Ketika dipikir kembali, memang apa sih yang bisa kita banggakan dari apa yang kita dapat di dunia ini? Sekedar puja dan puji dari sesama manusia kah? Semakin dipikir, pujian itu akan membuat kita lupa hakikat kita menjadi makhluk di dunia ini, untuk kembali kepadaNya, untuk memohon ridhoNya, sebagai wakilNya untuk memelihara alam semesta. Kita lupa bahwa dunia ini tidak kekal dan pujian itu juga tidak kekal. Semakin dipikir juga, pujian di dunia ini akan diberikan berdasarkan harta, jabatan, kepintaran, rupa, dan segala sesuatu yang tidak kekal juga. Semakin dipikir, bukankah semakin sia-sia kita membanggakan semua itu? Hal-hal sebelumnya yang telah disebutkan hanyalah perhiasan dunia (kok jadi dakwah sih?).

Bukan, postingan ini bukan dakwah. Sebab penulis sendiri juga masih jauh dari kebaikan dan hanya bisa berbagi sisi kehidupan lainnya #tsaaah. Jadi, berangkat dari firman Allah dan perenungan sedemikian rupa, penulis yang selama ini visible (terlihat; menonjol; populer) menjadi agak risih dengan sifat bawaan ini. Bukannya mau menyombongkan diri, penulis memang cukup dikenal oleh teman-teman penulis karena aktif berorganisasi, cukup pandai, dan cukup aneh sejak masa sekolah. Dan penulis mengakui bahwa penulis menikmati pujian dan kepopuleran penulis sendiri.

Namun belakangan ini penulis merasa bahwa itu semua sia-sia dan tak berguna. Penulis sadar bahwa segala perhatian itu nantinya akan hilang juga apabila penulis tak mampu memenuhi ekspektasi orang lain terhadap penulis. Bukankah hidup seperti itu tidak bebas? Bukankah lebih baik menjadi seorang yang invisible? Bukankah lebih baik orang hanya mengenal kita sebatas nama saja?

Sebelum masuk bangku perkuliahan, penulis tergolong orang yang ekstrovert dan memiliki kemampuan sosial yang tinggi. Oleh sebab itu (mungkin) penulis menjadi sosok yang visible dan dikenal banyak orang. Namun, beberapa waktu terakhir penulis mengambil tes MBTI dan hasil yang didapatkan adalah INTP. Penulis sejujurnya tidak terlalu introvert, lebih cenderung ambivert. Penulis adalah orang yang mudah sekali menceritakan rahasia segelap apapun pada orang yang dekat dengan penulis namun agak menjaga jarak pada orang yang baru penulis kenal atau tidak terlalu dekat. Sebetulnya juga penulis tetaplah orang yang ceria, hanya saja saat ini penulis sedang bekerja keras agar tidak terlalu ekspresif kecuali di hadapan orang-orang tertentu. Sebab penulis ingin menjadi orang yang invisible, dimana kehadirannya tak berarti signifikan bagi lingkungan penulis kecuali keluarga dan teman dekat.

Seperti perbincangan yang dilakukan penulis dengan teman penulis, dia bersyukur menjadi orang yang invisible karena ada atau tidaknya dia pun tidak berpengaruh signifikan dalam sebuah kelompok. Berbeda dengan penulis yang keberadaannya akan terasa signifikan, sekali penulis tidak ada dalam kelompok tersebut maka cap "pengkhianat", "membelot", "berpihak" akan dengan mudah disandang penulis. Sebetulnya penulis mulai berpikir untuk menjadi invisible di masa kuliah. Penulis menarik diri dari lingkungan pergaulan ketika masih Maba. Penulis lebih suka kemana-mana sendirian dan duduk sendirian di bangku paling belakang. Meski demikian, menurut teman penulis, masih saja penulis terlihat menonjol karena kekritisan penulis. Yah memang tak bisa dipungkiri, penulis tergolong orang yang kritis dan ingin tahu. Kegemaran bertanya penulis di dalam kelas membuat penulis dikenal (lagi) oleh teman sekelas. Jadi usaha penulis untuk menjadi invisible gagal.

Tujuan sebenarnya menjadi orang yang invisible adalah untuk mengukur seberapa tulus orang-orang yang mengelilingimu. Bagi orang invisible, teman yang mereka punya tidaklah banyak namun orang-orang yang ada bagi mereka merupakan orang-orang yang benar-benar tulus dan jujur. Berbeda dengan orang-orang visible yang memiliki banyak rekanan namun rekanan itu hanya sekedar menjilat orang visible atau mendapatkan sedikit cipratan ketenaran atau mendapatkan keuntungan tertentu (persis seperti orang-orang pemerintahan negara ini). Bukankah orang-orang yang mengelilingi orang visible itu cenderung tidak tulus? Tidak semua orang yang dekat dengan orang visible seburuk itu, akan tetapi motif orang-orang yang mendekati orang visible kentara jelas seperti itu. Sama seperti yang penulis alami, jadi penulis sekarang cukup bisa membedakan mana orang yang tulus pada penulis mana yang sekedar menjilat atau mendapatkan keuntungan.

Namun apapun yang terjadi di dunia ini begitulah terjadinya. Sifat manusia seburuk apapun itu juga manusiawi. Semua tergantung pilihan kita, seperti penulis yang memilih untuk mencoba menjadi seseorang yang invisible.