Cuma Pengen Cerita: Mampir Makan Siang di Dak-Galbi Malang

Source: twitter
So, I'm gonna tell you about one of the most expensive Korean food restaurant in town! First of all, my hobby is culinary and I delighted to taste Asian cuisine, especially Korean recently. Well, it's not that difficult to find this restaurant. You can find Dak-Galbi Resto and Cafe on Jalan Buring, 37. It's behind the Ijen Catholic Church near Graha Cakra hotel. If you took Kayutangan route, just follow the road and you can find this restaurant right at the left corner of Buring cross-junction. If you took Ijen route, turn left when you reach Gajayana cross junction and go straight about 500 meters. Actually I don't have intention to write this post in English so let's just go with Bahasa.

For me, this restaurant served the best Korean food in town even though it is also the most expensive one. Sebetulnya tak banyak ditemui kedai makanan Korea di Malang Raya ini, kurang lebih terdapat lima restoran dan aku baru mengunjungi 3 di antaranya. Dari 3 restoran yang sering kujadikan tempat nongkrong dan icip-icip itu, Dak Galbi menyajikan makanan Korea yang telah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.

Dak-Galbi Bibimbap
Source: Facebook
Kemarin aku memesan menu kesukaanku, yakni Bibimbap (nasi yang dicampur dengan sayur mayur dan diberi saus gochujang dan telur), Korean Chicken Wings Spicy (tentu saja karena aku suka yang pedas-pedas), dan Green tea frappe. Bayangkan, sajian makanan hanya untuk satu orang saja hampir Rp 100.000! Mahal kan? Jika dibandingkan dengan Urban Pop atau Kedai Seasoning, harga itu sangat tidak sehat bagi mahasiswa. Oh ya karena kemarin keburu lapar, aku tidak mengambil foto dari pesananku sehingga aku mencomot foto-foto di bawah ini dari Google.

Bibimbap. Tak jauh beda dari sajian Bibimbap kedai seasoning yang berisi sawi, jamur, kecambah, wortel, daging, dan telur (matang, karena aku tidak suka yang mentah atau setengah matang) disertai saus gochujang. Tapi entah kenapa aku lebih suka Bibimbap yang disajikan oleh Dak Galbi. Pertama, karena Bibimbap disajikan dalam hot pot yang benar-benar masih panas. Kedua, saus gochujangnya enak bangeeeeett~. Saus gochujang milik Dak Galbi sesuai dengan rasa yang kubayangkan: pedas, manis, sedikit asam, dan pas ketika dicampur dengan nasi, teksturnya juga sedikit kasar. Berbeda dari saus gochujang Kedai Seasoning yang dingin (terasa nyess di lidah) dan cenderung berasa jahe atau something like that. Bibimbap ini benar-benar membuatku ingin kembali ke Dak Galbi dan memakannya sekali lagi. Sayangnya, karena disajikan dalam hot pot yang sangat panas, nasi jadi kering dan menempel di hot pot. Nasinya kurang moist untuk ukuran Asian cuisine.

Dak-Galbi Korean Spicy Wings
Source: tumblr
Korean Spicy Wings. Untuk lidahku, Korean Spicy Wings ini enak. Meski rasanya tidak terlalu mendekati spicy wings milik Kyochon, tapi perpaduan manis dan pedasnya pas. Sesuai banget untuk lidah orang Indonesia. Belum lagi jumlah wingsnya yang bisa dimakan bareng beberapa orang karena kalau dimakan satu orang jadinya kebanyakan. Ajaibnya, aku memakan semua spicy wings semangkuk itu sendirian. Jelas beda sih ya antara spicy wings murah dengan spicy wings mahal. Di Urban Pop contohnya. Bumbu spicy wings di Urban Pop terkesan hanya berupa campuran saos tomat bakso dan ditaburi biji wijen saja, sementara spicy wings Dak Galbi menggunakan saus yang jelas sekali tidak terbuat dari bahan yang murah. Yah meski sama-sama menggunakan chicken nugget bungkusan itu. What I want to say is, you won't be regretful even this restaurant costs you much.

Yang terakhir, Green Tea Frappe. Sebetulnya kemarin aku berencana memesan Milk Shake Chocolate karena harganya lebih murah beberapa ribu, apadaya mulutku berkata lain. Karena aku suka minuman green tea sejak minum green tea float di PH, aku jadi keranjingan segala minuman green tea atau selain itu teh tarik dan jeruk nipis hangat. Nah, karena aku telah mencicipi minuman green tea di berbagai macam tempat, green tea Dak Galbi ini ternyata lumayan memikat. Rasanya engga seperti Pop Ice green tea yang diblender biasa lalu diberi whipped cream di atasnya. Lagi-lagi karena harga mahal pastinya restoran ini menggunakan bubuk green tea yang dipake oleh Mie Buto Ijo (karena waktu itu aku sempat ngadmin di Mie Buto Ijo dan tahu bubuknya seperti apa). Sayangnya rasio air dan esnya lebih banyak es 40:60 sehingga untuk aku yang gak begitu suka es jadi merasa minumanku terlalu dingin. Salahku juga sih engga pesan agar dibuatkan minuman yang "esnya dikit aja mas".

Untuk masalah tempat, percayalah Dak Galbi adalah tempat yang enak banget buat makan. Di setiap meja sudah disediakan kompor untuk memasak Dak Galbi itu sendiri atau mungkin manggang bulgogi. Pelayanan waitressnya ramah pula jadi betah berlama-lama di sana. Dan mungkin karena keadaan kemarin cukup sepi jadi makannya cukup cepat disajikan. Minusnya adalah harganya yang langsung bikin bokek sehari T^T. Yah mungkin kalau pergi bersama teman-teman jadi agak murah ya, apalagi mahasiswa kan bisa mendapatkan diskon 10% menggunakan kartu pelajar. Tapi diskonnya juga agak gak berguna toh harga yang tertera di menu belum kena pajak. Hitung-hitungan aja deh, kalau kamu habis Rp 100.000 diskon 10% KTM jadi RP 90.000 lalu kena pajak restoran 10%, kamu jadi bayar Rp 99.000 lah ya cuma hemat Rp 1000 doang kan?

Dak Galbi Menu
Source: tumblr
Tapi sebenarnya selama restoran itu menyajikan makanan yang sesuai dengan harga jadinya tak masalah. Toh kita juga gak akan makan setiap hari di restoran kan? Overall, makanan di Dak Galbi enak dan sesuai harga, tempatnya nyaman, pelayanannya juga ramah. Tunggu apalagi? Kalau ada rejeki berlebih datang aja ke sana. The best and the most expensive Korean Food restaurant in town (for now because I haven't visited Aventree and Solaria yet).

Rating:  ★ ★ ★  ☆