First Post in 2016

Alhamdulillah dan astagfirullah, satu tahun telah terlewati lagi. Itu berarti tak hanya usiaku yang bertambah tua dan semakin mendekati kematian, usia Bumi ini juga turut bertambah tua yang berarti kiamat sudah semakin dekat. Baik kematian dan kiamat adalah hal yang pasti, perkaranya mana yang lebih dulu kita jumpai. Kematian dulu atau kiamat dulu (karena otomatis pas kiamat kita juga mati)? Mukaddimah postingan ini isinya serem banget sih, berbicara mengenai kematian. Bukan maksudku untuk meninggalkan pesan terakhir atau postingan terakhir akan tetapi pembuka ini bertujuan untuk mengingatkan diriku bahwa waktuku di dunia ini semakin berkurang. Ya, seiring bertambahnya digit angka tahun tentu saja usia kita semua akan berkurang bukan? Yang jelas postingan ini tidak menjelaskan mengenai kiamat atau kematian akan tetapi postingan ini lebih berisikan mengenai refleksi dan harapan untuk beberapa tahun ke depan, insya Allah.

Alhamdulillah. Tahun 2015 Allah menurunkan cukup keberkahan bagiku dan keluarga. Kami masih baik-baik saja dan masih bertahan hidup hingga saat ini. Aku juga bersyukur aku telah mencapai tiga resolusiku yang telah kurencanakan untuk tiga tahun ke depan. Yah meski hanya tiga dari sebelas resolusi yang kutempel di dinding kamarku agar bisa kupenuhi dalam kurun waktu tiga tahun hingga tahun 2018 nanti. Aku bersyukur Allah memudahkan jalanku untuk lulus tahun ini, berhijrah di jalanNya (meski pelan-pelan dan belum total), dan juga memberiku kesempatan untuk meraih IPK sesuai dengan harapanku (melebihi harapanku malah). Aku bersyukur, sangat bersyukur. Semoga raihanku tahun 2015 tak serta-merta menjadikanku takabur namun tetap tawadhu' dan memperjuangkan resolusiku yang lain.

Tahun 2015 juga menjadi tahun yang cukup berat bagi perjalanan kisah asmaraku. Secara garis besar hubunganku memburuk, komunikasi menurun, dan konflik bertebaran. Yah begitulah kisahnya aku tak ingin membahasnya di sini, biar aku sendiri yang menanggung semua bebanku #tsaaah. Ya intinya seperti itu, tak hanya kebahagiaan aku juga mengalami kepedihan kok. Meski demikian lagi-lagi aku bersyukur karena ada orang-orang yang ada di sekitarku untuk mendukungku. Tahun 2015 merupakan tahun pembuktian mana yang teman yang benar-benar tulus dan mana teman yang hanya ingin mendapatkan keuntungan sendiri. Aku bersyukur atas pelajaran hidup yang kudapati di tahun 2015 lalu.

Nah, sekarang aku harus menyetel targetku kembali paling tidak selama satu tahun ke depan. Aku harus bisa mewujudkan sisa resolusi yang belum tercapai. Aku harus berusaha untuk itu. Dan aku harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, harus bisa! Bukankah hari ini harus lebih baik dari kemarin, kalau tidak kita termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi. Semangat!!