Eksistensi Tari Tradisional Tak Lekang oleh Waktu


Tak banyak orang yang mau melanjutkan ketertarikan melestarikan budaya setelah dewasa. Saya pun begitu, meski demikian ketertarikan terhadap tari tradisional masih ada hingga kurang lebih dua hingga tiga tahun yang lalu.

Sejak kecil saya dekat dengan dunia seni. Ayah saya memang bukan seniman namun beliau mewariskan kecintaan seni tradisional kepada saya. Awalnya hanya sekedar dari tari Kupu-kupu yang ditampilkan di acara 17 Agustus kampung. Ayah juga sempat memaksa saya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari di Sekolah Dasar meski saya lebih suka bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler melukis. Berangkat dari sedikit pemaksaan lambat laun saya jadi cinta. Akhirnya saya menekuni dunia tari tradisional di Sekolah Dasar dan menjuarai beberapa perlombaan tari tradisional dari tingkat kecamatan hingga tingkat Kabupaten bersama teman-teman.


Begitu masuk sekolah menengah, saya tak lagi melanjutkan seni tari tradisional. Namun di Universitas saya kembali menapaki dunia tari yang telah lama saya tinggalkan. Saya tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa tari tradisional yang bernama Sanggar Tari Karawitan Asri Kusuma (STK AK). Di sana saya memulai lagi kehidupan sebagai penari, badan saya yang semula kaku kembali luwes digunakan untuk menari tari tradisional jawa.

Ini waktu saya akan tampil di malam apresiasi anggota baru STK AK
Bergabungnya saya ke dalam STK AK membuat saya tergabung dalam beberapa kegiatan tari tradisional kembali. Salah satu penampilan besar yang saya lakukan bersama teman-teman STK adalah Demo tari tradisional untuk menyambut Mahasiswa Baru kampus Saya. Dalam demo UKM, kami menampilkan sendratari "Cidro ing Semoyo" yang berarti Ingkar Janji dalam bahasa Indonesia. Sendratari ini mengisahkan cerita dibangunnya Candi Prambanan. Terdapat kurang lebih 50 orang penari dalam sendratari ini.

Keunikan tari tradisional berada pada fleksibilitas dan keabadiannya melewati waktu. Fleksibel karena tari tradisional dapat dimodifikasi atau digabungkan dengan dance modern. Fleksibel karena iringan gamelan dapat diharmonisasikan dengan musik EDM. Abadi karena fleksibilitas yang dimiliki oleh tari tradisonal itu sendiri serta kemampuannya untuk tetapi ditampilkan dalam hajatan formal. Acara formal apapun, penyambutan, pernikahan, upacara kelulusan, konferensi atau apapun akan selalu menyuguhkan gemulai tari tradisional. Meski arus budaya asing menggempur dengna kuat, tari tradisional masih menjadi jujugan sebagai pengisi acara formal.

Squad Buto dalam Sendratari Cidro Ing Semoyo
Malang Raya juga merupakan salah satu daerah yang memiliki basis budaya yang kuat, apalagi di daerah Tumpang. Sanggar tari tradisional di Tumpang masih dilestarikan oleh para pemuda dan tetua di sana. Belum lagi eksistensi Unit Kegiatan Mahasiswa tari juga masih utuh di Kota pendidikan ini. Kesempatan untuk mengembangkan indah gemulainya tari tradisional berada di tangan agen perubahan di Kota ini. Masih ada begitu banyak harapan bagi tari tradisional untuk menjadi seni yang tak lekang oleh waktu dan tak gentar meski arus budaya asing mempengaruhi pemuda bangsa dengan kuat.