Lulus Cepat atau Jadi Mahasiswa Abadi?

Terinspirasi dari berita pada link ini akhirnya tulisan ini diposting. Berita ini kurang lebih menyatakan bahwa mahasiswa di dekade pertama 2000an terlalu mementingkan IPK dan berlomba untuk cepat meraih gelar. 
"Saya sudah sampaikan ke pemerintah kondisi demikian ini. Negara rugi kalau kondisi mahasiswa seperti saat ini. Cepat lulus, cari IPK tinggi. Karena para pemimpin yang kini duduk di pemerintahan itu dahulu kuliahnya juga tak lulus cepat," ucap Mahfud.
Tidak salah sebenarnya pernyataan dari Bapak Mahfud MD, hanya saja sebagai seseorang yang lulus cepat (3.5 tahun) dan memiliki IPK tinggi saya perlu mengkritisi pernyataan Bapak.

Lulus cepat atau lambat merupakan pilihan mahasiswa itu sendiri. Ada mahasiswa yang cukup ambisius dan memiliki pertimbangan tertentu untuk lulus cepat, termasuk saya. Saya memang orang yang telah memiliki target sejak Maba untuk lulus dalam waktu 3.5 tahun saja. Karena saya telat satu tahun dari teman-teman sekolah saya dan saya memiliki visi jangka panjang yang harus diwujudkan dalam usia muda (kalau bisa). Ada pula mahasiswa yang telah memiliki usaha/penghasilan sebelum dia lulus sehingga dia tidak memandang penting arti sebuah gelar selama dia mendapatkan penghasilan dari hobi/passion mereka.

Begitu pula dengna mahasiswa aktivis, di kampus saya masih banyak mahasiswa aktivis yang tidak lulus-lulus karena lebih mementingkan urusan organisasinya. Tapi apakah itu yang diharapkan orang tua mereka? Tentu saja lebih banyak orang tua yang mengharapkan anaknya cepat lulus kuliah dan mendapatkan gelar. Apalagi untuk orang tua yang kondisi ekonominya kurang mumpuni dengan usia yang tak lagi muda. Lantas, apabila anak-anak aktivis berasal dari keluarga demikian siapa yang mau membayarkan biaya studi mereka demi organisasi? Organisasi? Kalau begitu adanya, tak mengapa.

Lagi-lagi semua kembali pada pilihan masing-masing orang. Memang perusahaan kebanyakan tak mencari IPK yang terlampau tinggi karena beranggapan bahwa mahasiswa yang lulus cepat dengan IPK tinggi itu susah untuk diatur. Namun IPK atau kecepatan lulus seseorang tidak menentukan kepribadian si mahasiswa yang bersangkutan. Ada yang kebetulan cerdas (hard skill tinggi) sekaligus firm friendly (soft skill juga tinggi). Ada juga yang memang cerdas tapi tak berniat menjadi pegawai atau ada juga yang sengaja lulus cepat dan mengejar IPK tinggi untuk mendapatkan beasiswa studi lanjutan.

Lah kalau persyaratan beasiswa saja IPK harus tinggi, mengapa mahasiswa tak boleh mengejar IPK tinggi? Toh dalam kehidupan Universitas harus seimbang, kegiatan organisasi tak boleh melebihi kegiatan akademik. Kegiatan akademik tak boleh terlalu berlebihan sehingga kegiatan organisasi terlalu minim. Semua kembali pada passion masing-masing mahasiswa, mau apa jadinya mereka nanti? Kalau memang berkeinginan menjadi pejabat pemerintah ya silahkan saja ikuti passion menjadi aktivis sekaligus mahasiswa abadi (karena kebanyakan aktivis adalah mahasiswa abadi, terlalu sibuk berpolitik hingga lupa kewajiban akademik). Kalau berkeinginan mencerdaskan bangsa ya silahkan lanjutkan sekolah. Kalau berkeinginan wirausaha ya lakukan semaksimal mungkin.

Karena masing-masing orang memiliki cita-cita berbeda, sudah menjadi hak orang tersebut untuk menentukan jalan dalam berproses menuju masa depan.