Malang Kota Nyaman Namun Belum Ramah

Source: Pinterest
Alhamdulillah sudah dua puluh tahun lebih aku tinggal di Kota Apel, Malang. Bersyukur pula bahwa aku dilahirkan sebagai seorang Arek Malang murni, kedua orang tua asli Malang hingga generasi ke-3 (Kakek dan Nenek). Meski demikian, kadang masih belum puas juga sebab kadang muncul keinginan untuk meninggalkan Kota Malang. Bukan karena tidak nyaman untuk ditinggali tapi lebih karena alasan personal yang tak bisa dijelaskan dalam postingan ini hehehe. Well, sebagai orang Malang yang hingga saat ini belum pernah meninggalkan Malang untuk waktu yang lama, Malang merupakan Kota yang amat nyaman untuk ditinggali.

Terlepas dari betapa macet dan panasnya Malang saat ini, Malang masih menghadirkan kesejukan di tengah teriknya sinar mentari siang hari. Malang masih menyediakan akses jalan yang mudah diraih di tengah kemacetan di beberapa titik penting. Malang menyediakan segala hal yang dibutuhkan oleh manusia jaman modern, cari mall? Malang punya lebih dari empat Mal besar yang menyediakan bioskop, tempat makan hits, dan tempat nongkrong hits. Ingin berwisata modern? Tengoklah ke arah Barat dan kunjungi kota Batu (yang masih termasuk Malang Raya) ada begitu banyak taman bermain yang tersedia, tinggalh pilih saja. Ingin berwisata alam? Turun sedikit ke arah selatan Kota Malang dan temukan banyak pantai yang menghampar dengan pasir putihnya yang indah dan masih asri, di bagian timur Kota Malang ada gunung yang menjulang dan menjadi jujugan para turis domestik maupun asing, Arjuno, Semeru, Bromo. Semua ada, nah apalagi yang kurang dari Kota Malang atau lebih tepatnya kita sebut Malang Raya ini?

Nyamannya Kota Malang masih belum sepenuhnya diimbangi dengan keramahan kotanya terhadap lingkungan. Mengapa belum ramah? Masih banyak sampah berceceran, masih saja terdapat polusi udara, minimnya optimalisasi drainase. Sebetulnya ramah lingkungan didefinisikan penulis sebagai suatu kondisi yang mengindikasikan kenyamanan sebuah kota untuk ditinggali baik di darat, laut, maupun udara. Maksudnya, baik udara maupun air sehat dan aman untuk dihirup dan diminum. Terlepas dari kelebihan Kota Malang yang menyediakan segala macam kebutuhan rohani bagi masyarakat yang tinggal di sana, Kota Malang masih memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan inilah yang harus menjadi perhatian pemerintah untuk dibenahi, agar tercipta Kota Malang yang ramah lingkungan sesuai dengan impianku dan impian orang-orang Malang lainnya.
  1. Drainase yang perlu dikonstruksi ulang
  2. Seperti yang kita tahu pemerintah kolonial Belanda telah merancang sistem drainase yang sangat bagus di berbagai kota, Malang salah satunya. Sayangnya, sepeninggal kolonial pemerintah menjadi lengah dan abai terhadap sistem drainase ini. Hal ini menyebabkan tingkat kepedulian masyarakat menurun dan dengan sengaja membuang sampah di sistem drainase tersebut. Banjir (yang untungnya tidak terlalu parah) yang terjadi di Kota Malang akhir-akhir ini disebabkan oleh sumbatan di sistem drainase tersebut. Penting bagi pemerintah Kota, Kabupaten, dan Kota administratif Malang Raya untuk mendiskusikan perawatan sistem drainase ini. Apabila dibiarkan banjir di Kota Malang akan semakin parah serta dapat merugikan warga dan pemerintah sendiri. Tak perlu bersusah-susah membangun drainase lagi, yang diperlukan oleh pemerintah adalah memastikan bahwa material yang digunakan sebagai gorong-gorong di jalan besar sangat kuat dan efektif sebagai jalan masuk air. Sehingga tidak terjadi lengkungan besi yang bisa membahayakn pengguna jalan dan gorong-gorong akan bertahan lama untuk beberapa belas tahun ke depan. 
    Pemerintah juga perlu menggiatkan kesadaran masyarakat untuk tidak dengan mudah membuang sampah sembarangan. Peraturan mengenai larangan buang sampah telah ada, hanya saja tindakan tegas belum dilakukan. Tipikal orang Indonesia, apabila peraturan tidak dibarengi dengan implementasi maka peraturan tinggallah tulisan tanpa arti.
  3. Pengendalian kendaraan bermotor di jalan raya
  4. Satu hal lagi yang membuat Kota Malang tidak ramah lingkungan, polusi udara. Meski tidak parah, volume kendaraan bermotor di jalanan Kota Malang mulai mengkhawatirkan belum lagi jika terjadi kemacetan. Banyaknya pendatang baru dan kemudahan dalam mengkredit kendaraan bermotor menyebabkan volume kendaraan Kota Malang meningkat selama 10 tahun terakhir. Apabila hal ini dibiarkan, maka Kota Malang akan menjadi seperti Surabaya yang macet dimana-mana dan berudara panas. Bahkan Kota Malang beberapa tahun terakhir ini saja sudah panas.
    Source: malangtimes
    Bagaimana sih cara mengendalikan volume kendaraan bermotor? Diperlukan regulasi khusus mengenai pengajuan kredit kendaraan bermotor, entah pajak ditinggikan atau dipersulit dalam pengajuan kredit tersebut. Diperlukan perbaikan infrastruktur transportasi publik. Beruntungnya, anak sekolah di Kota Malang tak perlu repot-repot menaiki kendaraan pribadi atau angkot karena saat ini Pemkot telah menyediakan bus sekolah gratis. Sayangnya jumlah bus sekolah juga tak terlalu banyak sehingga belum cukup untuk mengcover banyaknya siswa dan menanggulangi kepadatan jalan raya. Bayangkan saja apabila semua transportasi publik di Kota Malang mendapatkan upgrade seperti Bus Sekolah ini? Banyak orang akan lebih memilih untuk menaiki transportasi publik daripada kendaraan pribadi karena kenyamanan dan ketepatan waktu transportasi umum ini. Masalah terbesar angkutan publik di negara ini adalah ketepatan waktu yang sangat kurang dibandingkan dengan angkutan di negara maju.
  5. Perbanyak lahan hijau
  6. Sebetulnya desain tata Kota Malang sejak dua tahun terakhir mengalami peningkatan pesat. Terdapat banyak ruang terbuka bagi masyarakat, sederhana namun indah. Sayangnya ruang terbuka ini tidak diimbangi dengan peningkatan lahan hijau. Tercatat bahwa Kota Malang hanya memiliki satu hutan kota, yang kini pun juga telah didesain sedemikian rupa untuk dikunjungi. Bermodal CSR yang ditarik dari perusahaan yang berdiri di Malang Raya, seharusnya digalakkan pula pembentukan lahan hijau. Tak hanya berfungsi secara estetik namun juga berkontribusi pada kesejukan, kejernihan, dan kesehatan udara di Kota Malang tercinta ini. Dengan demikian, sempurna sudah Kota Malang sebagai kota yang nyaman untuk ditinggali dan ramah lingkungan.
Mewujudkan kota ramah lingkungan bukanlah hal yang sulit (kecuali pada bagian infrastruktur), bermula dari diri sendiri mari kita budayakan untuk membuang sampah pada tempatnya dan melakukan recycle dari sampah yang masih bisa direcycle. Meski pemerintah telah aware mengenai pemilahan sampah, kalau kita sendiri masih saja membuang sampah anorganik di tempat sampah organik hal itu tidak akan membantu. Tak hanya sampah, mencoba membuat lahan hijau mini di pekarangan rumah masing-masing juga membantu memelihara kesehatan udara yang kita hirup. Membiasakan diri untuk menggunakan transportasi publik juga perlu kita sadarkan dari dalam diri kita sendiri, tanpa kesadaran diri sendiri regulasi pemerintah juga tak akan berarti apapun. Oleh sebab itu, untuk menjadikan kota ramah lingkungan nyata diperlukan pengorbanan dan kesadaran diri sendiri untuk memulai hidup ramah lingkungan. Kalau bukan kita, warga Malang Raya, siapa lagi?