Review Film: Captain America - Civil War [2016]


Damai beserta Captain America dan kroni-kroni Avengers sebelum akhirnya mereka diterjunkan kembali ke suatu misi membahayakan. Tak hanya membahayakan nyawa mereka sendiri, nyawa orang-orang tak berdosa pun menjadi taruhannya. Karena aksi Avengers yang seringkali berujung pada penghancuran suatu kota besar (lebih tepatnya menyindir franchise komik sebelah juga) maka pemerintah beranggapan Avengers perlu diawasi. Bila tidak demikian, pemerintah khawatir bahwa keberadaan Avengers bukan malah menyelamatkan nyawa justru membahayakan nyawa manusia biasa lainnya.

Permasalahan tak selesai sampai situ saja. Kehadiran kembali The Winter Soldier semakin meruncingkan konflik. Captain America kehilangan objektifitasnya, dia dan juga Iron Man kukuh pada ego masing-masing dan mengesampingkan musuh bersama yang justru mengancam. Dalam installment ketiga Captain America ini, superhero-superhero baru diperkenalkan, tak hanya wajah lama yang menghiasi film sepanjang 2 jam 26 menit ini.

Sebetulnya plot Captain America jauh lebih menarik dan penuh dengan twist, yang berakhir dengan twistception dan plot setengah hole, daripada Dawn of Justice. Apabila Dawn of Justice, kedua superhero utama diadu domba dengan cara yang konyol dan tidak logis, maka adu domba pada Captain America ini lebih logis dan lebih smooth. Di sini penulis tidak menjadi seorang Marvel-fan tapi memang film garapan Marvel ini menyajikan plot yang lebih logis dan intelektual.

Banyak media yang menyebut Captain America: Civil War ini merupakan film garapan Marvel terbagus sejauh ini, tapi menurut penulis tidak! Memang plot yang disajikan logis dan menarik, terkesan lebih dark ketimbang film MCU lain malah tapi plot hole di ending membuat penulis merasa tak mendapatkan apa-apa setelah menonton Civil War ini. Civil War terlalu Iron Man-sentris, rasa-rasanya judul franchise masih Captain America tapi tetap saja tokoh utama bukan Captain, tapi Iron Man. Hidup #TeamIronMan !!

Kemunculan superhero baru seperti Spidey (dengan wajah baru, Tom Holland) dan Black Panther juga menjadi daya tarik tersendiri. Yang paling menarik adalah kemunculan Spidey, rupanya pemeran spidey kali ini lebih pas daripada pendahulunya (Andrew Garfield dan Tobey Macguire). Tom Holland merupakan sosok yang cocok untuk memerankan spidey, seperti Ryan Reynolds cocok memerankan Deadpool. Tom Holland mampu membawakan Spidey yang nerd namun tidak hipster meski memang dia cerewet, ya kan Spidey di komik memang cerewet. Tapi aura nerd yang dibawakan Tom Holland hampir mirip dengan pembawaan Tobey Macguire. Jadi ini cerita Captain America atau Spiderman?

Maafkan, penulis fans berat superhero laba-laba ini soalnya.

Kembali ke review film yang disturadari oleh duo Joe Russo dan Anthony Russo ini, deretan pemain sebetulnya mampu menghadirkan karakter masing-masing dengan baik dengan porsi yang pas pula. Masing-masing karakter berkembang, sayangnya karakter penjahat dalam Civil War cenderung terkesampingkan akibat adanya Iron Man. Ya, lagi-lagi Civil War justru bercerita tentang Iron Man bukan tentang Steve Rogers. Kehadiran Daniel Bruhl sebagai Zemo memang patut diapresiasi, sayangnya porsinya sangat minim untuk seorang penjahat.

Civil War tak menghadirkan terlalu banyak kerusakan atau adegan aksi seperti franchise MCU sebelumnya, justru menghadirkan emosi dan sensitifitas karakter. Well, meski bukan film garapan Marvel yang terbaik tetap saja Civil War lebih baik dari Dawn of Justice.


Plot★ ★ ★ ½ ☆
Akting★ ★ ★ ★ ☆
Musik★ ★ ★ ★ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ★ ☆