Review Film: X-Men Apocalypse [2016]


Setelah bekerja sama lalu bercerai kembali akibat insiden Washington D.C, Charles Xavier (James McAvoy) dan Erik Lannsher (Michael Fassbender) kini menjalani hidupnya masing-masing dengan aman dan tentram. Prof. X dengan damainya mendedikasikan hidupnya untuk menjadi pengajar di sekolah "gifted"nya dibantu oleh Hank McCoy (Nicholas Hoult). Sementara itu Magneto memulai kembali hidupnya dalam alter egonya yang lain dan sukses membangun keluarga sakinah mawaddah warrohmah. Sementara itu, teman kita yang berwarna biru dan hanya mengenakan baju tipis untuk membungkus tubuhnya Raven/Mystique (Jennifer Lawrence) masih berkutat dengan misinya untuk membebaskan teman-teman mutannya yang "dianiaya" oleh manusia.

Sepuluh tahun ketenangan itu tak terusik sejak tahun 1973 pasca kejadian pemindahan stadion di gedung putih. Ternyata di dunia ini terdapat mutan yang jauh lebih tua dari mutan-mutan yang kita kenal lewat franchise X-Men: First Class ini. Alkisah 1600 SM di jaman mesir kuno, seorang mutan telah memerintah mereka dengan kemampuan paling kuat dari seluruh mutan yang ada di dunia ini. Rasa-rasanya Wolverine pun tak akan sanggup mengalahkan mutan setengah dewa ini.

Kebangkita En Sabah Nur, Heliom, Ra atau apalah dia namanya ini menggegerkan dunia. Hampir mirip dengan kebangkita Dajjal yang menandakan kiamat sudah dekat. Kebangkitan Dajjal dari Mesir ini juga menebarkan terror dan membawa dunia di ambang kehancuran. Beruntungnya dengan bangkitnya dia, ditemukanlah mutan baru yang bisa menjadi rekan Prof. X atau menjadi musuh selanjutnya. Salah satu mutan yang diangkat menjadi pengawal Dajjal Mesir ini yang kemudian berpindah pihak adalah Ororoe Monroe a.k.a Storm. Lantas sanggupkan Prof. X dan X-Men mengalahkan mutan terkuat sejagat raya ini? Sementara di sisinya terdapat Magneto yang sudah tak diragukan lagi kekuatannya?

Jujur saja, daripada Apocalypse penulis lebih suka gaya pengisahan DOFP. DOFP merupakan film paling sempurna dari smeua franchise X-Men yang digarap Bryan Singer. Sebetulnya Apocalypse memang jauh lebih megah, namun kekuatan plotnya tidak terlalu kuat. Bisa dibilang Apocalypse menang di CGI dan banyaknya bintang yang menghiasi satu franchise film saja. Kerennya, lagi-lagi Quicksilver mencuri perhatian dalam franchise yang entah akan ada berapa banyak film nantinya. Tak hanya Quicksilver, film ini mampu menggambarkan sosok Magneto yang lebih manusiawi didukung oleh akting Michael Fassbender yang ciamik.

Memang tidak ada plothole, semua rangkuman franchise X-Men ada di sini, namun penulis masih tak begitu suka dengan eksekusi final yang kurang greget. Terlalu banyak karakter dan tokoh ada baiknya, semua mendapatkan bagian masing-masing dengan pas, tapi entah mengapa rasanya jadi terlalu banyak bumbu. Eneg. Penulis juga lama-lama geregetan dengan hiasan Love-Hate relationship milik Prof. X dan Magneto, mereka terlalu banyak putus-nyambung bagaikan pasangan remaja labil. Namun biar bagaimanapun, Marvel selalu bisa menghadirkan karya superhero yang epik dan keren. Oh ya, kalau bingung mengenai timeline X-Men silahkan lihat bagan berikut:


Jadi, semua kisah X-Men bermula dari First Class yang mengisahkan masa kecil hingga pertemuan Prof. X dengan Magneto dan Mystique. Dari pertemuan itu didapatkan perpecahan antara Magneto dan Prof. X yang berseberangan keyakinan. Prof. X ingin mutan dan manusia hidup berdampingan, sementara Magneto merasa keberadaan manusia mengancam kelestarian mutan. Dari situ, Mystique memilih untuk ikut Magneto dan idealisme Magneto terpatri di pikirannya hingga Ia mampu mengendalikan dirinya untuk tidak membunuh Bolivar Trask di DOFP. Dalam kurun 10 tahun sejak DOFP hingga Apocalypse, Wolverine ditahan oleh William Stryker dan diubah menjadi senjata dengan cara disuntik Andamantium. Kemudian sampailah pada kesatuan X-Men melawan Apocalypse yang menyatukan Jean Gray, Cyclops, Storm, Quicksilver, dan Nightcrawler. Misalkan Mystique tetap membunuh Bolivar Trask, maka X-Men era Patrick Stewart akan masih tetap ada dan sentinel akan tercipta untuk menghancurkan semua mutan dan manusia. Masih terdapat beberapa hole dalam timeline X-Men ini, semoga saja studio dapat memperbaikinya pada film selanjutnya.

Plot★ ★ ★ ½ ☆
Akting★ ★ ★ ★ ☆
Musik★ ★ ★ ★ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ★ ☆