Perjalanan Mendapatkan Beasiswa LPDP (Part 2)

Sebetulnya saya ingin membagikan pengalaman saya dalam mendapatkan beasiswa LPDP ini jika saya dinyatakan LULUS. Apadaya, Tuhan berkehendak lain. Saya tidak lulus seleksi substantif. Meski demikian yang namanya pengalaman harus dibagikan, tak melulu pengalaman sukses saja kan yang harus dibagikan? Pengalaman pahitnya kegagalan juga harus dibagikan untuk mendorong semangat anak-anak muda di luar sana dalam menggapai mimpinya.

Tanggal 10 Juni 2016 merupakan hari sakral dan keramat bagi para kandidat LPDP batch 2 tahun 2016 dan kebetulan hari itu bertepatan dengan hari Jumat minggu pertama bulan Ramadhan. Setelah dua minggu terlewati dalam penantian, akhirnya hasil seleksi dirilis ba'da Ashar. Hati berdegup kencang, jantung ingin melompat keluar, dan perut mulas. Ternyata setelah login ke akun LPDP, hasilnya adalah MAAF ANDA TIDAK LULUS SELEKSI WAWANCARA.


Kecewa? Iya. Sedih? Iya. Patah semangat? Tidak!
Ini merupakan kegagalan yang ke1xxxxxx kalinya dan pastinya dibalik sebuah kegagalan terdapat kesuksesan yang tertunda. Jadi, terlepas dari hasil yang sempat membuat tak nafsu berbuka puasa ternyata menyusun rencana cadangan itu memiliki keuntungan sendiri. Well, sebelum menjelaskan lebih panjang lagi curhatan kegagalan lebih baik saya bagikan pengalaman tes substantif LPDP sendiri.

Untuk membaca part sebelumnya silahkan klik di sini. Tes substantif LPDP ini memang benar-benar substantif. Terdapat tiga bagian seleksi yang masing-masing menguji ATTITUDE kita. Iya, LPDP bukan beasiswa merit-based (beasiswa hanya untuk orang-orang pintar) namun mereka mencari yang layak dan kebetulan saya belum layak. Apa saja sih seleksinya? Ini dia:
  1. Seleksi Essay On the Spot. Seleksi ini biasanya dilakukan terlebih dahulu (setelah verifikasi berkas tentunya) atau bisa juga dilakukan setelah LGD dan wawancara. Jadi, ketika telah dinyatakan lulus seleksi administrasi kalian akan mendapatkan jadwal seleksi subtantif secara rinci yang dikirimkan lewat e-mail. Dalam e-mail tersebut akan diberikan proses dan nomor antrian secara rinci seperti: kelompok LGD, meja wawancara, dan waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing seleksi berikut hari dan tanggalnya. Seleksi On the Spot sendiri membutuhkan waktu 30 menit dan essay ditulis dalam bahasa Inggris bagi pelamar beasiswa luar negeri. Dalam seleksi ini, peserta akan diminta memberikan tanggapan terhadap sebuah kasus (umumnya terdapat dua kasus dan peserta memilih salah satu). Bobot seleksi ini 15% (berdasarkan beberapa sumber). Tips untuk sukses dalam penulisan essay ini adalah 1) rajin latihan menulis essay sebelum hari H; 2) update terhadap isu-isu panas Indonesia terkini; 3) format penulisan lebih baik belajar dari penulisan essay IELTS writing task 2 (parafrase kalimat dan sampaikan opini, menyampaikan kedua pandangan baik pro maupun kontra, memberikan solusi, dan memberikan kesimpulan).
  2. Seleksi Leaderless Group Discussion (LGD). Well, sebagian besar orang masih belum mengerti betul apa itu LGD. Saya sendiri juga dulunya tak memiliki gambaran sedikitpun mengenai diskusi tanpa pemimpin ini. Inti dari seleksi ini adalah MENYAMPAIKAN PENDAPAT DENGAN SOPAN dan ATTITUDE. Ya, sekali lagi ATTITUDE karena ini leaderless. Boleh menyampaikan pendapat, namun ingat nada harus tenang tak tergesa-gesa, tidak terlalu panjang, selalu mengucapkan terima kasih, dan mengakomodir pendapat kandidat lain dalam diskusi. Sama seperti OEW, topik yang diberikan saat LGD juga berkaitan dengan isu terhangat yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Tips untuk sukses dalam seleksi LGD antara lain: 1) Identifikasi awardee yang berada di sekitarmu, bisa lewat sosmed atau bagaimanapun caranya; 2) Ikutlah simulasi LGD agar mendapatkan gambaran yang baik mengenai suasana LGD nantinya; 3) Selalu update berita terkini; 4) Usahakan berbicara dua kali dengan durasi 1.5 menit; 5) Hindari menyela; 6) Hindari mengatur orang lain.
  3. Seleksi Wawancara. Bisa dibilang seleksi wawancara ini merupakan tahap paling berat karena di sinilah kelayakan seorang kandidat benar-benar dinilai. Nantinya akan ada tiga reviewer (1 psikolog dan 2 praktisi, bisa dari bidang yang sama bisa tidak). Pertanyaan yang sering muncul biasanya berhubungan dengan passion, kenapa pilih Universitas X? kenapa ingin keluar negeri? dan lain sebagainya yang berhubungan dengan personal dan hanya diri kita sendiri yang tahu jawabannya. Waktunya beragam, bisa 10 hingga 45 menit. Adapun tips paling super bisa didapatkan dari web ini.
Nah setelah mengetahui gambaran tes subtantif, kini saatnya bagi saya untuk menceritakan pengalaman saya sendiri setelah melaluinya dan GAGAL.


Saya cukup percaya diri dengan tes essay dan LGD saya karena memang sudah saya persiapkan sejak jauh-jauh hari. Cukup banyak membaca referensi seperti ini dan ini serta banyak lagi web lain yang menyediakan informasi serupa berkaitan dengan kesuksesan mendapatkan beasiswa LPDP. Tak hanya itu, thanks to teman-teman grup LPDP batch 2, yang senantiasa berbagi ilmu dan pengalaman hingga saya mampu melewati seleksi EOW dan LGD dengan confident dan optimis.

Sayangnya, semua harapan itu pupus ketika saya berhadapan dengan reviewer. Sebetulnya, kita bisa lo meminta hasil penilaian tes substantif kita just in case kita Gagal namun saya tidak melakukannya. Kalau saya gagal ya berarti saya harus memperbaiki semuanya, baik itu LGD EOW atau wawancara (meski saya 75%  yakin saya gagal di wawancara). Well, saya menyadari bahwa saya melontarkan beberapa jawaban irasional, blunder, dan tidak impresif bagi para reviewer. Saya bisa membaca sejak saya di wawancara bahwa reviewer tidak tertarik pada saya. 

Yang pertama, pengalaman saya kurang. Baik itu organisasi, akademik, atau sosial. Saya jelas menyadari bahwa saya memang tidak berkontribusi banyak bagi Indonesia. Tidak pernah mengikuti kegiatan sosial atau memiliki pengalaman mengajar (kecuali mengajar teman-teman dan adik). Dibandingkan dengan peserta lain pun capaian saya tidak ada apa-apanya. Saya cenderung suka menulis bebas seperti artikel, opini, yang bersifat informatif dan tak menggunakan kaidah penulisan ilmiah seperti ini daripada menghasilkan penelitian seperti PKM di masa kuliah. Suatu hal yang saya kira dapat menjadi nilai tambah malah menjadi blunder bagi saya sendiri.

Yang kedua, saya ngotot ingin sekolah di LN. Bukan ngotot dalam artian negatif sebetulnya. Karena ketika muncul pertanyaan "Kenapa harus di LN? Kan di Indonesia ada." Sebetulnya pertanyaan ini agak tricky. Di satu sisi, pertanyaan ini menilai seberapa siap dan serius kita menimba ilmu di luar negeri. Di sisi lain, kenap harus menghamburkan begitu banyak dana hanya untuk satu orang sementara banyak anak Indonesia yang lebih layak mendapatkan pendidikan mau disekolahkan di dalam negeri. Jadi, saya tetap menjelaskan keunggulan kampus yang saya tuju dan negara yang ingin saya datangi. Namun lagi-lagi, mungkin karena saya belum layak atau memang karena LPDP tengah melakukan efisiensi, impian saya untuk ke Inggris dan dibiayai LPDP-pun tak tersampaikan.

Yang ketiga, saya gagal mengendalikan emosi dan kontak mata. Mungkin karena kondisi psikologis saya sedang tidak bagus dan saya ragu terhadap kemampuan saya sendiri. Saya gagal mengendalikan ledakan emosi dalam diri saya. Saya menjawab dengan nada yang terlalu menggebu-gebu dan sempat menangis. Saya juga berkali-kali gagal menjaga kontak mata dengan reviewer. Jadi ingat, eye contact itu perlu.

Untuk EOW sendiri saya rasa saya juga kurang padu dalam menulis essaynya karena kebetulan sekali saya mendapatkan tema yang belum saya pelajari. Begitupun dengan LGD, sebetulnya saya mendapatkan kesempatan menyampaikan pendapat dua kali dan telah melakukan seperti yang telah saya sarankan di atas. Hanya saja saya sempat melupakan satu nama kandidat ketika saya akan mengakomodir pendapatnya.

Begitulah cerita saya mengenai kegagalan mendapatkan beasiswa LPDP di percobaan pertama. Saya masih memiliki satu kali lagi kesempatan yang mungkin tidak saya gunakan dalam waktu dekat terlebih dahulu. Meski gagal, saya tak akan berhenti mencoba. Saya kan mencoba hal lain dan melayakkan diri agar pantas menjadi awardee LPDP. Insya Allah!