Polemik Berhijab


Tulisan ini turun bukan untuk menyalahkan siapapun atau menyesali keputusan yang telah penulis buat. Tulisan ini bertujuan untuk memberi pencerahan dan memandang sesuatu dari perspektif yang berbeda.

Setelah menganggur kurang lebih 4 bulan atau setengah tahun lebih tepat sejak tanggal menyelesaikan sidang skripsi, penulis masih menjadi seorang pengacara (pengangguran banyak acara). Jadi, sebetulnya penulis memiliki misi untuk melanjutkan sekolah karena keinginan penulis sendiri, apa daya usaha penulis mendapatkan beasiswa masih belum menemui titik terang. Meski demikian, penulis masih berusaha mencoba lagi dan lagi hingga mungkin nanti penulis menyerah dan lelah, entah kapan.

Tak hanya berfokus pada keinginan untuk melanjutkan studi, penulis juga mempunyai back up plan seperti melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang tengah membutuhkan tenaga kerja. Tak hanya satu dua interview, sudah terdapat beberapa panggilan, tes, dan interview yang penulis hadiri, Namun rejeki juga masih belum menghampiri. Menariknya dari sekian panggilan tersebut, terdapat dua perusahaan yang penulis tolak karena meminta penulis untuk melepaskan Jilbab.


Well, sebetulnya penggunaan kata Jilbab dan Hijab sendiri pernah menjadi polemik di timeline twitter penulis. Penggunaan jilbab lebih tepat untuk merujuk pada kerudung atau penutup kepala wanita muslim daripada Hijab. Karena hijab sendiri memiliki tafsir "TABIR/PENUTUP", penutup dalam artian menutup sesuatu untuk tidak diketahui dan berhubungan dengan hal-hal ghaib. Mengenai tafsir ini sendiri, wallahu alam bis showab. Penulis belum pernah mempelajari langsung terminologi bahasa Arab seperti Hijab dan Jilbab itu sendiri.

Kembali ke pokok permasalahan, yakni penulis MENOLAK BEKERJA KARENA ALASAN BERJILBAB. Bukan, bukan makna yang negatif. Jadi di dua perusahaan yang penulis lamar mensyaratkan agar pegawainya melepas Jilbab. Perusahaan pertama adalah  perusahaan yang bergerak di komoditi emas, alasan utama mereka adalah keamanan aset perusahaan berupa emas. Penulis mewajarkan hal ini karena ketika pegawai berjilbab akan terjadi kemungkinan pencurian aset sekecil apapun itu, dan kemungkinan kecilnya bobot aset tidak terdeteksi oleh detektor metal. Namun meski penulis memaklumi, penulis tidak serta merta menyetujui syarat tersebut. Pada akhirnya penulis mengalah, memilih mundur, dan menolak tawaran bekerja di tempat tersebut.

Perusahaan kedua merupakan sebuah Hotel di dekat rumah penulis. Sebelumnya penulis sempat bertanya pada kenalan Ibu penulis untuk bekerja di hotel sayangnya kala itu penulis juga diharuskan melepas jilbab. Penulis sempat memaklumi karena hotel tempat kenalan Ibunda penulis bertempat di Bali. Namun ternyata tak hanya hotel di Bali, hotel di Kota Malang pun mensyaratkan karyawan mereka untuk tidak berjilbab dengan alasan Universalitas.

Poin universalitas inilah yang akan penulis kritisi. Yang pertama terdapat logical fallacy, posisi yang penulis lamar adalah posisi Accounting. Posisi accounting bekerja di back office dan tidak melayani tamu bukan? Yang dikerjakan kemungkinan adalah bertemu dengan supplier atau maksimal presentasi di depan bos mengenai laporan bulanan atau mungkin membayar pajak. Dengan dalih universalitas, apakah perlu mensyaratkan karyawan untuk melepas jilbab? Logical fallacy kedua, apakah mungkin tamu keberatan terhadap karyawan yang berjilbab? Selama berjilbab tidak bersinggungan dengan kinerja si karyawan tentu saja tamu tidak akan keberatan bukan? Ya mana mungkin sih tamu bule akan risih menginap di hotel dengan karyawan berjilbab? Bule kebanyakan adalah orang yang open minded dan tidak mudah menjustifikasi seseorang berdasarkan atribut yang mereka gunakan. Apabila tamu asing selalu merasa risih terhadap pakaian karyawan hotel, terutama yang berjilbab bagaimana dengan hotel yang berada di negara-negara muslim? Dan sekali lagi akuntan tidak berhubungan langsung dengan tamu hotel, FYI.

Mungkin memang hotel memiliki kebijakan tersendiri mengenai ihwal berhijab namun menggunakan poin universalitas sebagai argumen agar karyawan melepas hijab bukanlah argumen yang logis. Tulisan ini bertujuan untuk mencerahkan bukan menyalahkan. Dan dengan demikian juga penulis tidak menyesal sedikitpun telah menolak perusahaan yang mensyaratkan karyawannya untuk melepas jilbab. Karena suatu saat nanti pasti akan rejeki yang lebih besar mendatangi penulis. Jilbab bukanlah sesuatu yang menghalangi kita semua untuk menghasilkan sesuatu bukan?