Kenapa Kuliah di Jerman?


Alhamdulillah setelah bertahun-tahun menyusun plan untuk lanjut sekolah S2, akhirnya bisa terwujud juga. Yah~ Meski masih belum pasti juga bakal berangkat ke negeri impian atau tidak? But, selagi kita mau berusaha dan berdoa, apa sih yang engga mungkin kan? Pokoknya selalu berpikiran positif (khusnudzon) sama Yang Bikin Hidup ajalah ya, selebihnya biarkan tanganNya yang bekerja.

So, sebelumnya saya gak pernah bercita-cita untuk sekolah di luar negeri (apalagi di Jerman). Dulu waktu masih jadi maba, saya cuma mikir gimana caranya untuk segera lulus, dapat kerja, lalu jalan-jalan ke luar negeri. Ya, sebatas itu aja. Gak pernah berpikir untuk lanjut S2 lalu S3 atau gimana. Namun memang setiap manusia pasti mengalami titik balik, semua manusia punya waktu untuk berproses. Begitupun saya hahaha.

Awal mula saya ingin melanjutkan S2 adalah ketika masuk di semester 5 dan 6, ada dua orang dosen yang betul-betul inspiratif. Inspiratif dalam artian pengalaman dan pengetahuan mereka. Berkat Bapak dan Ibu dosen itu, saya ingin melanjutkan aspirasi beliau-beliau dengan menjadi dosen juga. Karena jadi dosen itu sesungguhnya bukan hanya ngajar-pulang-ngajar-pulang tapi berkontribusi melalui penelitian dan menanamkan idealisme bagi generasi muda bangsa. Saya contohnya, hasil dari idealisme yang ditanamkan oleh dosen saya. Untuk apa? Ya untuk membangun bangsa. Karena mahasiswa merupakan anak-anak muda yang mudah dibentuk cara pikirnya dengan hal yang logis dan rasional. Karena di bahu mahasiswa-lah arah Indonesia ditentukan.

Keinginan lanjut sekolah itu pun didukung oleh keinginan saya yang menggebu-gebu untuk pergi ke luar negeri. Saya pikir begini, kalau saya melanjutkan sekolah di tempat itu-itu saja saya tidak akan berkembang. Tanpa mendiskreditkan kualitas pendidikan perguruan tinggi di Indonesia, saya hanya ingin keluar dari zona nyaman saya. Saya ingin mengenyam lebih banyak pengalaman hidup, bukan yang manis-manis saja tapi yang pahit-pahit juga. Oleh sebab itu, saya memilih untuk melanjutkan sekolah ke negeri yang jauh bahkan yang mungkin orang tua saya juga tak bisa menyusul saya ke sana hehehe. Ya kalau dipikir, buat apa kita pergi jauh dari rumah kalau toh orang tua masih bisa menyusul kita kan? Kapan mandirinya? Hehehe

Untuk itulah saya memilih Jerman.



Awalnya alasan saya begitu sederhana, tidak rasional, tidak akademis, dan pokoknya cuma bermodal keinginan saja. Saya sejak kecil dekat dengan Jerman, bukan dalam artian yang seperti itu. Sejak kecil saya kagum dengan Timnas Jerman jadi kalau saya boleh tinggal, daridulu saya berkeinginan untuk tinggal di Jerman. Sesederhana itu.

Seiring bertumbuhnya hidup saya, cinta saya pada Jerman semakin besar. Saya mengikuti kegiatan ekstra kurikuler bahasa Jerman di masa sekolah, yang berujung pada keikutsertaan saya pada lomba-lomba bahasa Jerman dan mendengarkan lagu berbahasa Jerman kala itu. Begitu lulus sekolah, saya mendatangi seminar Au Pair di Jerman. Dulunya saya kira saya berkesempatan sekolah di Jerman karena Au Pair itu namun ternyata kesempatan Au Pair hanya bagi mereka yang "berduit" atau "berkesempatan berangkat karena background pendidikannya". Tapi tak apa, saya sungguh bersyukur karena seminar Au Pair itu saya sudah mengantongi sertifikat kursus bahasa Jerman dasar. Dan ini berguna dalam aplikasi beasiswa saya.

Berangkat dari alasan sederhana, sekarang sudah terasa begitu dekat dengan impian saya.

Seiring waktu berjalan, impian saya sempat goyah sebetulnya. Ketika apply beasiswa LPDP untuk pertama kalinya (dan gagal! cerita lengkap bisa dibaca di sini), saya sempat beralih ke negara lain yakni Inggris. Satu, karena pendidikan S2 di Inggris bisa ditempuh hanya dalam 1 tahun. Dua, Ya karena Inggris adalah negara berbahasa Inggris (yang bahasanya tak perlu dipelajari lagi). Tiga, karena saya ingin pergi ke Old Trafford hahahahahahaha

Namun ternyata sesuatu yang tidak kita inginkan (iseng) malah memang berujung kegagalan.

Ya mungkin rejeki saya memang di Jerman. Lalu kenapa saya memilih Jerman sebagai negara tujuan studi Magister saya? Selain alasan non-akademis, sederhana, dan kurang rasional di curhatan sebelumnya maka kali ini akan saya beberkan beberapa alasan akademis dan rasional untuk memilih Jerman sebagai negara tujuan:
  1. Semua Universitas di Jerman adalah Universitas Negeri. Tidak seperti di Indonesia atau negara-negara lain, pendidikan di Jerman sangat diperhatikan oleh pemerintah. Oleh sebab itu, hampir semua Universitas di Jerman adalah Universitas Negeri dengan kualitas yang tidak jauh berbeda satu sama lain. Tidak ada Universitas favorit atau less-favorable, semua universitas berkualitas. Semua Universitas memiliki program unggulan masing-masing.
  2. Free Tuition Fee. Ya! Karena hampir semua universitas di Jerman adalah Universitas Negeri, pemerintah Jerman dengan baik hati mensubsidi perguruan tinggi mereka untuk memelihara kualitas pendidikan negeri Bavaria tersebut. Free tuition fee ini berlaku untuk semua course S1 sementara ada beberapa course S2 yang dikenakan tuition fee (tidak semua course S2 gratis). Dan free tuition fee ini juga berlaku bagi international student. Jadi, meski tak punya beasiswa tak mengapa pikirkan saja biaya hidup di Jerman nantinya.
  3. Biaya hidup murah, pengurusan visa student murah dan mudah. Saya baru mengetahui hal ini setelah browsing-browsing kuliah di Jerman pasca kegagalan ke UK. Dibandingkan negara Eropa lain, Jerman termasuk negara dengan biaya hidup murah bagi student (rata-rata 600 Euro). Biaya pengurusan visanya juga murah (60 Euro) dan tidak membutuhkan dokumen seribet pembuatan Visa Tier 4 UK yang bisa menghabiskan biaya berjuta-juta. Super sekali Jerman!!
  4. Jerman merupakan negara yang ketahanan ekonominya kuat. Masih ingat isu kebangkrutan Uni Eropa beberapa tahun silam akibat kecerobohan Yunani? Di tengah krisis sedemikian, Jerman masih kuat. Hal ini karena ketahanan ekonomi Jerman yang sangat bagus. Saya sempat membaca mengenai investasi atau pendanaan Jerman yang blablabla pokoknya Jerman sangat pandai mengatur keuangan negaranya hingga ekonomi negara mereka tak terpengaruh krisis Uni Eropa. Bahkan Jerman juga menjadi salah satu donatur terbesar untuk UEA loo.
  5. Jerman merupakan kampung halaman para filsuf. Untuk poin ini, saya sebetulnya sempat membaca di blog seseorang yang saya lupa linknya. Memang benar bahwa Jerman ini merupakan penghasil ilmuwan, baik itu ilmuwan eksakta, politik, atau sosial. Sebut saja Albert Einstein (yang ternyata adalah WN Austria), Karl Marx, Immanuel Kant, Mozart dan juga Marthin Luther. Banyak orang sukses yang mengenyam ilmu mereka di Jerman, hidup di Jerman, atau mampir di Jerman hehehe. Jadi memang tak ada salahnya kok memilih Jerman sebagai negara tujuan belajar.
  6. Jerman merupakan negara terbuka. Ya! Jerman memang negara liberal dan setahu saya (hingga saat ini) bukan negara sekuler berlebihan seperti Prancis. Jadi kalau mau berhijab, silahkan saja. Apalagi komunitas muslim di Jerman juga semakin membesar. Orang Jerman merupakan orang yang cenderung cuek pada urusan orang lain, jadi mau ngapain pun bebas asalkan tetap mematuhi norma umum dan undang-undang Jerman.
  7. Orang Jerman merupakan orang yang sangat disiplin. Jadi, tak hanya belajar di kampus saja. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa belajar banyak dari orang Jerman. Bagaimana cara mereka menghargai waktu dan memperlakukan waktu dengan baik. Itulah yang bisa mengubah cara hidup kita sebagai orang Indonesia, terutama masalah kedisplinan. Berat awalnya, seperti memilah sampah (bayangkan pilahan sampah di Jerman ada berbagai macam jenis), atau mengikuti rute bus dengan jadwal yang ganjil (ya, jadwal angkutan di Jerman memang agak aneh, tidak genap seperti di Indonesia). Namun ya, seberat apapun hidup di sana memang itulah yang nantinya akan membentuk karakter kita apabila kembali ke Indonesia.
See how much benefit would we get when studying in Germany? Memang bayangan kita akan negara-negara di Eropa bisa jadi yang indah-indah saja. Kita bisa keliling Eropa hanya dalam sekali tempuh kereta atau bus. Tapi ingat, semua itu hanya iming-iming. Sebetulnya kalau kita sendiri hidup di sana belum tentu kita akan betah karena hidup di negara orang pastinya jauh LEBIH KERAS dibanding hidup di negara sendiri. Dan saya sedang menyiapkan mental untuk itu.

Antara sadar dan tidak, antara percaya dan tidak. Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus bertolak ke Jerman tahun depan (yah meski sekarang saya tengah bingung, sibuk, dan depresi perkara pendaftaran universitas). Lalu kembali lagi ke Indonesia dan menghasilkan sesuatu yang berharga bagi rakyat Indonesia. Tak perlu berkata besar, perubahan dapat dimulai dari hal kecil. Dan sekianlah curhat saya mengenai kecintaan saya pada Jerman, keinginan saya untuk melanjutkan studi ke Jerman, dan alasan kenapa saya memilih kuliah di Jerman.

Semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian dan saya mohon doa pada pembaca sekalian agar pendaftaran saya ke universitas dan segala urusan saya untuk melanjutkan studi di Jerman senantiasa diberikan kelancaran #mintadoa #belumdapatuniversitas

Semoga rahmat Allah bersama saya dan segala yang saya impikan dapat berjalan lancar. Amin Ya Rabbal Alamin~


Masih ditulis di Malang, September 2016