What's Trend?!


Apakah sebuah tren harus selalu berkaitan dengan originalitas? Bisa ya, bisa juga tidak. Yang jelas tren harus selalu dimulai terlebih dahulu. Sayangnya tidak semua orang menyadari bahwa tren bisa dimulai dari hal yang kecil. Celetukan contohnya atau fashion sebagai contoh universalnya. Namun tak serta merta tren fashion bermula dari ide original bukan? Berkata mengenai originalitas, segala sesuatu di dunia tidak sepenuhnya original namun bermula dari sesuatu yang telah namun diberi pemanis atau manfaat tambahan untuk membuatnya berbeda. Ojek online contohnya, ojek sudah ada namun seiring perkembangan teknologi, manusia dituntut untuk mendapatkan kemudahan hanya dalam genggaman.

Yang perlu dikritisi dalam perkembangan tren dan segala yang hal yang cepat menjadi viral di masyarakat Indonesia ini adalah kemauan untuk memfilter serta memandang dari bermacam perspektif. Bahan-bahan berita di sosial media atau bahkan media massa dapat dengan mudahnya diserap oleh masyarakat Indonesia yang notabene “malas” untuk melakukan klarifikasi atas keabsahan berita yang mereka terima. Hasilnya? Cyber war dan perpecahan. Oleh sebab itu, peran media dalam menciptakan atau mendorong viralnya suatu tren berperan penting. Media harus tetap dalam koridor deliver the truth bukan twist the facts.

Di sisi lain, dibutuhkan pula orang-orang kreatif berkarakter positif untuk menghasilkan tren yang juga positif bagi orang lain, bukan seperti selebgram yang baru saja ditegur KPAI. Memang benar ketika masyarakat sosial media terbentuk, hak untuk menyebarkan privasi juga muncul. Namun tetap saja hanya untuk menjadi trendsetter bukan berarti seseorang harus menjual privasinya yang bertabrakan dengan norma sosial. Jadi, tren juga harus diciptakan dalam koridor norma yang melingkupi kondisi sosial masyarakat.

Ketidakmampuan masyarakat kita untuk memilah tren positif dan negatif seharusnya menjadi penggerak media massa untuk menjadi guide agar masyarakat tidak tersasar konten negatif. Masyarakat yang cerdas dimulai dari pembaca yang cerdas, pembaca yang cerdas dimulai dari konten yang cerdas pula. Dan konten yang cerdas dimulai dari penulis yang cerdas. Oleh sebab itu, peran penulis sangat berpengaruh sebagai ujung tombak konten yang cerdas.

Terlepas dari semua hal itu, tren juga bisa membawa keuntungan bagi sebagian orang. Ketika hallyu wave datang menggusur musik Indonesia, para produser berbondong-bondong menciptakan tren girl group dan boy group untuk memenuhi permintaan pasar musik. Ketika vlog menggusur pengguna blog juga, rejeki berdatangan bagi mereka yang telah memiliki subscriber dan views ribuan di Youtube. Intinya adalah tren yang muncul membagikan rezeki bagi mereka yang mampu melihat peluang dengan jeli.

Dan masalahnya adalah bagaimana kita memulai sebuah tren? Ide dan kreatifitas adalah kuncinya. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tren tidak memerlukan originalitas penuh. Ambil hal yang telah ada lalu bumbui sedikit agar dia menjadi unik maka tak butuh waktu lama hal itu akan segera menjadi tren. Eksis di sosial media juga menjadi salah satu jembatan utama menuju pencipta tren karena setiap orang di dunia pernah menjadi hipster, creating trend before it was cool. Modal utama seorang trendsetter adalah keunikan dan cara berpikir di luar kebiasaan. Sanggupkah kita menjadi sosok itu? Hanya kita yang bisa menjawabnya.