Cuma Pengen Cerita: Jogja di Awal Tahun (2)

Jadi, kali ini aku akan bercerita episode jalan-jalan ke Jogja di awal tahun bagian kedua. Yah, meski juga sebetulnya gak banyak orang baca. Tapi aku yakin se-gak berfaedahnya tulisanku, bakal tetap ada yang baca dan bakal tetap terindeks di Google. 

Ngeblog kali ini memang agak lebih susah daripada beberapa tahun yang lalu. Satu, entah karena aku seringkali terdistraksi oleh segala hiburan yang ada di internet. Dua, sudah males nulis dan sudah capek. Tiga, karena era sekarang lebih banyak didominasi oleh VLOG daripada Blog. Tapi ya gimana, aku tetap membudayakan untuk menulis blog. Karena seperti alasan yang sudah pernah aku bilang sebelumnya, tulisan akan lebih memudahkan orang untuk mencari informasi daripada video. Ya karena tulisan akan ada di situ-situ aja, bisa disearch menggunakan "FIND" dan juga penjelasannya lebih clear, itu menurutku sih.

Sejujurnya, aku paling malas sih menanggapi orang-orang yang malas membaca. Di satu sisi, era VLOG sangat membantu dan bagus banget karena lebih bisa memberikan gambaran nyata mengenai sesuatu yang diceritakan dalam VLOG tersebut. Di sisi lain, orang jadi manja dan malas membaca. Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Indonesia kesadaran membacanya sangat rendah eh malah dijejeli VLOG.

Hal ini sering banget aku temui pada anak-anak yang berkunjung ke blog-ku dan membaca tulisan mengenai Magang di OJK. It's not like I'm being bothered because you guys ask me but I just don't like your attitude of asking non-sense question which I had written on that post. Jadi, ya banyak banget anak-anak magang yang tanya hal-hal yang sudah kutulis di blog, SUDAH KUTULIS! Buat apa aku nulis di blog kalau kalian gak baca guys? Tanyakanlah hal yang lebih penting dari itu, atau kalau misal informasi di blogku kurang memenuhi ya kalian bisa akses sendiri lewat web instansi bersangkutan bukan?

Dan aku paling males kalau ditanya, "Kak, apa kirim proposal magang ke OJK bisa lewat e-mail?" Ini adalah pertanyaan yang menunjukkan bahwa si calon pemagang tidak memiliki usaha. Kenapa? E-mail kan gratis, tinggal attach-attach doang. Keliatan banget dong kalau dia ini calon-calon generasi yang maunya instan doang. Padahal, meski tidak tertulis, mengirim berkas lewat pos ke instansi pemerintah adalah hal yang dianggap paling sopan.
 

Lah kok malah curhat. Baiklah bagi kalian-kalian yang belum membaca cerita awalan di Jogja. Baca dulu deh bagian pertamanya.


Hari kedua, setelah sempat jatuh sakit dan gagal merayakan tahun baru di Jogja alias pindah tempat tidur awal tahun doang. Esoknya aku dan keluarga melanjutkan perjalanan. Memang the power of social media. Atau setidaknya begitulah konsep liburan keluargaku kali ini. Seperti yang sudah aku singgung di postingan sebelumnya, kali ini kami tidak mengunjungi destinasi wisata mainstream seperti candi Borobudur, Prambanan, atau Parangtritis tapi kami lebih mengeksplor sisi alam Jogja.

Lalu tujuan hari kedua tersebut adalah daerah Kulonprogo, Kalibiru, Jogjakarta. Wisata alam di Jogja ini lebih mengedepankan perbukitan dan pegunungan. Dan aku baru tahu bahwa Jogja tak melulu panas, ternyata Jogja sama saja dengan Malang yang terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi. Hanya saja tidak banyak orang yang mengeksplor keindahan Jogja sebelum era sosial media ini.

Well, kalau aku bilang sih objek wisata terbaru di Jogja ini ditemukan oleh para eksplorer. Mirip seperti di Malang. Banyak sekali pantai perawan dan air terjun yang tak terjamah dan belum dijadikan destinasi wisata sebelum ditemukan oleh anak-anak petualang yang kemudian mengunggah fotonya di sosial media. Kira-kira aku punya bayangan seperti itu. Dilihat dari perawatan tempat, memang objek wisata baru ini cenderung masih muda dan belum dirawat sedemikian rupa oleh pemerintah layaknya Borobudur, Prambanan, atau Parangtritis.

Kalibiru sendiri sebetulnya hanyalah lanskap dari dataran tinggi. Tidak ada yang istimewa dari tempat ini kecuali pemandangan alamnya yang ciamik. Sayangnya pemandangan tersebut tidak dapat dinikmati dengan santai karena orang-orang berbondong-bondong narsis dan mengabadikan momen hanya untuk menandai bahwa mereka pernah ke Kalibiru. Keluarga kami contohnya.


Perilaku orang Indonesia yang seperti inilah yang dijadikan lahan bisnis oleh pengelola tempat. Mereka tahu bahwa turis tidak ke Kalibiru untuk menikmati alamnya tapi berfoto dengan alamnya. Oleh sebab itu, di Kalibiru dan beberapa daerah wisata bertema perbukitan lainnya menyediakan jasa foto. Yang tentu saja tidak murah, Rp 15.000/per orang dan Rp 5.000 tiap foto yang diambil.

Ada beberapa spot foto yang dijadikan ladang bisnis dan bisa bayangkan berapa omzet mereka dalam sehari? Yang jelas lebih dari gaji PNS dalam sebulan!





Setelah Kalibiru, kami melanjutkan perjalanan ke hutan Mangrove. Waktu kami habis di Kalibiru karena antrian foto yang mengular dan membeludak. Jadinya, kami hanya dapat mengunjungi dua destinasi wisata saja dalam sehari tersebut. Hutan mangrove ini juga terletak di daerah Kulonprogo, berdekatan dengan area pantai Selatan Jogja. Apa benar pantai selatan? Entahlah.

Dan lagi-lagi, THE POWER OF SOCIAL MEDIA. Hutan Mangrove ini tidak sebagus hutan mangrove yang terdapat pada foto-foto di sosial media. Kalau kata temanku sih, semua ini tergantung angle dan pencahayaan. Dan jangan lupa editan juga.





Yah bukannya tidak bersyukur atau gimana ya. Kadang kalau kita berkontemplasi lebih jauh, semua hal yang berhubungan dengan destinasi wisata yang dikomersilkan memang menyisakan setitik kekecewaan. Tapi untungnya foto-foto di Kalibiru hasilnya bagus jadinya engga mengecewakan. Hanya saja, ketika kita main ke alam ya sudah sepatutnya kalau kita menikmati alam tersebut bukan?