Cuma Pengen Cerita: Jogja di Awal Tahun (3-Habis)

Sebetulnya aku gak biasa sih menulis postingan blog model series begini. Biasanya langsung 1 bagian habis gitu. Ya biasalah aku kan anaknya to the point engga kepanjangan mukaddimah. Dan sepertinya pola menulis blogku sudah agak berubah sejak akhir tahun lalu. Mungkin karena terlalu banyak baca blog-nya Ron juga kali ya? Jadi sedikit banyak terinfluence gaya penulisan dia yang pake mukaddimah panjang-panjang. Tapi ya gak sepanjang itu sih. Cuma kadang-kadang curhat aja.

Nah, di postingan kali ini lagi-lagi aku gak akan menulis terlalu panjang. Karena sebetulnya esensi dan kritikan yang kurasakan selama liburan ke Jogja di awal tahun ini sudah terangkum di postingan pertama. Just in case kalian belum baca, silahkan klik ini deh.


Dan maafkan bahwa kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Ekspektasiku sih aku akan menulis lagi perjalanan ke Jogja bagian 3 ini berselang dua hari dari postingan kedua, nyatanya kesibukan membuatku menunda-nunda penulisan blog ini. Dan sebetulnya juga agak disayangkan sih karena akhir-akhir ini page view blog-ku semakin dikit aja. Apa yang harus aku tulis agar page view blog-ku naik? Ha ha ha

Sepertinya aku harus menjelajah pantai baru agar blog ini terindeks di halaman pertama Google. Bisa bisa. Tapi yah, sejak jadi wanita karir (weset, gaya lo!) waktu yang kumiliki untuk bermain-main memang sedikit berkurang. Ya jangankan main, orang nulis blog aja jarang sempatnya kok.

Udah lah daripada kebanyakan bacot tak berfaedah, lebih baik kita lanjutkan bercerita mengenai perjalanan ke Jogja.

Jadi, di hari ketiga sekaligus hari terakhir kami sekeluarga memutuskan untuk (lagi-lagi) pergi ke alam. Hari ini tujuannya adalah Bantul. Kami menyiapkan itinerary dadakan karena memang tujuan pertamanya adalah Hutan Pinus Imogiri. Bisa dibilang, Hutan Pinus Imogiri ini sesuai banget sama ekspektasiku, beda dengan destinasi-destinasi di hari sebelumnya yang nipu doang.

Omong-omong tentang nipu, semalam aku sempat nongkrong bersama para kesayanganku. Memang aku mengaku bahwa sedikit banyak wisata alam di Jogja tuh menang di sosmed doang, dan rupanya temanku tertipu juga. Ketika aku bilang mengecewakan, dia tak percaya. "Lah foto di Instagramnya Agista bagus-bagus." Yah mungkin seperti itulah yang aku lihat saat orang-orang mengunggah foto indah mereka di Instagram. Semua tempat tampak bagus karena angle dan pencahayaan (jangan lupa sedikit editan) maka tempat itu akan menarik wisatawan. Padahal kenyatannya? Pfffftttttttt~

Dan intinya adalah, aku juga melakukan penipuan via sosmed terhadap tempat-tempat yang aku kunjungi di Jogja. Kekekeke!

Kembali lagi ke Hutan Pinus Imogiri, hutan ini terletak di daerah Bantul. Ya namanya juga hutan pinus ya memang tempatnya di dataran tinggi. Kami berangkat dari hotel (dan kami sudah pindah btw) jam 7 pagi. Lalu sampai di sana pukul setengah 9. Beruntung kami datang pagi sekali karena masih sedikit pengunjung yang datang. Kami berada di sana sekitar 1-2 jam dan saat pulang, para pengunjung sudah berdatangan. Yah bisa dibayangkan bakalan secrowded Kalibiru atau tempat wisata lain.

Karena sepi pengunjung, kami bisa bebas berfoto-foto. Dan senangnya hatiku di hutan pinus ini aku mendapatkan beragam foto yang ciamik. Beda dengan tempat-tempat sebelumnya yang crowded jadi agak susah menemukan spot foto yang bagus. Itulah sebabnya Instagramku dipenuhi dengan diriku yang berkaos kuning. Karena memang waktu itu kostumku adalah kaos Joger warna kuning T.T




Setelah mengunjungi Hutan Pinus Imogiri yang ternyata gak cuma satu lokasi. Jadi, di hutan pinus tersebut ada beberapa pintu masuk hutan yang dikelola oleh penanggung jawab yang berbeda (?) Sekilas tampak sama tapi masing-masing hutan punya tempat khusus mereka sendiri. Hmm yah begitulah. Jadi, kami turun dan pergi ke Kebun Buah Mangunan.

Sebelum ke Mangunan, kami sempat terpikir untuk mengunjungi suatu tempat bernama seribu apa gitu. Tapi Ayah dan Ibu sudah nyerah duluan begitu diberitahu bahwa untuk sampai ke tempat tersebut butuh jalan kaki bermeter-meter dan naik turun. Well, akhirnya cuss lah ke Mangunan.

Yang membuatku sebal adalah keengganan Pak Supir. Jadi si supir ini keliatan malas banget nyari palang penanda atau mengunjungi tempat baru. Bahkan untuk palang yang jelas ada tulisannya aja dia sok-sok gak liat akhirnya dibablasin. Duh ya kalau malas melayani tamu mending gak usah kerja aja napa sih. Ya kan terserah tamunya mau kemana, tugas tinggal mengantar aja kok susah. Padahal ya ada GPS, ada palang penunjuk jalan juga. Kok takut gak tahu mana-mana sih. Sebel!

Mangunan sebetulnya cukup bagus. Seriusan viewnya sih epik, mirip-mirip dengan Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Jadi meski namanya kebun buah, aku tak sempat lihat di mana kebun buahnya. Karena ya itu tadi, orang tua terlalu terburu-buru jadi engga sempat mengeksplorasi bagian bawah. Padahal di Mangunan juga menyediakan spot untuk berfoto di Kalibiru. Tapi tak apa, uang sudah habis buat foto-foto di Kalibiru.


View dari kebun buah Mangunan


Setelah Mangunan, kami bingung mau ke mana akhirnya aku cari-cari lah tempat di Instagram. Nemunya sih pantai tapi Ayahku tidak suka pantai, jadi ya di-Skip, apa kata Baginda lah pokoknya orang yang bayar beliau  semua. Jadi ya terpaksa daripada kembali ke Museum deMata yang udah dikunjungi (Ayah ngotot ke deMata btw), jadi aku sarankan untuk ke Ratu Boko saja. Karena yah, kami belum pernah ke Ratu Boko sih.

Ratu Boko berbeda dengan Prambanan dan Borobudur terakhir kali aku kunjungi. Ratu Boko terlihat lebih berkelas dan dirawat dengan baik. Bahkan di pintu masuk terdapata restoran ala-ala resto mahal gitu. Tiket masuk Ratu Boko Rp 25.000-30.000/orang. Belinya agak jauh dari pintu masuk dan sistemnya sudah menggunakan barcode ala-ala Subway gitu.

Jalanan menuju situs bersejarah juga sudah dipugar sedemikian rupa hingga tampak bagus. Beda dengan Prambanan atau Borobudur. Sayangnya, eng ing eng, Ratu Boko cuma gitu doang hahaha. Jadi setelah melalui jalanan sepanjang 50 meter atau lebih, terdapat sebuah gerbang Ratu Boko dan di balik gerbang tersebut, lebih banyak hamparan rumput daripada bangunan Candi. What to expect? I expected temples lol!

Setelah berjalan bentar, kami cuma foto-foto beberapa menit lalu kembali ke hotel. Lol banget pokoknya. Ya sebetulnya kalau tidak bersama orang tua, bakal masih banyak deh foto yang bisa kuambil. Sayang, natur orang tuaku emang keburu-buru. Entah kenapa. Begitulah berwisata dengan orang tua, gratis tapi tidak bebas.



Because Fxxk The Police lol!
Oh ya ada beberapa hal yang miss dan belum aku ceritakan di postingan sebelumnya. Yang pertama adalah perpindahan hotel. Jadi seperti yang sudah aku ceritakan Hotel D Tjokro yang terletak di Jalan Tamansiswa Jogjakarta adalah hotel yang sangat minus. No breakfast, bad service, and bad rooms. Gak recommended banget untuk nginep di sana se-kepepet apapun. Better look for Losmen or Backpacker hotels. Karena pengalaman yang sangat tidak nyaman di Hotel D' Tjokro Jogjakarta, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke hotel di tengah Malioboro (dengan harga yang beda 100 ribu doang, kami mendapatkan service yang jauh lebih bagus), yakni Hotel Mutiara Malioboro.

Lalu di hari kedua, kami juga berbelanja kaos di sebuah produsen kaos semacam Joger. Tempat ini recommended. Kain kaosnya memang tidak setebal Joger tapi bagus dan enak dikenakan. Selain itu sablonannya juga bagus. Aku tidak tahu tempat ini dimana soalnya memang berada di gang sempit. Jadi kalau kalian ingin membeli oleh-oleh mending ke pusat kaos Jogja ini saja. Dan harganya? Murah, jauh lebih murah dari Joger. Kalau di Joger 100k hanya mendapatkan satu kaos, di sini kalian bisa mendapatkan 2 kaos! Pssttt, belum banyak yang tahu tempat ini lho!

Well, begitulah kisahku di Jogja Awal Tahun 2017. Selamat tahun baru! Jangan lupa untuk bersyukur dan aku juga. Meski sempat kecewa, aku tetap bersyukur diberikan kesempatan untuk berlibur bersama keluarga. Yah, kita tidak akan pernah tahu kapan kita bisa berlibur bersama keluarga lagi bukan?