Kisah Kasih di Sekolah [Part 1]


Sebetulnya postingan blog kali ini itu berawal dari perenungan pas tadi pagi lagi nyapu rumah. Yang menyebabkan ide ini muncul adalah kisah cinta unik, inspiratif, dan aneh yang sering aku kerjakan ketika bekerja. Entah kenapa akhir-akhir ini tuh aku mengerjakan kisah cinta viral yang kadang kalau dipikir kok receh banget gitu. Yah walaupun kisah cintaku jauh lebih receh dari yang jadi viral sih. Tapi ya ditulis aja, siapa tahu jadi viral kan? Hahaha.

Jujur, aku tuh baru punya mantan 3. Dan ketiga-tiganya itu adalah teman satu sekolahku. Dua adalah teman sekelas dan satu adalah kakak kelas. Kalau dipikir-pikir lagi, ternyata aku adalah tipe orang yang menyukai seseorang karena terbiasa (atau mungkin engga?) karena dalam kasus tertentu aku justru bisa tiba-tiba seneng aja gitu sama seseorang. Ya udah sih dasarnya emang gak bisa menjaga pandangan mata hahaha.

Well, rencananya aku mau bikin penggalan KISAH KASIH DI SEKOLAH sejak aku merasakan cinta (?). Kenapa judulnya dah macam judul lagunya Koes Plus? Karena ya judul itu paling nendang. Rasanya aku lebih banyak jatuh cinta saat di sekolah daripada di luar sekolah. Karena hidup sebagai orang dewasa itu juga butuh energi dan waktu yang terbuang makin sia-sia.

Jadi ada setidaknya tiga fase dalam kehidupan percintaanku (ecieh) yakni Cinta Pertama, Berani Pacaran, dan yang terakhir Cinta Panas Ala Orang Dewasa (?) Ahahaha canda. Baiklah judul terakhir nanti saja dipikirkan. Mari kita buka bagian pertama serial KISAH KASIH DI SEKOLAH (jangan lupa mainkan background music SUNNY - BUNGA CITRA LESTARI) yakni ...

CINTA PERTAMA
Sebetulnya sebelum aku bilang kalau sosok yang akan aku ceritakan ini adalah cinta pertamaku, aku tuh sudah naksir berbagai orang. Mulai dari yang badannya bongsor, gede gitu sampai mas mas cungkring yang ganteng banget dan bibirnya merah. Tapi, dia ini sosok yang benar-benar bikin aku merasakan sakitnya patah hati untuk yang pertama kalinya hahaha.

Temen-temenku mungkin bosan mendengar kisah cinta pertamaku ini lagi dan lagi tapi aku jarang banget mengisahkan kisah cintaku-seserius ini-di blog. Butuh waktu lama, butuh beberapa tahun berlalu agar aku punya keberanian untuk menceritakan 'dia'.

Kami berjumpa saat hal buruk melanda sekolah kami, bukan hal buruk bagi sekolah tapi hal buruk bagi para siswa. Saat itu adalah kelas 7 semester dua. Aku berada di kelas 7E, kelas yang asyik dan menyenangkan. Aku juga punya teman-teman baik di sana (pada saat itu aku masih ekstrovert dan punya banyak teman). Ada sebuah pengumuman mengejutkan dari sekolah yakni memangkas jumlah anak per kelas.

Pada saat itu, satu kelas berisi sekitar 40 anak, karena sekolahku sedang mengikuti perlombaan ya jumlah anaknya dipangkas jadi tinggal 32 atau 35 orang. Walhasil sekitar 3-5 orang anak dibuang dari masing-masing kelas dari 7A hingga 7I. Aku termasuk anak-anak 'yang dibuang' di kelas baru yakni 7J. Di sinilah kisah cinta pertamaku bermula.

Aku ingat sekali pada saat itu kelas 7J betul-betul tersisih dan 'berbeda' dari kelas lain. Aku ingat dengan jelas pertama kali aku ngobrol dengan sosok 'dia'. 'Dia' waktu itu masih lucu, gendut, menggemaskan. Aku menanyakan namanya, "Hai, namamu siapa?" dan 'dia' memberitahukanku namanya. Nama yang indah yang teruntai dari tiga kata.

Kata pertama di namanya mengingatkanku pada almarhum adikku, mungkin sejak saat itulah aku mulai menaruh rasa padanya. Namun dia tak pernah sadar, iya tak pernah. Aku masih bocah, kucel, dekil, tomboy, slengekan, dan lain-lain. Aku memendam rasa untuknya sendiri hingga kami berpisah saat kami naik ke kelas dua. Dia berada di kelas 8F dan aku di 8A, beda 5 kelas.

Tapi hal itu tak menghentikanku untuk mengaguminya setiap hari. Bahkan aku masih sempat memberanikan diri untuk menyapanya pagi-pagi saat dia baru datang. Dia membalas dengan senyum manisnya, senyum yang sampai saat ini pun tak bisa hilang dari ingatanku. Ah, aku bernostalgia sendiri jadinya.

Hampir satu tahun lebih aku memendam perasaanku saat itu. Cuma bisa memandangnya dari jauh. Jujur aku tak bisa mengungkapkan perasaanku karena: 1) aku belum boleh pacaran oleh orangtuaku, 2) aku tak berani, 3) aku tak ingin dia menghindariku. Lambat laun teman-temanku tak betah melihatku jadi pemain pasif, suatu kali salah satu sahabatku mengatakan pada si 'dia'. Sementara aku hanya bisa memandangnya lewat jendela kelas dari lantai dua.

'Deg, deg, deg.' sebetulnya tanpa aku tanya apa hasilnya pada temanku aku tahu kalau dia tak tertarik denganku. Dengan kata lain dia menolakku. Aku sadar diri, aku bukanlah sosok yang cantik atau modis seperti teman-temanku yang lain. Aku ya aku. Aku adalah siswa tercuek yang pernah kamu temui di sekolahmu.

Dan benar, 'dia' hanya mengucapkan terima kasih tanpa mengatakan apapun lagi. Antara lega dan tidak. Lega karena perasaanku tersampaikan. Tidak lega karena aku tidak mengatakannya langsung waktu itu.  Tak berselang lama setelah dia tahu bahwa aku menyukainya, dia malah jadian dengan temanku. Temanku yang dulu sekelas denganku di 7E.

Saat itu sedang ada les bahasa Inggris dan sudah menjadi kebiasaanku untuk mengintip ke kelasnya ketika dia sudah pulang. Namun aku malah memergokinya berbicara dengan temanku di 7E. Kukira ada apa, lalu aku bertanya pada sahabatnya yang dulunya juga sekelas denganku di 7J. Ternyata, 'dia' jadian dengan gadis itu. Itu adalah patah hati pertama yang kurasakan.

Mungkin terdengar terlalu hiperbolis tapi pada saat itu aku tak bisa menahan air mata. Aku menangis sejadi-jadinya. Ini aneh tapi ini nyata. Gila kan? Ya cinta memang bikin gila. Hingga saat ini aku benar-benar ingat seperti apa rasanya patah hati melihat seseorang yang ditaksir jadian dengan orang lain. Dan sejak saat itu aku memutuskan untuk tak lagi menghiraukannya, ya karena aku sakit hati sendiri. Lucu banget!

Meski sakit, meski aku ditolak, dan meski yang lainnya anehnya aku masih menyukainya hingga kelas beranjak ke kelas 9. Aku masih mencari tahu lebih lanjut keadaannya. Aku bahkan tahu bahwa dia jadian lagi dengan teman kelasku di 7E dan 7J sekaligus. Dan temanku yang ini cukup dekat denganku. Aku ingat sekali saat itu aku ditanya, "Eh, gebetanmu naksir aku lo. Gakpapa nih kalau aku jadian sama dia?" kira-kira begitu. Ya perih, ya sakit tapi ya aku bisa apa? Aku cuma bisa melihat mereka berdua bersama.

Ada suatu masa ketika si 'dia' baru putus dari pacarnya. Dia sempat menyapaku tapi aku malah mengacuhkannya. Entah mengapa saat ini aku merasa tindakanku ini sungguh bodoh. Aku benar-benar menyesal telah melakukan itu padanya. 

Sebetulnya sampai saat ini masih ada rasa tertinggal untuk cinta pertamaku lho. Kalau memang ada kesempatan atau kemungkinan bahwa dia menyukaiku mungkin aku akan langsung berkata "YA!". Sayangnya mungkin kami tak berjodoh dan aku sudah melihatnya berkali-kali dengan wanita-wanita lain. Dan tentu saja wanita-wanita itu jauh lebih cantik dariku. Jadi aku pikir, yah biarlah dia bahagia bersama jodohnya dan aku bahagia menjalani hidupku. Toh, dirinya hanyalah bagian dari masa laluku yang senantiasa aku kenang ;)