Review Film: Moonlight [2017]

Disclaimer: Bukan, penulis bukan nonton ini karena gelaran Oscar telah usai dan film ini sukses membawa pulang piala Best Picture (yang dipenuhi dengan drama itu). Tapi memang karena baru sempat nonton aja.


Well, karena akhir-akhir ini cukup sibuk dan menyibukkan diri agar tak terlalu berlama-lama sedih jadi aku masih belum sempat menonton deretan film yang masuk dalam nominasi Oscar. Tak biasa memang, apalagi pada perhelatan Oscara tahun sebelumnya, aku selalu menonton film-film tersebut sebelum Oscar dihelat. Tapi ya mau diapakan lagi? Toh, sekarang mencari download-an film Oscat juga agak susah sejak kickass torrent ditutup (ketauan pembajak). Sudahlah bukan itu duduk permasalahannya, lebih baik fokus pada review filmnya saja.

Sebetulnya agak tergelitik juga kenapa MOONLIGHT didapuk sebagai pemenang Best Picture, alih-alih LA LA LAND yang sutradaranya, Damien Chazelle, berhasil membawa pulang piala. Biasanya Best Director jadi satu paket dengan Best Picture namun ternyata Oscar tahun 2017 memang penuh dengna plot twist! Berangkat dari sini akhirnya aku ingin membuktikan apakah juri Oscar tidak salah pilih? Yang mana aku sendiri juga belum menentukan pilihan sih, tapi aku prediksikan HIDDEN FIGURES. Ah, okay kita nonton film itu nanti.


MOONLIGHT memenangkan kategori Best Adapted Screenplay juga, film ini memang diadaptasi dari sebuah buku berjudul In Moonlight Black Boys Like Blue. Mirip dengan sebuah buku, film ini juga dibagi ke dalam tiga bab. Bab i. little, ii. Chiron, dan iii. Black. Sekilas mengingatkan pada Boyhood yang membawa pulang piala Golden Globe tahun 2015 lalu. Bisa dibilang garis besar cerita sama, yakni pertumbuhan seorang anak yang berada di lingkungan 'tidak sehat'.

Chiron (Alex Hibbert) adalah tokoh utama dalam film ini. Waktu kecil dia dijuluki little dan sering dipanggil teman-temannya Faggot (bahasa slang Amerika untuk Gay), karena hal ini Chiron kecil dibully. Beruntung, Chiron masih dapat bertemu dengan Juan (Mahershala Ali), seorang pengedar narkoba tapi berhati lembut. Alih-alih tumbuh dengan baik di bawah didikan ibunya, Paula (Naomi Harris), Chiron malah mengalami masa kecil yang abusive. Sudah dibully teman-teman, tidak diperlakukan dengan baik oleh Ibu pula. Satu-satunya yang mau menyayangi Chiron adalah Juan dan pacarnya, Teresa (Janelle Monae) dan Kevin (Jaden Piner), sahabatnya yang ternyata menjadi cikal bakal penyimpangan seksual yang dialami Chiron.

Dari film ini, seseorang dapat belajar bahwa penyimpangan apapun memang berasal dari lingkungan yang tidak sehat. Seperti Chiron yang akhirnya memilih untuk jadi gay, meski tumbuh besar macho dan sixpack. Aku secara pribadi mewajarkan penyimpangan yang dialami oleh Chiron karena dari kacamatanya, perempuan itu jahat sehingga membuatnya turn off ketika berurusan romansa dengan perempuan. Sementara para pria justru menyayanginya, sebut saja Juan dan Kevin. Logis?

Tak hanya itu, MOONLIGHT juga mengajarkan seseorang untuk dealing with your past. Dalam film ini, jelas Chiron bukan anak yang tumbuh di lingkungan nyaman. Hidup Chiron itu tough tapi dia tetap bisa melewati semuanya meski wajahnya tak pernah menunjukkan kebahagiaan sekalipun. Sekalipun sejak little, chiron, hingga Black. Apalagi Chiron kecil, Alex Hibbert benar-benar dapat membawakan wajah seorang anak yang penuh dengan beban hidup, kok kayak mikir berat gitu. Beranjak remaja, Chiron juga tetap gloomy dan menghindari pembully seolah sedang menahan sesuatu dalam dirinya. Dan ini cukup bikin penonton frustasi juga. Pada akhirnya saat menjadi Black, Chiron berhasil melepaskan itu semua.


Entah apakah film ini memang pantas mendapatkan Best Picture atau tidak tapi dibandingkan LA LA LAND, tentu saja film ini lebih gelap, lebih berat, dan lebih pantas menyandang titel tersebut. Musiknya memang tidak se-ear catchy LA LA LAND tapi benar-benar diramu dengan tepat sehingga menambah nuansa kegelapan cerita film ini. Dan sepanjang pengamatanku, tidak ada pemeran berkulit putih dari film ini, dan ini cukup membuat bertanya-tanya sih. Kok bisa ya pemerannya kulit hitam semua?

Anyway, film ini memang anti-mainstream karena 1. menggunakan pemeran berkulit gelap, 2. mengangkat kisah LGBT di kalangan kulit gelap. Mungkin dari pertimbangan tersebut, para juri Oscar memutuskan bahwa film ini adalah film terbaik yang diproduksi pada 2016 lalu. Dan omong-omong soal Mahershala Ali, actually aku masih mempertanyakan kenapa dia bisa menyabet Best Supporting Actor? Karena dalam film ini Mahershala hanya muncul 1/4 dari durasi film. Apakah karena akting dan perannya dalam hidup Chiron cukup besar sehingga Mahershala membawa pulang piala tersebut? Masih jadi pertanyaan.

Dan yang kedua, kenapa Best Supporting Actress jatuh ke Viola Davis? Sementara akting Naomi Harris di sini benar-benar perlu diacungi jempol. Well, sepertinya aku harus menonton Fences terlebih dahulu untuk membuktikan apakah keputusan juri Oscar sudah tepat. At least, you should watch this movie so that it could broaden your mind.

P.S: Seperti biasa, film-film Oscar adalah film yang sarat dialog dan beralur lambat jadi ya yang betah aja nontonnya.

Plot★ ★ ★  ½ 
Akting★ ★ ★ ★ ☆
Musik★ ★ ★ ½
Grafis★ ★ ★ ☆ ☆
Overall★ ★ ★ ½  ☆