Review Film: Only Yesterday [1991]


Sebetulnya sudah lama sejak aku meluangkan waktu untuk menonton film, apalagi film-film Ghibli. Sejak mengenal Sprited Away, aku memang menahbiskan diri untuk jadi fans Ghibli. Sebab studio animasi asal Jepang ini memang selalu punya kisah unik, eksentrik, sekaligus menggelitik. Gak ada orang yang bisa menolak sisi magis dari dunia Ghibli yang dihadirkan oleh Hayao Miyazaki atau slice of life yang bikin nangis sesenggukan seperti karya Isao Takahata.

Sudah lama sejak aku mereview film Ghibli terakhir, aku tak lagi mereview dunia magis dan fantasi Ghibli. Ada kurang lebih tiga film lain yang belum aku review yakni Nausicaa of The Valley of the Wind, Kiki's Delivery Service, The Borrowers Arietty, The Wind Rises, dan In The Heart of The Sea. Lah ternyata ada 5 film malah. Dan sekarang karena aku juga ditodong oleh seorang penggemar Ghibli lainnya, aku jadi ingin mereview salah satu film Studio Ghibli ONLY YESTERDAY.

Taeko Okajima adalah seorang anak berusia 10 tahun biasa, dia tumbuh dewasa apa adanya tanpa ada hal istimewa. Yah setidaknya begitu bagi orang lain. Namun setiap orang pasti memiliki keinginan istimewa sendiri yang tak bisa diukur secara universal bukan? Begitu pula Taeko.



Only Yesterday bukanlah film yang penuh dengan makhluk fantastis atau dunia di luar imajinasi seperti karya Hayao lainnya. Namun apa yang ingin disampaikan oleh Isao Takahata dalam film ini cukup nendang juga. Taeko yang menurut penonton hanyalah bocah biasa ternyata baru bisa memahami hidup dan memaknai segala hal yang terjadi di usianya yang baru 10 tahun setelah menginjak usia 27. 

Only Yesterday mengisahkan perjalanan Taeko yang mengambil cuti dengan mengunjungi sebuah desa di Jepang, jauh dari kota. Memang alam adalah pelarian terbaik dari hiruk pikuk kehidupan yang fana ini bukan? Di desa tersebut, Taeko dipertemukan dengan Toshio putra pemilik ladang tempatnya menghabiskan masa cutinya yang hanya berjumlah 10 hari. Waktu bergulir seiring Taeko menghabiskan waktunya di desa, waktunya mengingat kembali kenangannya saat masih berusia 10 tahun.


Berbeda lagi dengan karya Hayao yang cenderung menyelipkan subliminal message alias unsur ekstrinsik tersirat, Isao Takahata dengan jelas menyuguhkan apa-apa yang ingin disampaikannya dalam sebuah animasi. Contohnya dalam Only Yesterday, dengan jelas Isao Takahata menggambarkan kegalauan bocah 10 tahun dalam memaknai hidup. Dengan jelas Isao Takahata menyampaikan pesan bahwa seseorang setidaknya harus memiliki ME TIME dengan meninggalkan rutinitas. Dengan gamblang pula Isao Takahata menyalurkan pada penonton bahwa Jodoh itu akan datang tepat pada waktunya.

Memang Only Yesterday tidak terlalu mengharukan apalagi sampai menguras air mata seperti Grave of The Fireflies tapi alur penyampaian film ini begitu dewasa dan membuat penonton sadar. Ada banyak hal yang sering terlewatkan dalam hidup, padahal meski kecil hal tersebut signifikan bagi kita di masa depan. Dialog dalam Only Yesterday juga sarat makna dan cocok banget dijadikan quotes-quotes lucu di Instagram. Jadi buat kamu penggemar Ghibli atau butuh film untuk meredakan rasa dahaga akan makna hidup, you should watch it.
Plot★ ★ ★ ☆☆
Akting★ ★ ★ ☆ ☆
Musik★ ★ ★ ★  ☆
Grafis★ ★ ★ ½ 
Overall★ ★ ★ ½  ☆    

Baca juga review Ghibli lainnya di sini!
Review Film : Spirited Away [2001]
Review Film : My Neighbor Totoro [1988]
Review Film : Howl's Moving Castle [2004]
Review Film : Grave of The Fireflies [1988]