Bicara Tentang Pernikahan, Manajemen Keuangan, dan Penyebab Putus


Sebetulnya hari ini gatel ingin komentar soal vonis Ahok sih. Because there are too much things to be criticised. Tapi ya daripada buang-buang tenaga dan pikiran untuk memberi pengertian orang bebal (ya, ini kubu pembela Ahok yang kumaksud) jadi lebih baik disalurkan ke hal lain saja yang kira-kira lebih berguna buat aku dan orang lain. Just in case ada yang penasaran sama opiniku, aku sih sejalan sama tulisan Gita Savitri Devi di sini. Intinya, we both wrong and mistaken but still Ahok deserved the punishment. Toh cuma dua tahun dan toh penjara kelas 1. I don't want to talk about the law or double standard thing or anything else related to him karena tentu saja bahasannya akan jadi panjang. Dan yah, aku sudah bilang aku gatel pengen komen tapi males banget buang-buang energi ngeladenin para pendukung Ahok yang justifikasinya gak abis-abis.

Nah, sebagai gantinya dalam postingan ini aku akan membahas tentang pernikahan yang mana menggelitik diriku selama beberapa hari terakhir. As usual, setiap postinganku selalu berkaitan dengan hal-hal yang aku alami atau cerita yang aku dengar. Tulisan ini pun begitu, tiba-tiba aja aku kepikiran bahas pernikahan karena salah satu teman dekatku mau menikah dan dia bingung mau mengambil langkah yang tepat untuk karirnya.

"Aku cerita ya..
Jadi aku skrg butuh lebih banyak pemasukan untuk married dan after marriage. Dan aku memutuskan untuk apply ke lain tempat. Akhirnya aku apply ke beberapa perusahan swasta multinasional. Awalnya aku apply di C, tapi ga se-passion, di tengah proses seleksi aku apply ke T, ini se-passion. Akhirnya aku dipanggil C untuk interview terakhir dan nego gaji. Di saat yg sama aku ditelepon T untuk interview awal. Akhirnya aku nolak C, karena ga se-passion dan ambil T yg belum tentu hasilnya. Baik trio maupun camline ada di Surabaya.
Aku bener2 ngarep di T, udah interview dan tes. Tapi udah 2 minggu lebih ga ada kabar.
Trus aku ketemu temenku kerja di W Jogja. Aku berminat. Secara fasilitas dan akomodasi, di W lebih mumpuni. Dan dia di jogja, yg menurutku biaya hidup lebih kecil dan kotanya ga sejahat surabaya. Tapi baru aja ditelepon T untuk besok diminta datang untuk interview dan negosiasi gaji. Wes aku bingung ambil T atau apply W
."
Jadi ada satu hal yang perlu di-highlight dari cerita temanku ini yakni PENGHASILAN. Untuk menikah tentu dong yang dibicarakan bukan cuma cinta. Apalagi di zaman modern dan serba mahal ini. Cinta gak akan memberi seseorang makan, ya kecuali pekerjaannya berkaitan dengan cinta-cintaan. But life doesn't work that way. Untuk bertahan hidup seseorang harus bekerja keras, mendapatkan penghasilan yang stabil baru bisa menjalani biduk rumah tangga. Agak bullshit juga kalau bilang pas nikah nanti rejeki pasti datang sendiri. Well, tetap butuh usaha sih. Qur'an sendiri sudah menyebutkan "Allah tidak akan mengubah hidup suatu kaum kecuali kaum itu merubah sendiri," yang artinya ya dimana ada usaha di situ ada hasil. Betul kan?

Jadi seberapa penting penghasilan ini sebelum dan sesudah menikah? Penting banget. Ketika seseorang memutuskan untuk menyempurnakan agama maka segala konsekuensi juga (harusnya) sudah siap dihadapi kan? Jadi bener deh yang namanya manajemen finansial sebelum menikah itu penting banget. Ini juga yang jadi salah satu alasanku menunda nikah dan sampai memutuskan pacarku karena dia ngotot ngajak aku menikah. Secara finansial, aku belum siap. Dan melihat kondisi keuangan (mantan) pacarku yang harus menanggung keluarga, aku benar-benar gak bisa menikah di usia segini.

Nah, temanku ini seumuran denganku (tahun ini 24). Dirinya berencana menikah tahun depan (25 tahun). Masalah biaya pernikahan sendiri, secara teoretis dan idealis memang bisa ditekan apalagi kalau kedua mempelai setuju nikahnya sederhana saja. Gimana pernikahan sederhana itu? Di KUA aja, gak perlu resepsi cukup makan malam. Tapi apakah itu mudah? Apalagi untuk temanku yang lingkungan keluarganya sepertinya mengharuskan dia untuk mengadakan resepsi besar. Jadi secara praktikal gagasan biaya nikah murah harus dicoret. Setidaknya butuh Rp 20 juta untuk penyelenggaraan pesta nikah super sederhana tapi apa iya? Apa teman-temannya saat SD, SMP, SMA tak diundang? Seems no. 

Maka dari itu aku sedikit salut dengan tekad temanku yang berpikiran untuk nikah dalam waktu dekat ini. Di satu sisi aku kagum karena dia berani ambil langkah besar untuk hidupnya, di satu sisi aku gamang dengan risiko yang akan dihadapinya. Contoh sederhana adalah kegalauannya mengambil tempat kerja itu. 


Sebagai seorang teman (yang tidak baik-baik amat dan berpikir cenderung simpel dan rasional), aku menyarankan dia untuk mengambil perusahaan T. Alasannya 1) dia mengaku satu passion dengan perusahaan tersebut 2) chance diterima besar karena sudah di tahap akhir. Setidaknya dua alasan ini bisa jadi pertimbangan dia untuk settle secara finansial. Dengan catatan, aku juga menyarankannya untuk tetap apply di perusahaan W because yeah who knows? Prepare for the worst scenario and take all the opportunity we had aja. Masalah kontrak dsb dsb bisa dibicarakan nanti, toh kita menghadapi dua ketidakpastian yang sama bukan?

Masalahnya adalah temanku ini sedikit defensif saat diberi masukan. Gini sih, just why do you ask opinion if you already decide what you want to do on your own? Well, aku adalah tipe orang seperti itu. Orang yang bercerita hanya untuk didengar tidak meminta solusi. Karena ya itu masalahku, jadi aku yang paling ngerti solusi yang baik buat aku. Bedanya, aku biasanya curhat cuma buat FYI aja nah temanku ini seolah meminta opini. Nah lho! Ya inti paragraf ini sih, kalau engga mau dengerin masukan ya udah minta aja sama yang Di Atas, lebih tokcer daripada saran manusia. Betul tidak?

Problemnya sebetulnya engga berfokus pada masalah yang dihadapi temenku aja sih, sebetulnya fokus ke persiapan pernikahan itu sendiri. Bagaimana seseorang bisa siap banget untuk nikah ketika ternyata secara finansial dia belum stable?
"Kalau nunggu siap, kita nggak akan pernah siap."
Itu kata salah seorang temanku yang sudah nikah saat ini. Aku juga ingat betul aku pernah mengatakan kalimat serupa pada (mantan) pacarku. Tapi ya kembali pada poin awal, kita menikah tidak hanya bermodal cinta, ada kebutuhan yang harus dipenuhi bersama baik lahir maupun batin. Jadi kalau kondisi finansial tidak stable betul, hal tersebut akan menyusahkan diri sendiri dan pasangan. Nggak mau dong keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau? Nggak mau kan kalau udah nikah tetep ngrepotin orangtua?

Oleh sebab itu, sebelum menikah (aku pribadi) memastikan dulu bahwa aku sudah punya pekerjaan yang stable, yang ngasih aku penghasilan tiap bulan dan setidaknya cukup untuk bayar cicilan rumah. Saat ini ya aku sudah punya pekerjaan, dibilang penghasilannya kecil engga juga. Yang jelas cukup buat diriku sendiri. Tapi gaji ini belum stable. Dengan gaji segini aku belum bisa berinvestasi ke hal lain yang cukup untuk mencukupi kebutuhanku dan suami kelak (apalagi kalau sudah punya anak). Apalagi aku juga masih ingin sekolah dan hidup bebas.

Gaji (mantan) pacarku jauh lebih dari cukup malah kalau bisa dibilang sangat lebih. Simply, kalau kita mau nikah ya bisa aja nikah. Sayangnya gaji dia yang berkisar hingga Rp 10 juta itu harus dibagi ke Ibunya. Katakanlah separuh untuk sang Ibu karena dia tulang punggung keluarga. Rp 5 juta itu gak bisa juga digunakan untuk investasi ke hal lain. Kenapa aku bilang investasi? Karena hidup kita nggak cuma hari ini aja, ada masa depan dan ada kemungkinan punya anak dan juga kejadian gak diduga yang harus dihadapi. Bila kita berpegang pada gaji yang sebulan habis ya kita tak akan bisa mengatasi masa depan tersebut.

Apalagi kalau menikah belum punya tempat tinggal, riskan banget. Memang sih tempat tinggal bisa diusahakan, pelan-pelan. Tapi sebagai anak yang merasakan orangtua yang tidak punya tinggal tetap, hal ini sangat melelahkan. Belum lagi tanggungan SPP anak-anak, kebutuhan sehari-hari, bayar rekening ini itu. Hal-hal semacam ini jika tidak dipikirkan sejak awal sebelum menikah bakal bikin susah di masa depan. Ya beruntung sih kalau sudah dapat warisan hunian dari orangtua jadi nggak perlu repot mikir. Masalahnya muncul bagi orang-orang yang hidup pas-pasan dan kesusahan mencari hunian. Harga properti semakin tahun semakin melambung, bung!


Selain penghasilan ada lagi hal yang esensial sebelum berani melangkah menuju pelaminan yakni kesiapan mental dan selfishness. Sudah barang tentu dong ketika kamu memutuskan untuk mengorbankan hidup bebasmu sebagai seorang single, kamu harus mau menyamaratakan ego dengan pasangan. Yap, kamu harus bisa memaklumi dia dan dia bisa memaklumi kamu. Karena begitulah hubungan, cinta akan terus ada jika diusahakan. Bila tidak diusahakan ya bukan cinta namanya.

Menurut Lex DePraxis, pakar percintaan, cinta itu ada karena dipelihara secara terus menerus. Ever feel bored or no longer loves somebody? It means kamu sudah engga memelihara cinta itu. Karena cinta itu sebetulnya hasil dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan bersama pasangan. Nah yang ini sudah masuk ke poin penyebab putusnya hubunganku dengan mantan (dan yang sekarang jadi complicated).

Selain masalah finansial dan kesiapan mental, jujur aku merasa hubunganku dan (mantan) pacar tak lagi harmonis karena tidak dipelihara. Akarnya dari apa? Ya dari egoisme masing-masing, nggak ada lagi yang namanya meratakan ego like we used to do. Masing-masing merasa paling benar dan masing-masing keukeuh dengan pendirian sendiri-sendiri. Bagaikan air dan minyak lah pokoknya. Berkaca dari berbagai kejadian pahit  yang terjadi, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Ya karena hubungan kami memang sudah tidak lagi sehat. Untuk apa dipertahankan gitu kan?

Serius, bila ingin memulai hubungan apalagi yang namanya pernikahan saling mengerti, komunikasi yang baik, dan menyamaratakan ego itu adalah hal yang penting. Dan aku merasa bahwa aku tak sedewasa itu untuk memulai hubungan seperti pernikahan. I still need years and time to be fully prepared. Aku masih ingin bebas, masih ingin menjajal segala potensi yang aku punya, dan hidup tanpa ada seorang pun yang bisa mengatur atau mengekang aku (saat ini). Ada lah nanti suatu masa di mana aku siap untuk diatur dan diarahkan suami, sayangnya itu bukan sekarang.

Sebetulnya alasan aku ingin konsentrasi sekolah juga cuma excuse aja. Agar aku bisa bebas dan lepas dari tanggung jawab predikat "ISTRI ORANG". Apalagi (mantan) calon mertuaku juga bikin aku agak ketar-ketir dan bikin makin takut menjalani pernikahan. Jujur (dulu) aku ingin menikah sebelum kuliah tapi setelah aku pikir lagi that's not my thing. I'm still 23 and I have rights to do anything that I want before marriage. I even want to eat marijuana brownies to prove that marijuana won't make you high unless you consume it through bong. Don't judge me or you might judge me anyway, whatever.

Well yah, itu sih pertimbangan-pertimbangan yang aku khawatirkan sebelum berani menikah. Hidup itu singkat, meski singkat dan kelihatan tinggal jalanin aja ada hal-hal yang perlu dipikirkan secara matang. Apalagi pernikahan. Sebab menikah itu (harusnya) cuma sekali dan konsekuensi yang ditanggung bakal berat. Nggak cuma menghalalkan hubungan seks aja, apa esensi pernikahan kalau yang kita pikir cuma menghalalkan seks aja. Betul nggak?

Esensi pernikahan jauh lebih dalam dari sekedar kenikmatan tidur bareng orang yang disayang. Esensi pernikahan itu untuk menyempurnakan agama, jadi sebelum menyempurnakan agama lebih baik kita layakkan diri kita dulu. Setuju?