Cuma Pengen Cerita: Jogjakarta's Healing Trip [Part 1]


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu...

Rasanya baru kemarin nulis tentang trip ke Jogjakarta dan sekarang aku barusan kembali lagi dari kota penuh kenangan tersebut. ((KENANGAN)) Kenangan sama siapa coba ya kali. Well, sama seperti lagu Jogjakarta yang dinyanyikan oleh KLA Project, Jogja memang selalu bisa bikin orang kangen. Entah, dari semua kota di Indonesia yang pernah aku kunjungi cuma Jogja yang buat aku pengen balik ke sana berkali-kali. Padahal kalau ngomongin wisata alam, Malang juga punya banyak.

Apakah ini berarti aku harus nyari jodoh orang Jogja? Anyway gebetanku orangtuanya tinggal di Jogja sih #ehembukankode. Toh ya gebetanku ini anak asli Malang #ehemngodekesiapasih. 

Jadi, dipersingkat saja yah. Aku ke Jogja kali ini bener-bener dadakan, tanpa persiapan, dan modal nekat. Kenapa begitu? Ceritanya awalnya begini.

Temanku yang kini tinggal di Medan, Liyana, minggu lalu pergi ke Jogja dan main bersama temanku yang tinggal di sana, Galuh. Keduanya update Instagram story dan aku komentar, "Eh aku juga pengen ke Jogja nih, kangen. Tapi aku pengen berangkat ke sana Juli." Namun keinginan ini justru dapat sambutan positif dari Liyana. Maklum dia kan duitnya banyak jadi ngajak main pun oke oke aja. Lalu obrolan ini berlanjut serius dan aku nyeletuk, "Kalau kamu pinjami dulu uang transportnya aku sih berangkat aja Lee," Dan dia mengiyakan!
Tanpa ba bi bu, kami segera mem-fix-kan jadwal bersama dan pesan tiket. Dapatlah kami tiket kereta api Malioboro Ekspress ekonomi dengan harga Rp 140.000 plus diskon Rp 20.000. Bahagia? Tentu! Tapi kebahagiaan ini tak bertahan lama. Ternyata eh ternyata tiket seharga itu aku beli untuk tanggal 28 Juli (yang mana adalah hari yang kurencanakan untuk mBolang ke Jogja). Sumpah ini aku bego banget!

Di hari H, setelah aku ketemu dengan Liyana dengan PD-nya aku ngajak dia check in. Lalu setelah memasukkan kode booking lah kok muncul peringatan, "Mohon check in pada waktunya." Aku pikir kan ini udah waktunya karena waktu itu kami sudah sampai jam 7 sementara kereta baru berangkat pukul 20.10. Apakah kami terlalu dini? Karena merasa tak masuk akal, aku dan Liyana pun bertanya pada petugas. Jawaban petugas membuatku sadar, "Lah mbak booking buat tanggal berapa? Sekarang bulan Mei lho!" Begitu ujarnya. Lalu aku mengecek tanggal di kode booking-ku dan ternyata JRENG JRENG JRENG. Tiket yang kupesan tanggal 28 Juli!!

Saat itu aku langsung lemas, udah deh ini kayaknya gak jadi ke Jogja. Namun Liyana menenangkan, beruntung ada Liyana yang punya back up uang dan berkepala dingin. "Udah Gee, ayo kita beli GO-Show (langsung) aja barangkali ada." Dan syukurlah malam itu masih ada dua seat kosong di kereta ekonomi. Alhamdulillah ya Allah jadi ke Jogja!

Urusan tiket beres, akhirnya Jumat malam itu kami habiskan dengan ngobrolin banyak hal di kereta. Maklum aku dan Liyana memang jarang ketemu. Tapi as usual, aku ini makhluk yang mudah mengantuk ditambah lagi satu hari sebelumnya aku cuma tidur 5 jam jadi yah aku tidur duluan deh. 


Akhirnya kami sampai Shubuh di Jogja, masih jam setengah 4 pagi dan kami sempat kesusahan mencari Grab karena peta Grab gak update. Akhirnya aku menawarkan diri untuk pesan GO-Car aja. Syukurlah gak butuh waktu lama, Go-Car ada. Sayang untuk mencapai Go-Car tersebut, kami harus jalan agak jauh dan memutar. Kebodohan kedua ketika sampai di Jogja, jadi kami dibohongi oleh petugas stasiun untuk mengambil jalan yang lebih jauh demi bertemu bapak-bapak GO-Car. Pagi-pagi sudah jalan sehat aja nih.

Kebegoan ketiga adalah sempat kesasar untuk menemukan kosan Galuh. Jadi teman kami yang bernama Galuh ini tinggal di daerah Sewon, Bantul, bagian selatan Jogjakarta. Dan karena kosnya adalah kos mahasiswa yang terletak di tengah sawah, agak susah juga nyari kosan dia. Tapi ya berbekal GPS akhirnya aku dan Liyana berhasil sampai dengan selamat di kosan Galuh.

Esoknya hari baru telah dimulai, kami mulai keluar 'kandang' pukul setengah 12 siang. Karena kami semua tidur cukup larut malam. Ditambah lagi aku masih harus mengerjakan job desc kerjaanku hari Sabtu. Ya, aku tidak libur tapi aku kerja mobile. Jadi meski statusku 'liburan' di Jogja aku masih harus mengerjakan 5 artikel jatah yang seperti biasa aku tulis tiap akhir pekan. First stop, kami nyari brunch di warung terdekat. Kebetulan nama warungnya sama seperti namaku dan sayangnya aku engga dapat diskon. Kami makan nasi campur biasa, rasanya juga lumayan, harga? Wah jangan tanya, Jogja selalu punya makanan yang mengenyangkan dan murah.

Usai mengisi 'bensin' kami meluncur ke Taman Sari. Yap, tempat wisata ini sudah aku dim sejak beberapa saat lalu karena penasaran bagaimana sih isinya. Apa cuma gitu-gitu aja? Kayaknya ada spot foto bagus yang sering diunggah orang-orang ke Instagram. Well, karena spot fotonya udah terkenal as expected spotnya penuh dan antre dan GAGAL DAPETIN FOTO BAGUS! Tapi gakpapa, kami bertiga akhirnya menemukan spot foto yang jauh lebih bagus. Gak percaya? Lihat hasilnya di bawah ini deh.




Taman Sari adalah sebuah bangunan yang merupakan bekas pemandian kerajaan. Kalau kata guidenya, dulu sebelum dihuni oleh perkampungan penduduk Taman Sari dikelilingi oleh danau. Namun lama kelamaan danau tersebut surut, jadilah Taman Sari daerah wisata yang menyatu dengan pemukiman. Masuk ke Taman Sari sedikit banyak seperti masuk ke dalam labirin, berliku-liku, tersesat tiada akhir. Bahkan saat ingin masuk ke bangunan masjid pun kami kepayahan.

Usai dari Taman Sari kami lapar lagi ya karena kami menghabiskan siang bolong dengan jalan-jalan mengelilingi bangunan khas keraton tersebut. Akhirnya Galuh dan Liyana menyarankan untuk mencoba Tempo Gelato, es krim yang sempat mereka coba saat Liyana pergi ke Jogja pada hari Senin lalu. Dan aku pun mengiyakan.

Tempo Gelato adalah tempat nongkrong yang ramai, SUPER RAMAI! Hampir tak ada tempat duduk buat kami setiba di sana. Wajar sih karena dengan harga Rp 25.000 saja kita bisa dapatkan gelato dua scoop yang ngenyangin banget. Varian rasanya juga banyak jadi bisa campur-campur rasa sesuka hati. Di sana kami ngadem sekaligus bermain One Minute This Or That.

Setelah dari Tempo Gelato, kami melanjutkan perjalanan ke Gumuk Pasir. Iya, aku tahu Gumuk Pasir itu isinya cuma pasir. Hanya saja aku sudah membayangkan bagaimana kalau ambil foto banyak di sana. Dan tentu saja aku ingin bergaya artistik ala ala Dian Sastro dalam film Pasir Berbisik, ceilah. Beruntung Gumuk Pasir satu arah jalan dengan tempat Galuh jadi engga butuh waktu lama untuk perjalanan pulang nanti.

Gumuk Pasir terletak dekat dengan Pantai Parangtritis namun tempat ini jauh lebih dekat dengan Pantai Parangkusumo. Arahnya cukup ikuti jalan lurus ke Selatan saja gak pake belok-belok dan sampailah di tempat yang katanya nge-hype berkat Ada Apa Dengan Cinta 2 ini. Di sana terus terang gak ada apa-apa selain hamparan pasir dan papan nama serta sekedar hiasan. Tapi buat kamu yang berkeinginan untuk sand-boarding, bisa banget kok. Saat ke sini kamu hanya ditarik biaya parkir sesuai kendaraan, parkir motor cukup Rp 2000 saja.





Dan yah, seperti yang aku bilang Gumuk Pasir hanya berisi pasir tak kurang tak lebih jadi kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya yakni Watu Lumbung. Saat Googling sih kami mendapatkan gambar-gambar yang bagus tapi saat datang kok agak tidak sesuai ekspektasi ya. Tapi tak apa toh kami masih tetap berhasil menikmati senja. Kebegoan kesekian kali di Jogja kali ini adalah ke Watu Lumbung, pulang malam, tak pakai jaket. Oke sip!

Sekedar informasi, Watu Lumbung berada di daerah perbukitan. Jaraknya tak terlalu jauh dari Gumuk Pasir. Kami sampai di sana sekitar 25 menit dari Gumuk Pasir. Dan bisa dibilang Watu Lumbung adalah tempat paling bagus untuk menghabiskan senja. Ngeteh santai sambil menikmati singkong keju dan pisang bakar, apalagi bersama teman-teman. Nikmat tiada tara!




Kami baru turun dari Watu Lumbung setelah aku ngeluh kedinginan banget dan beralasan bahwa tubuhku sudah lengket semua pengen mandi. Kira-kira kami baru turun jam setengah 9 malam. Begitu sampai di tempat Galuh setengah jam kemudian, aku langsung cuss kamar mandi dan merasa sangat lega. Beruntung hari Minggu aku tidak piket sehingga aku tak perlu bekerja. Tapi karena sudah terbiasa tidur tepat waktu, rasa kantuk melanda.

Di sinilah aku benar-benar dibikin sebel oleh teman-teman. Awalnya Galuh mengajak kami untuk menonton film buatannya Tapak Kaki Gorky. Film ini merupakan film dokumenter yang khusus dia buat untuk pengerjaan Tugas Akhir. Sayang, sembari menonton aku sudah tak bisa menahan kantuk. Walhasil aku jadi ketiduran. Dan karena ketiduran, Galuh kerap melempariku dengan bantal yang bikin aku cukup dongkol.

Akhirnya aku memaksakan diri untuk melek dengan mendengarkan lagu Korea dan melanjutkan baca buku 1Q84. Tapi pada saat Galuh dan Liyana mengajakku untuk membeli makanan aku sudah enggan. Rasanya udah mager banget dan malas keluar malam-malam. Jadilah mereka berdua meninggalkan aku di kamar. Beruntung setelah mereka keluar aku sempat tidur hihihi. Dan hari Sabtu itu ditutup dengan tidur pada pukul 3 pagi lalu bangun pukul 8 keesokan harinya.


Jangan lupa tonton VLOG-nya di sini yaaaa~