Jadi Netral Itu Susah


Ada suatu masa ketika aku merasa triggered karena sebuah pernyataan meski pernyataan itu bukan untukku. Contoh sederhana, pernyataan Manajer-ku yang berbunyi sekiranya seperti ini, "Iya, dia berbeda. Di saat para remaja sekarang galau dengan status dan bingung milih foto bagus apa yang diunggah di Instagram, anak ini berhasil menghasilkan tulisan yang bagus." Ya, saat itu kami sedang membicarakan sosok yang tengah viral beberapa waktu terakhir, Afi Inayah.

Pernyataan itu aku jawab dengan menulis opiniku di sini, opini tentang Ahok, Kebhinekaan, dan Intoleransi. Meski sebelumnya aku betul-betul menolak dan segan untuk menuangkan hal-hal yang berkecamuk di pikiranku. Berkat pernyataan Ibu Manajer aku jadi terlecut. Sebelumnya aku memilih untuk jadi remaja normal yang aktif di sosial media dan mengurangi nyinyir politik. Aku sudah menanggalkan semua kepedulianku pada kondisi politik di negara ini dan mengurangi perdebatan tak berfaedah. Tapi sepertinya itu hal yang mustahil. Apalagi kondisi politik di negaraku sedang tak stabil dan genting seperti ini.

Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, nama yang sering didengungkan baik di media massa cetak, daring, atau elektronik dan juga sosial media. Mengapa sosok Ahok ini begitu penting? Tak dipungkiri lagi, pria yang dulunya menjabat sebagai kepala daerah Bangka Belitung ini mencuri perhatian dengan menemani Joko Widodo sebagai DKI 1. Bagi para fans Ahok, kinerja pria berdarah Tionghoa ini patut diacungi jempol. Sementara bagi masyarakat kontra Ahok, kinerja Ahok hanya isapan jempol belaka.

Bagiku? Berdasarkan berita yang aku baca di media, ya Ahok menunjukkan perubahan yang cukup nyata selama memegang jabatan DKI 1. Di sisi lain, Ahok juga manusia tak lepas dari kekurangan dan salah. Dia sempat salah memperlakukan rakyat dengan menggusur warga pinggiran demi reklamasi dan yang membuatku tak begitu menghormatinya adalah gaya bicaranya yang kasar. Bagiku, seorang pemimpin yang baik tak hanya mampu bekerja dan melayani rakyat dengan baik namun juga harus berperilaku baik. Apa guna pemimpin yang berkinerja baik tapi bermulut sampah? Dan apa artinya pemimpin bermulut manis tapi korupsi? Dua-duanya sama-sama bukan pemimpin yang baik. Tapi seorang pemimpin yang baik dapat memilih untuk berperilaku dan bekerja dengan baik dalam satu waktu.

Itu hal yang membuatku cenderung tidak menyukai Ahok, bukan karena dia keturunan China bukan pula karena dia seorang Nasrani. Dan sejujurnya aku juga tak menyukai Rizieq karena dia sama-sama memiliki mulut yang tak bisa dikontrol. Aku pernah dengar orangtuaku menonton video ceramahnya dan masya Allah, seorang ulama tak akan mengumbar kata-kata penuh kebencian seperti itu. Rasulullah tak pernah mengajarkan seseorang untuk berdakwah dengan cara demikian.


Sosok Ahok inilah yang kini jadi sorotan setelah insiden penistaan agama. Mau tidak mau, suka tidak suka, begitulah kenyataannya. Gubernur Jakarta incumbent ini menyinggung salah satu ayat favorit para Muslim tanpa mengetahui esensi ayat tersebut. Insiden ini yang menggiringnya jadi seorang pesakitan dan dijatuhi hukuman pidana penjara dua tahun, insiden ini yang membuatnya tak lagi meneruskan jabatan sebagai DKI 1. Karena apa? Karena pernyataannya.

Seperti kata Gita dalam postingannya ini, as much as I want to defend Ahok dia tetap saja salah. Tidak seharusnya dia mengomentari ayat yang bahkan dia tak meyakini kitabnya, well dia seorang pejabat lho. Ahok seharusnya berpikir bahwa pernyataannya tersebut bisa jadi bumerang bagi dirinya sendiri di kemudian hari dan benar bukan?

Memang bila dirunut dari awal, pihak Muslim lah yang salah karena menakut-nakuti calon pemilih Pilkada dengan ayat Al Maidah:51. Sebetulnya, tanpa menggunakan ayat tersebut juga bisa. Setiap Muslim pastilah punya iman dan tergantung dirinya sendiri apakah mengimani surat tersebut atau tidak, betul tidak? Tak seharusnya sebuah ayat digunakan untuk mengubah pilihan kepala daerah bukan? Berilah pencerahan, data, dan fakta rasional bukan ayat.

To put it simply, penggunaan surat Al Maidah:51 ini jadi bumerang bagi kedua belah pihak. Lalu apa isu yang dihembuskan setelahnya? SARA, itu sudah jelas. Padahal jika disederhanakan, kasus Ahok ini bukan perkara dia China atau Kristen tapi karena Undang-Undang mengatur tentang penistaan agama. Tapi masyarakat terlanjur mencap kasus ini sebagai kasus intoleransi, karena apa? Ya karena ayat yang digunakan itu tadi.

Selain itu, media juga turut membesar-besarkan isu radikalisme, intoleransi, diskriminasi dan lain sebagainya dengan headline yang provokatif. Padahal sekali lagi dan perlu digaris bawah, AHOK DITAHAN KARENA UU PENISTAAN BUKAN KARENA RAS ATAU AGAMA. Secara hukum, Ahok terbukti bersalah, saksi-saksi telah dihadirkan, bukti otentik juga sudah ada. Lantas kenapa harus tidak terima? Sementara Ahok sendiri sudah menerima putusan tersebut dengan lapang dada. Lantas kenapa kasus hukum ini dialihkan jadi isu anti kebhinekaan? Apalagi tuduhan bahwa aksi 212, 411, dan lain sebagainya tersebut murni dilakukan untuk menuntut keadilan hukum bukan untuk memerangi kaum Nasrani atau China. Betul tidak?

Dan setelah Ahok ditahan, aku kira suasana akan kembali mereda sebagaimana mestinya. Tidak, dugaanku salah. Para pendukung Ahok berdalih bahwa hukuman Ahok itu tidak adil dan mematikan Kebhinekaan Indonesia. Mari kita telaah lagi, bukankah lebih tidak adil bila Ahok dibebaskan sementara dia melanggar hukum yang sudah ada? Dan bisakah kalian tunjukkan bahwa aksi-aksi sebelumnya melanggar kebhinekaan? Mereka hanya menuntut agar Ahok diadili, itu saja. Mereka tidak ingin mengubah dasar negara.

Tapi memang tak bisa dipungkiri lagi bahwa ada pihak-pihak pendukung baik kubu kanan atau kiri yang membela terlalu berlebihan. Masalahnya sebenarnya bukan pada UU yang sudah outdated atau ayat surat Al-Maidah tapi pada sikap masing-masing pembela sendiri. Oleh sebab itu aku katakan di judul, menjadi seorang yang netral itu susah.

Aku contohnya, hari ini mendapatkan judgement dari random stranger di internet. Aku menanyakan sesuatu pada seorang selebtwit yang membahas bahwa Islam tak akan jadi kotor hanya karena pemeluknya korupsi, membunuh, atau memperkosa. Tepatnya aku bertanya seperti ini, "Berarti Islam juga tak akan kotor meski dinistai kan?" Dan aku mendapatkan jawaban yang membuatku terdiam dan merenung sebab jawaban tersebut benar adanya. "Islam tidak akan kotor meski dinistai tapi penistaan agama dilarang oleh Undang-Undang." See? Betul kan bahwa titik permasalahannya adalah penistaan adalah tindakan yang bertentangan dengan hukum negara ini.

Hanya satu pertanyaan semacam itu, seseorang mengataiku "Goblok". Seorang yang lain justru mengkonfrontirku dengan pertanyaan, "Kalau kamu dihina cewek murahan yakin masih cuek dan nggak marah?" Tentu aku malah menantangnya dan dia malah mencapku sebagai sosok yang mengidolakan si penghina (apakah ini yang dimaksud Ahok?). Bagaimana seseorang dapat dengan mudahnya mencap orang lain hanya dari sebutir pertanyaan?

Orang ini sebetulnya melanjutkan dengan pernyataan, "Sayang saya bukan orang yang suka menghina seperti idolamu (Ahok?)," dan twitnya telah dihapus
Padahal aku hanya ingin membeberkan fakta pada kedua pihak bahwa bersikap berlebihan itu tidak baik. Kita lihat contoh sederhana seperti itu, dengan mudah orang lain menjustifikasi apa yang disuka dan tidak disuka orang lain. Seseorang yang menganggap bahwa agama tak perlu dibela, dibilang pembela Ahok. Seseorang yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang baik, dibilang radikal. Betapa dua sisi ini tak mau saling mengalah bukan?

Sikap berlebihan ini membuat masing-masing kubu memiliki imej negatif. Sikap membela berlebihan akan mematikan nalar dan tidak bisa membuat orang berpikir secara rasional. Ingat, agama Islam akan senantiasa dipelihara kesuciannya jadi jangan bela berlebihan apalagi sampai mengata-ngatai orang lain, berjihadlah dengan baik dan benar, jadi cendekiawan contohnya. Yang salah bukan agamanya tapi sikap para penganutnya yang merespon segala hal berlebihan. Hal yang sama juga berlaku bagi kubu seberang yang kelewat berlebihan membela seseorang yang jelas melanggar hukum.

Padahal ketika kita mau mengalah, misalnya sama-sama memaafkan dan menerima kenyataan pahit maka permusuhan di internet mungkin tak akan berlanjut. Maka dari itu, kadang aku berharap agar Rizieq ditangkap juga, agar impas. Agar kedua pendukung yang berlebihan ini tak saling memusuhi lagi. Yang satu puas karena Rizieq sama-sama diadili, yang satu jadi paham bahwa Rizieq juga manusia yang bisa melakukan dosa. 

Yah, walaupun menurutku kasus Rizieq ini masih terasa diada-ada dan penuh kejanggalan. Tapi tak apa, demi kedamaian seseorang harus dikorbankan (fasis banget kan?).

Jadi, solusi untuk mengurangi pembelaan berlebihan masing-masing kubu yakni mengurangi interaksi di sosial media dan juga lebih cerdas dan kritis mengenai pemberitaan. Yang sering aku tekankan adalah jangan hanya membaca berita dari judul dan jangan mudah terpengaruh opini selebtwit #selfreminderjuga. Sebab kurangnya membaca membuat pikiran seseorang jadi tumpul sehingga opininya dapat dibentuk dengan mudah. Hasilnya? Perpecahan yang tak kunjung usai seperti saat ini.

Ingat, musuh kita bukanlah orang yang berbeda keyakinan melainkan tipu muslihat yang disebarkan untuk memecah belah bangsa kita. Pancasila ada di ujung tanduk dan siapa lagi yang bisa menjaganya selain kita?