Cuma Pengen Cerita: Mendadak Lombok [Part 1]


Aku sudah bilang sih kalau aku ini bukan traveller dan travelling bukan termasuk hobiku. Simply, aku cuma orang yang kebetulan menikmati kalau diajak berpergian terutama yang gratis. Because who doesn't like to have free vacation right? Jadi, kalau memang ada kesempatan untuk travelling dengan gratis kenapa tidak dimanfaatkan?

Well, untuk travelling kali ini sebetulnya aku berangkat setengah hati. Kenapa? Karena sekarang statusku adalah pekerja yang mana terikat oleh jam kerja 8-4 dan Mon-Sat. Ditambah lagi statusku masih pegawai kontrak yang artinya aku belum mendapatkan jatah cuti. Gak enak dong kalau anak baru ngajuin cuti terus? Unfortunately, my father didn't consider my position.


Dari jauh-jauh hari aku sudah bilang sebetulnya pada Ayah kalau aku bisa liburan kalau berangkat Jumat malam, bila nggak ya aku memilih untuk tidak ikut. Tapi seperti biasa, orangtuaku mana pernah mau dengar. Nggak Ayah, nggak Ibu sama-sama mengabaikan ucapanku. Jadi gak salah dong kalau aku juga mengabaikan ucapan mereka?

Ayah memesan tiket untuk liburan ke Lombok pada hari Kamis, in the middle of the week! Siapa yang gak sebal coba? Beruntung team leader-ku adalah orang yang fleksibel dan pengertian jadi cuti pun didapat. However, I still feel guilty of it. Meski memang aku diberi kelonggaran untuk mengganti di hari lain, tetap saja agak ganjil bagi anak baru minta cuti berkali-kali.

Dan kekhawatiranku pun terjadi, di tengah liburan (dan ini salahku juga sih) aku ditegur oleh team leader sekaligus manajerku. Pasca aku mengunggah foto di sosial mediaku, sang team leader membuatku makin merasa bersalah. He didn't forbid me for having a vacation but he told me something burdened me about what other employee think of me when having a vacation. Something like that. Yah, the perks of being a new guy in the office.

Berhubung aku cuek ya udahlah ya, udah terlanjur juga. Yang bisa aku lakukan cuma minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Toh, bentar lagi aku juga harus cabut dari kantor.

***

Begitu sampai di Lombok, kami disambut oleh Guide lokal. Pria ini agak meragukan (menurutku) karena dari awal sepertinya destinasi wisata yang dia arahkan nggak banget. Mulai dari berkunjung ke Desa Sade, don't get me wrong, I appreciate the stories and customs of Sasak Tribe but apa sih kayaknya Desa Sade ini kurang nendang untuk dijadikan destinasi wisata pertama gitu lho. Tapi nggak papa selama kita bisa mengambil foto bagus, begitu pikirku.

Guide lokal Suku Sasak, pemuda ini menikah di usia 18 tahun lho!
Ada adat yang menarik dari Suku Sasak ini dan sebagian dari kamu pasti sudah pernah tahu. Jadi, untuk menikahi gadis Suku Sasak, sang pria harus menculik gadis tersebut. Menurut guide lokal sih penculikan ini 'literally' menculik bukan janjian. Kalau janjian untuk diculik di luar kampung itu namanya Kawin Lari bukan Kawin Culik. Si guide juga menuturkan bahwa memang ada unsur paksaan dalam adat Kawin Culik ini. Si wanita mau tidak mau, suka tidak suka, harus menikah dengan lelaki yang menculiknya. Kalau pun si lelaki yang dicintainya ini tidak kunjung menculiknya, ya terima nasib menikah dengan lelaki lain.

Dan seperti biasa, kehidupan pedesaan membuat para remaja diburu menikah. Untuk adat Kawin Culik ini sendiri, usia 14-16 tahun sudah boleh melangsungkan pernikahan. Dan para pria lah yang jadi tulang punggung keluarga, mereka bisa merantau ke negeri jiran atau bekerja dimanapun sementara sang istri berada di kampung untuk menenun dan bertani. Mengapa tenunan Lombok sangat bagus? Karena anak-anak perempuan sudah diajari untuk menenun sejak usia 8 tahun.

Para wanita Suku Sasak hidup bertani atau menenun
Adat ini membuatku berpikir dan menemukan alasan bahwa orang Sasak tidak akan pernah mengalami kemajuan karena terhambat adat ini. Sementara kalau lebih banyak orang Sasak berpikir maju maka budaya suku sendiri akan hilang. Jadi agak serba salah juga ya?

Welcome to Tanjung Aan
Usai dari Desa Sade, kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Aan. Pantai ini direkomendasikan oleh salah satu temanku dan aku juga pernah lihat di feed Instagram Ron KaosKakiBau bahwa pantainya memang bagus banget. Begitu sampai aku sempat menarik pendapatku akan hal tersebut tapi keindahan pantai ini nyata banget begitu kita memilih untuk menyeberang pulau dengan menyewa kapal boat seharga Rp 300 ribu PP.

Tanjung Aan
Salah satu sudut pantai Bukit Marese
View Dari Atas Bukit Marese
Penyeberangan ini menuju ke Bukit Marese yang benar-benar indah lah pokoknya. Aku nggak bisa menggambarkan betapa kerennya scenery dari atas bukit ini kecuali kalian ke sana sendiri. Naiknya nggak susah-susah amat kok, yang jelas malah worth it. Dan jalanannya itu juga bukan tipe jalan yang susah untuk dilewati pengunjung manja, seperti Ayah dan Ibuku. Pokoknya kalau kalian ke Lombok, mampir ke Bukit Marese is a must!

Salah satu view dari atas Bukit Marese

Hari pertama kalau nggak salah kami memang hanya mengunjungi dua tempat itu. Sebetulnya bisa juga sih berkunjung ke tempat lain tapi usai makan siang keluarga kami memilih untuk check in ke hotel dan beristirahat. Kami harus mengisi ulang tenaga untuk keesokan harinya. Yap, kami akan snorkeling ke Gili Trawangan untuk hari kedua!