Mahasiswa Beasiswa, Ekspektasi Tinggi Realita Nihil?

Beberapa minggu terakhir sebetulnya aku sudah tergelitik banget untuk menulis soal isu-isu dan nyinyiran yang berseliweran di internet. Dan uniknya, ada dua postingan yang menyinggung pemegang beasiswa mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Sebagai salah satu pemegang beasiswa yang juga berkesempatan kuliah di luar negeri tentu aku terpicu dong untuk merespon. 

Postingan yang pertama adalah tulisan Mas Farchan Noor Rachman, beliau ini menulis via situs birokreasi yaitu tempatnya para cendekiawan urun buah pikiran berbentuk tulisan. Tulisan Mas Farchan ini menggelitik, benar-benar membuat para awardee (sebutan pemegang beasiswa) kepanasan. Sebab dalam tulisan tersebut, Mas Farchan menilai bahwa para awardee seenaknya foya-foya melakukan Europe Trip pakai uang negara. Dan hematnya, para awardee harus hidup prihatin, empati pada pembayar pajak, gitu inti tulisannya.


Padahal tulisan Mas Farchan ini turun karena sebelumnya seorang penulis di birokreasi yakni Mbak El Nugraeni curhat soal "Plesir, Dosa Besar Mahasiswa". Tak ada asap bila tak ada api, tulisan Mas Farchan murni sebagai bentuk balasan soal keluh kesah Mbak El yang kerap mendapatkan nyinyiran dari orang lain soal plesirannya di benua biru sebagai pemegang beasiswa. Lantas apakah plesiran itu salah? Apakah pendapat kedua orang ini salah?

Tidak. Jawabannya tentu tidak. Meminjam istilah salah seorang teman awardee, masing-masing orang punya perspektif dan dikotomi sosial yang tidak sama. Karena perbedaan persepsi yang tak bisa diasimilasi inilah timbul judgement satu sama lain. Orang luar memandang bahwa pemegang beasiswa enak-enakan di negeri orang pakai uang negara, sementara para awardee memandang perlu untuk plesiran agar tidak stress. Padahal ya kalau ditilik dari persepsi masing-masing sama-sama benar, iya toh?

Jadi begini, saya memang belum memulai kuliah di negeri seberang tapi saya merasa sangat tertampar dengan tulisan Mas Farchan. Bagi saya tulisan beliau itu menyinggung in a good way, tulisannya membantu saya untuk meluruskan niat. Apakah saya di Benua Biru mau menuntut ilmu? Atau numpang eksis dan hanya memperindah feed Instagram belaka? 

Ilustrasi feed Instagram anak beasiswa plesiran
Mas Farchan tentu menggunakan bahasa yang sarkastis (anak hits sekarang bilangnya savage), tentu. Mungkin Mas Farchan merasa kesal bahwa dirinya susah payah bayar pajak eh duitnya dihambur-hamburkan oleh awardee dengan plesiran. Anyway Mas Farchan, orangtua awardee juga ikut bayar pajak kok. 

Tapi gakpapa Mas Farchan saya maafkan karena sudah minta maaf karena menggeneralisir dan telah melakukan klarifikasi soal tulisan itu.

Kembali lagi ke soal pajak, rasanya apa yang dikatakan Mas Farchan benar. Masa iya sih kita mau enak-enakan di luar negeri dan pamer gaya hidup jetset pakai uang negara? Lalu apa uang tersebut mau dikembalikan? Hemat saya sih, mungkin para awardee diharapkan lebih berbijak ber-sosmed saja. Bagaimanapun hitungannya kan Living Allowance, Book Allowance sudah jadi hak awardee dan hak mereka juga mau dihabiskan untuk apa. Namun daripada menimbulkan prasangka buruk banyak orang di luar sana akan lebih baik bila disimpan saja fotonya atau di-upload dengan hashtag #Throwback 😬

Padahal sendirinya nanti juga pamer

Yang dikatakan Mbak El juga ada benarnya lho bahkan argumen Mbak El soal pentingnya plesiran bagi mahasiswa postgraduate sudah dibuktikan dengan tulisan Mas Ahmad Rizky lho. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa Bung Hatta pun pernah 'menyalahgunakan' status awardee-nya. Bung Hatta plesiran ke bagian lain Eropa dan berkumpul dengan para pemuda 'radikal' hingga timbullah kemerdekaan bangsa. Nah, sekarang baru sadar kan betapa penting plesiran bagi para Mahasiswa postgraduate luar negeri?

Ada TAPI-nya nih. Menurut saya, argumen demi argumen serta bantahan demi bantahan untuk me-rebuttal pendapat Mas Farchan itu semakin terlihat seperti excuse buat kita-kita yang sekolah di luar negeri. Mengapa? Ya karena seolah-olah kita nggak mau dipandang seperti apa kata Mas Farchan padahal deep down in our heart kita mengiyakan pendapat sarkastik tersebut. Iyo opo iyo?

Kalau saya sih begitu. Terus terang saya tersinggung sama tulisan Mas Farchan tapi ya memang ada benarnya sehingga membuat saya menjadikan tulisan Mas Farchan sebagai lecutan untuk meluruskan niat. Terus terang saya sempat berkeinginan untuk plesiran, Europe Trip, dengan menabung sedikit demi sedikit Living Allowance karena ya kapan lagi sih bisa ke Europe? Namun niat ini saya pertanyakan lagi karena tulisan Mas Farchan itu. Apakah feed Instagram indah karena plesiran itu worth to show off?

Saat ini saya berpikir demikian tapi siapa tahu di masa depan saya khilaf 😅😅


The point is mari kita hentikan saling berbalas argumen seperti ini sebab jatuhnya jadi excuse. Kalau mau plesiran ya monggo plesiran, mau dipamerin di Instagram juga monggo. Toh apapun yang kita lakukan, kita nggak akan bisa membuat banyak orang senang. Manusia tempatnya salah jadi dinyinyirin ya udah biasa. Pakai saja prinsip Anjing Menggonggong Khafilah Tetap Berlalu, biarkan netizen nyinyir yang penting kita balas dengan karya. Kita buktikan kalau plesiran itu ada manfaatnya secara nyata buat Indonesia. Kita buktikan kalau negara nggak menyesal karena sudah menyekolahkan kita. Setuju tidak jamaah?

Selain tulisan Mas Farchan ini, lagi-lagi saya ke-triggered sama tulisan Bapak-Bapak cendekiawan. Bapak Made namanya. Melalui tulisan yang jadi viral juga tersebut, para awardee dibikin tersinggung (lagi). Kenapa? Karena kata-kata tajam Pak Made membuat awardee untuk kesekian kali mempertanyakan eksistensi hidupnya dan apa tujuannya setelah lulus dan memegang ijazah luar negeri.

"Jika hanya keluh kesah itu yang Kisanak bawa dari luar negeri, jika ijazah mancanegara itu hanya membuat Kisanak lebih lemah mentalnya dibandingkan sebelum punya ijazah, jika gelar mentereng itu hanya membuat Kisanak pandai menunjukkan kelemahan negeri ini tanpa berbuat sesuatu untuk memperbaikinya, maka merdeka kita memang masih jauh. Jauh sekali,"
Begitu tulis Pak Made dari Kaki Gunung Merapi. Awardee mana yang ngak ketar ketir membaca sindiran satire Pak Made ini? Awardee mana yang tidak merasa tertohok karena belum-belum sudah dimintai ekspektasi yang tinggi dari masyarakat? Well, jadi awardee memang tidak pernah mudah sedari awal. Idealisme saat melamar apakah hanya untuk kenikmatan diri sendiri atau bangsa, itulah yang sedari awal disadari. Dan kita tak pernah tahu kapan idealisme itu akan meluntur karena terlena dengan kenyamanan di negeri orang.

Uniknya, lagi-lagi tulisan yang bernada sinisme ini disanggah atau dibalas oleh orang lain (yang saya duga adal seorang awardee). Tak cuma disanggah, argumen ini pun dipertegas oleh tulisan Mas Iqbal. Awardee mana yang tidak panas dingin diserang dua kali oleh argumen tajam semacam ini? Tentu saja banyak yang gerah dong (termasuk saya).

Namun si penyanggah tulisan kuat dua orang ini mengatakan bahwa kadangkala alumni luar negeri kurang dihargai di negeri sendiri dan ijazah yang didapatkan dari negeri seberang kadang tak berarti apa-apa. Faktanya, iya dan tak sedikit. Namun semua kembali lagi pada diri masing-masing. Dihargai atau tidak, berarti atau tidak, yang jelas kan niatnya. Dan orang-orang yang menuliskan opini semacam ini menjadi pengingat bahwa kita selaku pemegang beasiswa tak bisa hidup santai seperti orang biasa.

Yang penting lulus kuliah dengan baik dan berkontribusi apapun bentuknya, sekecil apapun
Ada sebuah tanggung jawab besar yang dipikul untuk membangun negeri bersama-sama, ada ekspektasi dari penyandang dana dan masyarakat untuk kontribusi nyata. Dan seringkali kalau memikirkan masa depan saya sudah stress sendiri. Pasalnya saya nggak tahu harus berkontribusi semacam apa untuk negara? 

Membangun desa terpencil itu terlalu muluk-muluk, apalagi jadi pemimpin daerah. Tapi saya yakin, semua perubahan itu dimulai dari hal kecil. Kalau kita sendiri mau mengubah mindset dan berlaku selayaknya orang yang terdidik, insya Allah lingkungan akan terpengaruh. Saya selalu yakin itu.

Memang sih dibanding kawan-kawan saya yang lain, saya ini paling minim kontribusinya pada negara. Iya, saya nggak punya yayasan sosial. Saya jarang aktif dalam kegiatan sosial. Bahkan saya juga mencintai kebudayaan negara lain. Agak irasional memang bicara soal kontribusi nyata untuk Indonesia tapi saya kira masing-masing individu sudah punya standar sendiri. Yang jelas, clear, dan sudah pasti harus dilakukan adalah kembali ke Indonesia. Masalah kita dihargai atau tidak, berhasil mewujudkan Indonesia emas 2045 atau tidak itu urusan nanti.

Pokoknya jangan lupa berkarya dan jangan balas nyinyiran dengan nyinyiran. Anggap saja orang-orang di luar sana itu mengingatkan kita untuk kembali pada fitrah sebagai pemegang beasiswa. Anggap saja nyinyiran mereka itu motivasi bagi kita untuk bekerja secara nyata. Yang penting kita tetap fokus kuliah dan kembali untuk Indonesia. Setuju tidak?
We are not born to please everyone, so be it