Mencintai Jogjakarta, Belajar Mencintai Budaya Bangsa


Seperti yang berkali-kali aku tuliskan dalam blog ini, Jogjakarta itu selalu ngangeni. Daerah Istimewa yang diperintah oleh Sri Sultan Hamengkubuwono ini selalu membuat orang yang telah mengunjunginya merasa rindu. Rindu akan suasananya, rindu akan kenangannya, rindu akan kulinernya dan segala yang ada di sana.

Aku mencintai Jogjakarta mungkin sejak pertama kali datang ke sana saat kelas 3 SD. Sejak saat itu selalu ada rasa untuk kembali. Yang pertama, mungkin Jogjakarta adalah daerah yang punya sejumlah peninggalan sejarah. Yang kedua, ramah tamah penduduknya yang membuat aku selalu ingat bahwa aku menjejakkan kaki di Indonesia. Dan yang ketiga adalah cerita mistis yang masih dipercaya turun temurun.

Aku tidak percaya klenik memang namun cerita mistis dari Yogyakarta selalu membuatku ingat bahwa negeri ini kaya akan kearifan lokal. Mungkin kalau cerita horror dari Keraton, Parangtritis, hingga Gunung Merapi tak dipelihara, budaya Jogjakarta perlahan akan luntur karena globalisasi. Mungkin kalau anak-anak muda tak berjiwa seni tinggi, Jogjakarta kini telah menjelma jadi Kota Metropolitan yang monoton. Inilah yang membuat Jogja Istimewa, menjadi Jogja menjadi Indonesia.


Entah mengapa Jogjakarta bagi saya selalu punya arti tersendiri di setiap kunjungan saya ke sana. Kunjungan pertama mengajarkan saya soal sejarah. Candi Borobudur yang dibangun megah, masih menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia, peninggalan Dinasti Syailendra. Candi pertama yang membuat saya terpana saking besarnya. Karena Borobudur lah saya mencintai Jogja. Karena Borobudur lah saya tertarik pada IPS 😜

Beranjak dewasa, makin banyak wisata yang ada di Jogjakarta. Seperti yang telah saya ceritakan di blog ini. Jogjakarta kini punya wisata alam yang dulunya tak terjamah. Awalnya memang hanya untuk kepentingan Instagram saja. Tapi bila dimaknai lebih jauh, Jogjakarta dan Indonesia punya begitu banyak potensi alam yang bisa dikembangkan. Alasan apalagi yang membuat saya tak mencintai Provinsi ini?

Sebut saja wisata Kalibiru, Mangunan, Gumuk Pasir, Pantai di sepanjang sisi selatan Jogja, Sewon dan masih banyak lagi. Apalagi kini pun sedang musim tur wisata Ada Apa Dengan Cinta bermula dari Puthuk Setumbu hingga kafe di tengah kota. Karena inilah Jogjakarta mengajarkan saya untuk mencintai budaya bangsa, mencintai karya anak bangsa, menjadi Jogja membuat saya menjadi orang Indonesia.

Coba kita telaah lagi, kira-kira kenapa para bule dari negara-negara Barat lebih suka berkunjung ke Jogjakarta dan Bali? Karena dua tempat ini masih kental akan budaya Indonesia. Mungkin Bali kini lebih bule-friendly alias ikut-ikut kebarat-baratan tapi Jogjakarta tidak. Provinsi yang jadi jujugan para mahasiswa seni ini tetap menjunjung kearifan lokal. Sebut saja festival satu Sura, nasi kucing masih bertebaran di pinggir-pinggir jalan, dan banyaknya musisi jalanan yang siap menghibur pejalan kaki di Malioboro. Inilah yang membuat para bule itu merasa jadi orang Indonesia. Karena sekali lagi menjadi Jogja, menjadi Indonesia.

Kalau bicara soal provinsi yang Indonesia banget, ya Jogja tempatnya. Jadi kalau kalian sering merasa alpa dan tak lagi mencintai negara ini, coba berkunjunglah ke Jogjakarta. Cobalah berkunjung ke Benteng Vrederburg, cobalah menapak tilas sejarah Indonesia di Museum Jogja Kembali, cobalah mensyukuri potensi alam Jogjakarta dengan beragam rangkaian wisata alam di daerah Bantul. Niscaya cintamu pada Indonesia akan semakin terpupuk, dengan berkunjung ke Jogja maka kalian akan ingat untuk tetap jadi orang Indonesia. Masa sih kita tega mengabaikan keindahan alam seperti yang ada di Jogja?

Intip Tulisan Saya Soal Jogja Yang Lain di Sini!
Cuma Pengen Cerita: Jogja di Awal Tahun
Cuma Pengen Cerita: Jogja di Awal Tahun II
Cuma Pengen Cerita: Jogja di Awal Tahun III
Cuma Pengen Cerita: Jogjakarta's Healing Trip 1
Cuma Pengen Cerita: Jogjakarta's Healing Trip 2