Beware of Stadium Tour in London!

Disclaimer: Bagi penggemar sepak bola diharapkan menguatkan hati saat membaca tulisan ini karena bakal bikin baper


Apa keuntungan dari studi di negara sepakbola? Well, tentu saja hasrat akan mengunjungi stadion impian terwujud nyata dong. Aku sendiri adalah penggemar sepakbola atau setidaknya beberapa tahun lalu. Ya, sekarang nggak bisa dibilang fans lagi karena udah lama nggak mengikuti perkembangan bursa transfer ataupun jadwal pertandingan tim kesayangan. 

Ngomong-ngomong soal tim kesayangan, Manchester United adalah klub sepakbola luar negeri favoritku. Berkesempatan kuliah di Inggris tentu jadi sisi positif tersendiri bagiku untuk 'naik haji' ke markas mereka di Old Trafford. (Doakan aja ndang terwujud, amin. London - Manchester nggak jauh-jauh amat kok).

Kota tempatku tinggal saat ini, London, merupakan salah satu kota dengan klub sepakbola yang cukup banyak. Yang aku tahu hingga saat ini sih ada 4 yakni Chelsea FC, Arsenal, Tottenham Hotspurs, dan West Ham United. Tentu saja London mejadi salah satu destinasi pecinta bola, apalagi pecinta Premiere League. Saking ngefans-nya sama sepakbola ini, aku sampai bikin rekening bank di Barclays lho! Nggak ada yang nanya, nggak usah pamer. Riya'.


Aku sendiri baru sadar kalau di dekat tempatku tinggal ada stadion salah satu klub peserta Premiere League, West Ham United. Sadarnya pas hari kedua kalau nggak ketiga saat aku naik bus double decker nomor 25 dalam perjalanan menuju kampus. Ketika noleh ke kanan kok kayak ada stadion bertuliskan 'Ham United' gitu. Nah aku jadi penasaran dong, pas pulang aku liatin aja itu jalannya eh ternyata bener ada stadion West Ham hahahaha.

Dan berhubung memang dari awal aku sudah berniat untuk mengunjungi sejumlah stadion di London. Hari inilah masa untuk melancarkan niat tersebut. Usai kuliah pertama pada jam 9 pagi hingga jam 11 siang, aku sempatkan untuk video call ke rumah. Sebab adikku yang kecil itu sudah kangen banget sama aku jadi aku telepon dulu lah ya. Baru jam 12 siang aku cabut dari kampus dan mencari rute menuju tujuan pertama yakni Emirates Stadium, stadion Arsenal.

Untuk menuju ke Emirates Stadium, aku berjalan kaki menuju stasiun tube terdekat, Stepney Green. Dari situ aku mengambil kereta Hammersmith & City lalu turun di stasiun Moorgate. Dari Moorgate aku ganti kereta ke arah Northern Line tepatnya kereta Lechtworth. Nah, kereta ini sistemnya agak berbeda dari tube. Bila semua tube bisa menggunakan Oyster Card, kereta hanya bisa menggunakan kartu sakti ini untuk beberapa zona yang dibagi dalam kategori A, B, C. Beruntung Drayton Park, Stasiun tujuan menuju Emirates Stadium masih tercover Oyster Card.

*) Kalau jalur keretanya tidak tercover Oyster Card maka harus pesan tiket sendiri. Bila tidak maka akan kena penalty 85 pounds.


Bisa dibilang Emirates Stadium ini adalah stadion terdekat dari stasiun. Kupikir aku akan berjalan cukup jauh karena di peta mengatakan demikian. Pada faktanya aku hanya berjalan kurang dari 20 meter lalu tiba-tiba sampai aja. Aku sampai terkejut. Pas sampai aku langsung excited gitu, terus lari-lari nggak jelas dan senyum-senyum nggak jelas. Well, padahal ini baru stadion Arsenal doang lho ya teman-teman belum Old Trafford.

Saat aku sampai di Emirates Stadium, kukira akan bayar tiket masuk atau something gitu atau mungkin ada restricted access. Ternyata tidak. Memang sih aku nggak masuk ke dalam stadionnya tapi dari luar itu sudah kelihatan mewah banget dan kebetulan lagi sepi juga. Jadi aku memuaskan diri untuk mengagumi keindahan dan kebesaran markas The Gunners ini. Tak lupa ada juga motto mereka Victoria Concordia Crescit di dinding stadion.


Tulisan Emirates Stadium sendiri ada di berbagai sisi, kalau tidak salah di empat sisi. Sehingga foto dari mana pun tulisannya akan terlihat sama. Ada juga foto-foto para pemain legendaris mereka sejak jembatan pertama kali masuk ke maskar klub asuhan Arsene Wenger dan yang nggak kunjung menang Premiere League ini. Kalau tidak salah, aku masuk dari sisi timur dan berjalan ke Barat. Sehingga aku ketemu dengan Arsenal shop serta studium tour. 

Aku sendiri belum mencoba studium tour atau beli tiket laga Arsenal ini. Sebab saat memutuskan jalan-jalan ke sana aku lagi miskin. Lagipula uang beasiswaku juga tidak dihambur-hamburkan untuk hal semacam ini kan? Jadi ya aku nikmati saja setiap sudut Emirates Stadium. At least aku sudah pernah menginjakkan kaki di sana dan mengabadikannya.






Lalu berhubung Arsenal dan Tottenham sama-sama berada di London Utara, aku langsung memutuskan untuk mengunjungi White Hart Lane juga. Awalnya sih ingin langsung ke Stamford Bridge tapi setelah mengecek ulang City Mapper kok lebih dekat ke White Hart Lane. Ya udah deh aku cuss ke markas Tottenham Hotspurs. Untuk menuju ke White Hart Lane, aku nggak perlu lagi naik tube. Aku hanya cukup jalan ke halte bus terdekat di Hornsey Road yang ditempuh sekitar 10-15 menit dari Emirates Stadium dan naik bus 259 tujuan Tottenham Sports Center.

Kira-kira ada 20-an halte bus yang dilewati hingga sampai di stadion White Hart Lane. Sama seperti Emirates Stadium, stadion ini tuh di pinggir jalan gitu. Jadi masuknya nggak terlalu jauh dari halte terdekat. Sayangnya saat aku sampai di White Hart Lane, stadion ini tengah direnovasi. Sebenarnya udah kelihatan sih dari jauh karena banyak alat berat gitu tapi karena penasaran ya disamperin aja. Siapa tahu salah? O aza ya kan?

Dan eng ing eng ternyata memang stadionnya sedang direnovasi saudara-saudara!


Karena kecewa pada stadion yang direnovasi akhirnya aku putuskan untuk mengunjungi Stamford Bridge. Padahal sebetulnya Stamford Bridge rencananya akan kukunjungi kapan-kapan saja. Lagi-lagi setelah mengecek di City Mapper, Stamford Bridge jauh lebih dekat dari jalan pulang ke rumah. Jadi okelah ya aku ambil rute ke Stamford Bridge. 

Dari stadion Tottenham tadi, aku kembali ke halte Tottenham Sports Center dan menaiki bus nomor 259 lagi. Nah kali ini aku turun di Seven Stations untuk naik tube. Alhamdulillah sih naiknya tube bukan kereta lagi. Jalur yang digunakan adalah Victoria. dengan perhentian terakhir Victoria. Dari stasiun Victoria ini aku ganti jalur ke kereta District Line hingga nanti turun ke Fulham Broadway.

Sayangnya lagi-lagi insting buta arahku bikin kerepotan. Seharusnya aku mengambil kereta Westbound dengan tujuan akhir Fulham Broadway, eh malah mengambil ke jurusan lain. Untung karena merasa janggal dengan jalur yang dilalui setelah Earl's Court, aku memutuskan untuk berhenti di stasiun terdekat lalu balik kucing ke Earl's Court dan mengambil tube dengan jalur yang benar. Wah, buta arah ini memang parah kok.


Usai kembali ke jalur yang benar, akhirnya aku sampai dengan selamat di Fulham Broadway dan keluar dari Shopping Center. Saat keluar stasiun sempat buta arah lagi lho pemirsa. Aku ambil jalan ke arah kanan padahal seharusnya aku ambil jalan yang kiri. Untung ya ada GPS, baterai juga masih survive. Jadi aku balik kucing dan menuju jalan lurus yang diridhoi Allah.

Dari stasiun Fulham Broadway ke Stamford Bridge nggak cukup jauh juga. Kurang dari 10 menit sudah sampai. Kukira juga masuk ke Stamford Bridge bayar karena tampak resmi gitu kan. Malah kelihatan kayak universitas eh ternyata nggak. Padahal di depan pintu, ada sejumlah petugas yang memeriksa tas. Nah lho siapa yang nggak deg-degan disuruh bayar kalau gitu?

Akhirnya aku nekad masuk dengan pertimbangan, "Kalau diusir ya udah pulang aja." Berhubung memang gratis ternyata ya lolos keamanan sih, orang emang cuma diperiksa tasnya aja. Uniknya, satpam di Stamford Bridge ini nampaknya seorang Muslim. Begitu tahu aku berhijab, beliau mengucapkan salam "Assalamualaikum," mungkin karena merasa satu saudara kali ya? Lalu aku pun menjawab salam beliau. Dan beliau jadi ramah serta senyum-senyum gitu, "How are you?" tentu saja aku menjawab "I'm fine, thank you." Usai bersapa sebentar dengan saudara sesama Muslim, aku pun nyelonong masuk demi foto-foto di depan markas klub yang dimiliki oleh Roman Abramovic ini.


Ada satu hal unik lagi yang kudapat saat berkunjung ke Stamford Bridge yakni bertemu dengan ibu-ibu Asia. Aku meminta tolong padanya untuk memfoto diriku, "Do you speak English?" tanyaku. Dan seperti yang bisa diduga, orang Asia kesusahan ngomong bahasa Inggris jadi dia memberi isyarat tidak. Tapi aku tetap kukuh, "Can you just took a photo of me?" tapi nampaknya dia mengerti yang kumaksud. Jadi, dengan senang hati beliau memfotoku. Tak diduga, hasilnya bagus!

Usai difoto lalu aku bertanya padanya, "Are you Korean or Japan?" (harusnya kan Japanese ah elah). Tapi beliau berkata Jepang, langsung saja aku ucapkan terima kasih padanya dalam bahasa calon suamiku Nakamoto Yuta, "Arigatou Gozaimasu." Sesederhana itu dan si Ibu tersenyum. How relieving right?


Tak cuma Ibu itu saja, ada sejumlah turis lain yang juga memintaku tolong untuk memfotokan mereka dan mereka balik memfoto diriku. Aku sempat bingung sebenarnya keluar dari Stamford Bridge lewat mana. Awalnya kucoba ke sisi dalam stadion tapi aku dicegat oleh petugas keamanan. Akhirnya aku memutar lewat pintu depan tempatku masuk dan mencoba sisi kanan dekat dengan pintu masuk tadi. Oh, rupanya diperbolehkan. 

Berbeda dengan Emirates Stadium, Stamford Bridge berada di balik perumahan sehingga terdapat dinding perbatasan antara stadion dengan rumah warga. Dinding ini ditempeli dengan foto-foto pemain legendaris klub berwarna biru tersebut. Karena tahu itu keren, aku jadi memutuskan untuk berfoto dengan John Terry. Kalau dipikir, kenapa tadi aku nggak nyari fotonya Frank Lampard ya? Bego kan ya? Hahaha

Sama seperti ketika mengunjungi Emirates Stadium, aku tidak menyempatkan diri untuk mengecek harga tiket stadium tour atau mencoba fasilitas tersebut. Aku cuma numpang eksis dan jalan-jalan saja sih. Jadi aku langsung balik. Dan bedanya lagi Stamford Bridge dengan Emirates adalah sepertinya lingkungan Stamford Bridge ini lebih 'kaya' dari Emirates tapi who knows ya?





Yah, untuk sementara ini mungkin hanya stadion-stadion yang ada di London. Tapi kuusahakan dan harusnya sih wajib hukumnya untuk pergi ke Old Trafford. Tidak sekarang tapi yang jelas aku pasti akan ke sana. Entah untuk nonton pertandingan atau stadium tour. Jadi, doakan saja ya kawan-kawan.

Salam dari London, ketika Indonesia masuk waktu tidur London masih terjaga betul.

Jangan lupa cek vlognya ya kawan-kawan