Hijrah ke London: Tidak Semudah Yang Dibayangkan

Kantor Google

Banyak orang yang bahagia ketika memulai perjalanan baru, seperti aku yang akan memulai lembaran baru sebagai mahasiswa Master di sebuah universitas di Inggris. Mereka yang kenal aku pasti tahu aku akan mampu bertahan di negeri orang, meski aku tak pernah sekalipun jauh dari rumah. Bisa dibilang kesempatan untuk menimba ilmu di negeri Ratu Elizabeth ini adalah tantangan tersendiri buatku. Ya, aku memang mandiri tapi apakah kemandirianku ini berarti di tanah rantau?

Jumat, 15 September 2017 merupakan tanggal keberangkatanku ke London, Inggris, kota tempatku menimba ilmu. Setelah melewati sejumlah drama akibat visa yang terbitnya mepet tanggal keberangkatan (H-4) dan sejumlah kekhawatiran, akhirnya mau tidak mau aku berangkat juga ke negeri sepak bola ini. Bahagia? Iya. Sedih? Nggak terlalu. Khawatir? Iya.


Jujur, ini adalah kali pertama aku pergi ke luar negeri dan keluar dari rumah. 24 tahun aku habiskan hidup di Malang, di bawah ketiak orangtua. Kali ini aku benar-benar survive sendirian tanpa keluarga atau siapapun, hanya orang-orang asing yang kebetulan satu flat mate denganku. Awalnya kukira itu hal mudah, ternyata tidak!

Semuanya lancar selama penerbangan, tidak ada halangan yang berarti. Bisa lolos imigrasi, bagasi tidak kelebihan, penerbangan tidak delay tapi kenyamanan itu terbayar oleh sebuah pengalaman yang paling tak terlupakan di hidupku. Hari pertama di London, 16 September 2017 adalah hari paling berat dalam hidupku.

Menariknya, begitu sampai di London rasanya tidak asing. Suasana kiri kanan mirip dengan Jakarta atau Surabaya, dua kota besar di Indonesia yang sering aku kunjungi. Mungkin karena London adalah kota yang diversity-nya besar. Sehingga ke kanan dan ke kiri pun rasanya tetap seperti di rumah. Suasana baru beda ketika sudah masuk ke daerah perkotaan. Seperti yang kalian duga, ada Big Ben, London Eye, bus double decker serta arsitektur yang persis dengan yang ada di film Harry Potter.


Begitu sampai di Heathrow dengan selamat berkat doa-doa orang terdekat, awalnya aku merasa aman. Namun perjuangan sesungguhnya dimulai dari sini. Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Terminal 4 Bandara Heathrow, sementara jemputan universitas yang telah aku pesan ada di Terminal 3. Tentu dong aku harus berjuang menuju terminal 3. Sendirian? Of course. Dengan catatan aku membawa koper besar (27 kg) dan koper kecil (12.5 kg) serta memanggul ransel seberat 7 kg. Kelihatannya ringan tapi percayalah tidak nyaman sama sekali kemana-mana menggiring koper meski pakai troli sekalipun.


Berbeda dengan Indonesia, bandara Heathrow memang terhubung dengan lift serta kereta ekspress khusus. Akan menarik jadinya kalau tidak bawa barang banyak tapi akan sangat merepotkan karena bawa barang super banyak! Aku harus naik turun, jalan jauh, banyak bertanya hingga tiba di Meeting Point pintu kedatangan Terminal 3 untuk jemputan uni.

Gratis sih tapi ada harga yang harus dibayar untuk itu. Karena ini judulnya jemputan uni tentu saja turunnya di Kampusku, Mile End. Sebetulnya kampus ini cukup dekat dari flat tempatku tinggal karena hanya satu kali naik bus tapi tetap saja, aku anak yang buta London sama sekali. Bahkan download aplikasi City Mapper pun aku nggak paham cara pakainya.

Mengingat aku harus pulang ke flat, aku memberanikan diri bertanya pada panitia penyambutan mahasiswa baru. Sayangnya dia tak cukup membantu. Penjelasannya pun terkesan mengambang karena dia sendiri sepertinya bukan mahasiswa eksplorer London. Yang bikin aku gengges sih ini, ketika aku tanya apakah Oyster Card yang aku beli di bandara sudah ada saldonya? Dia menjawab tidak dan aku harus top up ke Stasiun Tube terdekat (penjelasan soal ini akan kutulis di trit terpisah). Dan katanya stasiun tube dekat dengan kampus. Okelah ya, aku akhirnya menuruti nasihatnya karena menganggap dia lebih tahu.


Usai bertanya mengenai jalur dan lain-lain, aku akhirnya memboyong dua koper jahanam ini keluar kampus. Berat? Tentu. Ya bayangin dari bandara hingga keluar kampus nenteng koper yang gede-gede dan berat itu. Gusti, kulo mboten kiat. Ternyata eh ternyata, jarak stasiun tube dari kampus juga lumayan bikin ngos-ngosan! Anjir! Sumpah! Ini cobaan!

Ditambah lagi, stasiunnya ada di bawah tanah dan aku harus naik turun tangga. Duh Gusti, paringi kulo kuat! Pas sampai di stasiun tube dan belajar menggunakan mesin top up eh ternyata kartu Oyster ku ada saldonya! WTF kan? Padahal ya, di kampus ada halte yang lebih dekat dari stasiun tube dan aku hanya perlu naik satu bus ke rumah. Hari pertama di London benar-benar ujian saudara-saudara. 

Beruntung aku bertemu dengan orang-orang baik hati. Yang pertama di kampus, ada seorang pria yang menawarkanku membawakan koper, "Do you need any help?" tapi niat baiknya ini dicegah oleh pria berdasi yang berjalan bersamanya. "No, don't mind her," begitu kata orang berdasi itu. I found it humiliating sih tapi ya udahlah ya aku juga nolak permintaan dia karena aku mampu dan positifnya mungkin pria berdasi itu membiarkan aku merasakan kerasnya hidup di London biar nggak manja. Positif aja.

Lingkungan Rumah

Nah di stasiun tube, ada lagi seorang cowok yang menawarkan bantuan untuk membawakan koperku turun tangga. Dan of course, I thank him for doing such a meaningful act. Aku bersyukur bertemu dengan orang baik seperti itu tapi tak ada yang sebaik Valentina.

Ya, Valentina was the first person that doing really good thing for me and helps me a lot. Wanita ini sudah Ibu-Ibu, usianya sekitar 40-50 tahun dari Serbia. Bayangkan, dia sudah tua tapi membantuku membawa koper-koper berat ini dan membantuku mencari alamat flat-ku!

Dia membantuku naik tube, membantuku turun hingga stasiun Stratford. Membantuku naik bus, bertanya pada orang-orang Inggris (yang ternyata nggak tahu alamat yang kucari). Valentina bahkan rela jalan jauh sama aku mutar-mutar cari alamat hingga membawakan koperku naik ke flat-ku yang ada di lantai 2!!!! Subhanallah. Aku nggak tahu harus berterima kasih kayak gimana ke dia. Aku menawarkan dia untuk istirahat dan minum dulu di flat tapi dia menolak, I should thank her later when I get the settlement allowance. Maybe have a drink or eat something.

Begitu beratnya cari alamat itu, rasanya aku ingin menangis. Benar-benar hari yang berat dan susah hingga aku berpikir apakah mampu aku survive di kota ini? Sesampai di flat, aku sempatkan diri kenalan dan ngobrol bentar dengan rekan satu flat lalu aku naik ke kamarku untuk beres-beres. Usai beres-beres itu aku menangis, menumpahkan segala keluh kesah. It's hard, no joke.

Usai bersedih, akhirnya aku sadar kalau ini tuh belum seberapa. Masih ada banyak hal yang akan kuhadapi selama satu tahun ke depan di Inggris ini. Akhirnya agar aku tidak terjerumus kesalahan yang sama, aku banyak bertanya pada flatmate yang kebetulan sudah tinggal di Inggris cukup lama. Aku banyak belajar soal moda transportasi Inggris dan line mana saja yang harus kuambil. Ternyata semuanya cukup mudah hanya sebelumnya aku memang tidak mengerti saja.

Stasiun King's Cross

Malamnya, aku belanja keperluan pribadi seperti bantal dan sprei untuk dipakai selama di Inggris. Sekalian jalan-jalan dan belajar penggunaan transportasi ini dengan mengantarkan teman satu flat ke kampusnya UAL. Di situ, aku belajar untuk memahami jalur tube yang digunakan dan bus mana saja yang diambil. Aku juga sempat pergi ke Stasiun King's Cross, mengunjungi toko Harry Potter, serta berkunjung ke kantor Google dan Youtube Space. Jalan-jalan malam hari itu cukup menebus kesedihanku di siang harinya.

Well, satu pelajaran yang kupetik dari hari pertama di Inggris: harus kuat jalan! Ya, berbeda dengan Indonesia yang kemana-mana sangatlah mudah karena aku menggunakan motor. Di Inggris aku harus banyak jalan kaki, kedinginan, kehausan, harus bawa tas plastik sendiri tiap berbelanja, dan belajar hemat. Semoga Inggris benar-benar bisa mengubah caraku berperilaku dan berpikir. 


London, pagi kedua setelah mengalami hari yang berat.