Random Attack Dari Kacamata Imigran


Ada beberapa hal yang agak bikin khawatir terjadi selama dua hari berturut-turut di Stratford. Yang pertama terjadi pada hari Sabtu (23/09) kemarin. Pada saat itu akhir pekan, aku memutuskan untuk WiFi-an gratis di Stratford Centre. Alih-alih bisa konek ke WiFi untuk upload vlog, ternyata yang kudapati malah kejadian cukup mengkhawatirkan.

Seperti yang dilansir oleh The Guardian, ada serangan random yang berupa penyiraman asam di Stratford Station. Lokasinya tuh pas banget aku kunjungi di hari yang sama. Dari kejadian tersebut, setidaknya 6 orang terluka dan kalau nggak salah korbannya adalah remaja berusia 15 tahun. Berita ini pun akhirnya menjawab keanehan yang kualami selama di Stratford kemarin.

Jadi, awalnya aku duduk-duduk di tangga Stratford Station menuju Westfield kan. Nah, randomly seorang petugas keamanan memintaku untuk pergi. Pada waktu itu aku nggak mendengar begitu jelas, yang tertangkap telingaku adalah "ada pengeboman". Kok ngeri ya? Pikirku, ya udah aku memilih untuk pulang saja. 

Nah, ketika berjalan menuju halte bus aku balik badan. Kok banyak orang khawatir dan kok banyak banget petugas keamanan bersiaga di stasiun. Nggak mau ambil risiko ya udah aku pulang aja, pikirku.

Stasiun Bus Stratford

Kejadian aneh terjadi lagi kemarin, Minggu (24/09). Usai jalan-jalan karena weekend kemarin cerah, aku berbelanja di Sansburry (alfamart dekat rumah). Saat belanja aku mendengar beberapa orang adu argumen dan saling mengumpat satu sama lain. Pikirku, ah argumen biasa kali ya?

Ternyata tidak biasa saudara-saudara! Pas aku menghitung belanjaan, pintu minimarket sampai ditutup gitu. Dan aku dengar, "Have you called the police? Let's call the police." Lah kok jadi berabe begini? Takut. Terus terang aku takut, takut ada perampokan atau teror atau apa gitu tapi aku berusaha cuek, chill, nggak peduli seperti orang Jerman. Aku tetap menghitung belanjaan.

Nah, konflik semakin memanas ketika salah satu pengacau menendang-nendang pintu minimarket yang ditutup. "Do you want to open the door or not? That's a FUCKING simple question. Yes or no? Answer me!" JDIAR *suara pintu ditendang* Jdiar (lagi) *pintu ditendang lagi*. Orang itu kerap menendang pintu minimarket sampai pintunya hampir bengkok. Anjir, mana ini mesin bayar mandirinya nggak mau nerima duit gue lagi.

Kikuk, khawatir, dan bingung. Saat itu benar-benar bikin aku pengen segera pulang aja gitu. Masalahnya mesin kasir otomatis nggak mau nerima duitku. Kan sedih 😢

Kalau ditanya sama teman-teman di Indonesia apakah Inggris aman atau tidak? Ya, seperti yang sering banget kalian ketahui lewat berita. London itu lagi sering kena serangan bom atau random gitu jadi nggak bisa dibilang sepenuhnya aman. Apalagi kini warga London makin awas saat mengetahui ada koper tanpa pemilik yang ditinggal begitu saja. Nggak salah sih, beberapa serangan terakhir diduga berasal dari koper tanpa pemilik yang ditinggal kayak gitu itu.

Tapi kalau ditanya apakah London berbahaya untuk gadis berhijab? I couldn't say so. Banyak yang mengkhawatirkan kondisiku di sini karena aku berhijab. Tapi buatku pribadi bukan hijab sasarannya tapi personal. Orang sini tuh open minded, mereka tidak mengkaitkan segala tindakan yang mengancam atau teroris dengan agama. Murni karena memang personaliti pelaku memang buruk, bukan agamanya yang buruk.

Jadi dari sekian banyak kasus, orang hijab di sini tidak mengalami diskriminasi atau apapun. Bahkan banyak yang mengenakan cadar daripada aku lho. Dan mereka tetap baik-baik saja kok.Beruntungnya lagi, kawasan tempatku tinggal adalah East London yang tergolong ramah dan memiliki sejumlah komunitas Muslim. Jadi aman-aman saja berada di London dan masih berasa di 'rumah'.


Sebelumnya, aku sempat membaca sebuah pertanyaan lucu dari salah seorang calon mahasiswa Jerman sih. "Apakah minoritas mendapatkan tempat istimewa di sana Mbak?" Bagiku ini pertanyaan lucu. Kenapa? Karena ya Muslim memang minoritas lalu so what? Kenapa kita harus minta diistimewakan? Buatku, selama kita beribadah tidak diganggu orang lain dan selama mereka tidak mendiskriminasi perlakuan terhadap kita, everything is alright. Banyak banget mungkin orang Indonesia yang menganggap bahwa jadi minoritas di luar negeri itu menyengsarakan padahal kenyataannya tidak. Mereka lho tidak mengganggu aktivitas ibadah kita.

Makanya kadang aku juga gedek aja sih, kita (Muslim sebagai minoritas) ingin diistimewakan seperti apa? Dilayani bak raja gitu? Bukankah halal atau tidaknya makanan yang kita konsumsi dan kegiatan peribadatan adalah tanggung jawab kita sendiri? Jadi kenapa minta diistimewakan? Kalau kurasa sih, hal seperti ini juga berlaku di Indonesia. Bukan berarti sebagai mayoritas harus semena-mena dan bukan berarti sebagai minoritas harus diistimewakan. Kalau mau ibadah ya udah ibadah aja selama tidak mengganggu keyakinan lain. Kalau berteman ya udah berteman aja jangan bawa-bawa sentimen agama. Sesederhana itu lho.

Dalam hidup itu intinya satu sih, kalau kita bisa menjaga perilaku insya Allah Tuhan juga bakal menjaga kita. Kalau bertamu di tempat orang ya jangan seenaknya sendiri, tetap junjung tinggi tata krama. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, benar tidak?

Oh ya terus ada satu hal lagi yang kerasa banget setelah aku hijrah ke Inggris yakni eksistensi di sosial media. Jangan kira diam-diam aku tidak observasi ya hahaha.

Jadi begini, pasca aku pindah ke luar negeri yang aku perhatikan adalah jumlah likes serta share di sosial mediaku yang meningkat. Bisa diambil hipotesis bahwa pergi ke luar negeri bagi orang Indonesia masih berupa hal mewah dan pencapaian luar biasa. Tak dipungkiri memang 'mewah' karena butuh uang yang tidak sedikit. Tapi setelah tinggal di sini, ternyata biasa aja gitu saudara-saudara. Sama aja kayak di Indonesia. Kita bertemu banyak orang, pakai transportasi publik, ada orang-orang berandal, ada orang-orang baik, ada orang-orang yang selera fashionnya hancur juga.

Bisa kukatakan, tinggal di luar negeri bukanlah privilege. Di sini kita sama-sama berjuang. Tinggal di negara maju tak lantas membuat kita hidup tenteram juga, ya sama kita butuh penghasilan untuk mencari makan. Malah standar hidup di sini cukup tinggi karena harganya mahal-mahal semua. Banyak hal yang kualami di sini membuatku bersyukur jadi orang Indonesia. Udahlah, di Indonesia itu enak banget seriusan. Standar mewah sebenarnya itu ya tinggal di Indonesia teman-teman. Bersyukurlah!