Welcome Week Campus and The First Week in London


Melengkapi series permulaan hidup di London, kali ini aku akan menceritakan recap minggu pertamaku di Ibukota Inggris ini. Memang sih, aku sempat menuliskan soal hari pertama, transportasi, dan enrollment kampus tapi kali ini aku akan bicara soal topik yang lebih general. Yaitu kehidupan selama seminggu di London.

Yang pertama adalah Welcome Week, tentu dong topik ini adalah yang pertama karena tujuanku memang sekolah di sini kan. Jadi sebagai mahasiswa S2 di London, aku harus melakukan cukup banyak hal. Salah satunya adalah enrolment yang sudah kujelaskan di sini. Usai enrolment emang nggak langsung kuliah sih tapi jangan salah, justru jadi makin padat aja jadwalnya.

Aku mulai masuk ‘resmi’ di kampus itu tanggal 18 September 2017. Hari Senin ini awalnya kukira Cuma pengenalan budaya kampus aja gitu tapi ternyata kuliah dimulai langsung hari itu. Dan lagi aku kesasar. Karena awalnya aku memang hendak mengambil BRP di kantor pos terdekat tapi karena salah bus jadi nyasar deh. Gak karu-karuan.

*BRP : Biometric Residence Permit merupakan dokumen seperti KTP yang harus diambil pendatang maksimal 10 hari setelah datang di Inggris. BRP ini bisa dibilang sebagai visa permanen untuk para pendatang.

Karena salah bus itu, aku jadi pergi ke arah rumah dan memutuskan untuk berhenti di Stratford Station. Di sini baru aku cek lagi jalur serta jadwal induksi (welcome week). Nah, ternyata jam 13.30 itu ada kayak semacam pengenalan Fakultas begitu. Langsung deh aku naik tube ke arah kampus. Tapi karena urusanku adalah BRP (prioritas) aku turun di Bethnal Green lalu jalan cukup jauh hingga kantor pos Whitechapel. Kapok deh naik bus karena takut kesasar lagi. Selesai ambil BRP baru naik bus ke kampus dan Alhamdulillah nggak nyasar.

Salah satu sudut jalanan Bethnal Green

Aku sampai di kampus terbilang tepat waktu. Saat aku datang, event Welcoming Induction School of Economics and Finance belum dimulai. Begitu masuk, aku langsung diberi refresher pack yang berisi Katalog Fakultas, notebook, serta jadwal induksi. Di dalam ruangan pun disediakan snack yang enak serta minuman lho. Wah, mewah deh pokoknya.

Oh ya, aku juga baru pertama kali ini masuk ke hall kuliah. Bener-bener gedung kuliah bersama yang sering aku tonton di film-film Hollywood itu. Hallnya besar dan bangkunya bersusun gitu, ruangannya hangat lagi. Nyaman deh pokoknya. Sebelum masuk ke induksi fakultas, paginya aku juga masuk hall untuk induksi universitas. Salah satunya diadakan di hall besar dengan balkon seperti yang sering ditemui di pertunjukan broadway atau opera gitu.

Dalam induksi fakultas, macam-macam hal terkait akademik diberikan dan yang paling mengejutkan adalah kuliah langsung diberikan di hari pertama Week 0! Iya, aku dan teman-teman harus hadir ke dalam kelas pre-sessional matematika dan belajar dari awal. Untung aku ikutan, kalau nggak bisa berabe sih. Karena emang udah lama aku nggak menghitung matematika dan buktinya aja aku udah lupa beberapa.

School of Economics and Finance Welcome Event

Acara ini berlangsung cukup lama, pokoknya aku pulang sekitar jam 5 sore gitu. Asyiknya aku bertemu dengan teman-teman baru. Namanya Yuli dari Ukraina, Louise dari Luxembrug, dan Aimee dari Vietnam. Usut punya usut Yuli ternyata juga K-Popers dan dia Army! Kami jadi langsung nyambung pas ngobrolin K-Pop. Padahal awalnya aku Cuma duduk di sebelahnya aja. Lalu ada Aimee yang cantik, lembut, dan mengenaliku duluan karena udah nge-add aku di Facebook. Ternyata Aimee dan aku satu jurusan hehe.

Di Inggris aku ketemu banyak orang baik, salah satunya Valentina yang aku ceritakan di bagian hari pertama di Inggris. Sementara itu, di hari kedua aku bertemu dengan seorang pria India bernama Kushjay siapa gitu. Pak Kushjay ini juga membantuku naik bus saat hendak pergi ke kampus lho! 

Flatmates-ku juga orang-orang yang baik sih sebetulnya buktinya mereka helpful banget soal gaya hidup di Inggris. Ngomong soal gaya hidup, di Inggris semua terlihat murah. Kenapa? Karena banyak barang yang harganya itu Cuma 1 pounds, 2 pounds gitu. Padahal ya kalau dirupiahin jatuhnya mahal sih hahahaha.


Meski demikian, uang beberapa ratus pounds aja nggak cukup kayaknya apalagi buat mahasiswa beasiswa yang nunggu dana tunjangan cair 10 hari kayak aku. Saat masuk rumah, hampir kosongan sih. Jadi perlu beli piring, gelas, sprei, bantal, selimut, sabun cuci piring, sendok, rice cooker dll. Salah satu toko murah di sini adalah Sainsburry dan Poundsland. Sebenarnya sih ada kayak Argos, Wilko, Tiger gitu tapi yang baru kukunjungi adalah Sainsburry, Poundsland, dan Morrisson.

Poundsland bisa dibilang serba lima ribunya Inggris, di sini semua barang dihargai 1 pounds aja. Aku beruntung dong bisa dapat powerbank seharga Rp 17.000 hahahahahaha. Panci pun Cuma Rp 17.000 saudara-saudara! Lumayan bisa menghemat pengeluaran. Sementara untuk makan, di sini lebih murah kalau masak sendiri. Kalau beli di luar harganya cukup mahal dan bisa digunakan untuk makan satu minggu lebih jadi kamu lebih pilih sengsara tapi hemat atau mudah tapi boros hayo?

Aku sendiri lebih suka masak makanan frozen food sih tapi semoga saja nanti di sini skill memasakku meningkat. Dua hari pertama di London, aku makan mie instan yang kubawa dari rumah dan bikin nasi goreng. Aku juga makan scrambled egg, masakan yang cenderung sederhana banget. Tapi lumayan lah ya belanjaan senilai 10 pounds bisa dibuat seminggu lebih sembari nunggu SA cair.


Kalau urusan mandi dan higienitas, London semakin membuat aku malas mandi. Hari pertama dan kedua sih masih mandi dua kali, hari berikutnya Cuma mandi sehari sekali xD (yang jelas jangan ditiru). Nggak enaknya lagi, toilet di London sama dengan di Amerika yakni nggak pakai bidet (semprotan) padahal kan nggak bersih ya kalau nggak disemprot gitu. Masa dilap pakai tisu doang? Nggak nyaman kan?

Untuk urusan cuaca, seperti yang sering di-stereotip anak 9gag, London itu kota hujan. Kayaknya di sini hampir setiap hari mendung, nggak pernah yang sunny banget gitu. Tapi hujan di London itu syahdu, romantic gitu. Hawanya nggak bikin malas tapi menyegarkan. Hujannya juga nggak lama sih, Cuma bentar, itupun gerimis aja. Terus jalanan jadi basah dan efeknya menyejukkan. Entah kenapa sejak ada di London aku jadi suka hujan. Padahal kalau di Indonesia nggak banget!

Nah begitulah kisah seminggu pertama di London, bisa jadi kesan yang aku tulis di minggu pertama kedatangan ini berbeda pada saat aku hendak pergi meninggalkan London? Siapa tahu kan?