Perbedaan Kuliah di Indonesia dan Inggris

Graduate Center Queen Mary University London - School of Economics and Finance

Hai semua, balik lagi di Catatan Agista Saraswati. Seperti yang sering aku janjikan, aku akan rajin mengupdate blog ini dan menuliskan kisah-kisah menarik selama aku menuntut ilmu di negeri Ratu Elizabeth. Nah, sekarang sudah ganti di bulan Oktober dan tentu saja ada kisah baru lagi yang akan aku bagikan ke kalian semua 😃

Sebenarnya ada banyak kisah yang ingin kubagikan tapi kali ini aku akan menceritakan soal kehidupan akademik karena yah tujuanku ke sini memang untuk sekolah bukan untuk bersenang-senang travelling kan?

Yang pertama adalah soal metode kuliah di Inggris. Untuk sementara ini aku masih belum merasakan culture shock berlebihan saat menjalani kuliah di Queen Mary University London. Seperti yang aku kisahkan di postingan sebelumnya, Welcome Week Campus and First Week in London, secara tidak langsung kuliahku dimulai sejak 18 September 2017 lalu. Which means, it took two weeks attending the induction classes.

Dua minggu pertama tersebut sudah diisi kuliah dan kelas tapi terbatas pada review kembali mata pelajaran Matematika terkait dengan keuangan, mulai dari fungsi, aljabar, matrik, hingga statistik. Apakah semua menghitung manual? Ya, semuanya adalah hitungan manual. Beruntung sekali mata kuliah ini sangat membantu otakku untuk merefresh segala hitungan matematika yang sempat aku lupakan.

Membaca itu penting saudara-saudara

Minggu "sebenarnya" dimulai pada minggu ini, yakni Senin (01/10). Jangan harap pertemuan pertama dosen memperkenalkan diri dan langsung pulang, langsung ada mata kuliah saudara-saudara! Dan betulan sih, mengikuti kuliah tanpa membaca terlebih dahulu rasanya agak mengganjal. The lecturers won't ask you a difficult question but you need to keep up and be smart enough to understand.

Alhamdulillah karena jurusan S1-ku masih ekonomi, aku masih nyambung dengan kuliah yang diberikan oleh para dosen. Hanya saja, aku merasa kurang karena tidak dapat langsung mengerti atau nyambung soal apa yang mereka bicarakan. Sometimes they ask light questions and I just happen can't answer it. Contohnya: Bapak dosen menjelaskan soal neraca yang menjadi prinsip pengambilan keputusan finansial. Hal ini adalah hal yang sangat mendasar bagi anak Akuntansi tapi sayangnya ada beberapa hal yang kulupa dan membuatku alpa saat dosen melemparkan pertanyaan. Seperti itu. Jadi, notes pertama yang harus dicatat adalah MEMBACA SEBELUM KELAS ITU PERLU!

Yang kedua, masalah absensi di sini lebih ketat dan tidak bisa ditipu (atau bisa aja sih kalau kamu cukup licik). Jadi, di kampusku ini (dan kayaknya di seluruh kampus Inggris juga) semua mahasiswa mendapatkan Student ID Card yang memuat barcode. Barcode ini adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan perguruan tinggi Inggris. Setiap kali masuk kelas, kami diharuskan absen dengan scan barcode yang terdapat pada student id card ini. Di induction week, kami diharuskan absen 10 menit sebelum masuk kelas dan 10 menit setelah kelas started (singkatnya, toleransi keterlambatan cuma 10 menit).

Student ID Card

Faktanya tidak demikian kok, usai kelas kami diperbolehkan tidak scan barcode lagi. Hanya saja konsekuensi dari absensi ini cukup fatal. Bila ketahuan tidak masuk kelas selama beberapa pertemuan, maka status visa akan dicabut dan tentu saja mahasiswa ybs didepak dari Inggris. Pihak universitas akan dimintai data oleh UK Council soal absensi murid. Niat banget kan? Tapi sebetulnya ada kelemahan dari sistem ini sih yakni kartu bisa saja dititipkan ke teman untuk Titip Absen. Meski demikian, tentu pihak universitas lebih canggih dong ya? Dan satu hal yang sangat dibenci oleh pemerintah UK adalah Fraud (kebohongan, kecurangan). Kalau ketahuan melakukan hal ini, ya siap-siap deh tanggung akibatnya.

Fakta kedua soal absensi, keharusan untuk absen 10 menit sebelum kelas juga tidak dilakukan sih. Jadi ya kayaknya sih masih oke kalau seorang mahasiswa datang terlambat.

Selanjutnya adalah bahasa dan partisipasi kelas. Berbeda dengan kelas di Indonesia yang hanya dihadiri oleh 40-an orang dalam kelas yang sama. Misal jurusan Akuntansi kelas A, selamanya kuliah akan dilakukan oleh anak-anak kelas tersebut. Di Inggris, kami lebih banyak kuliah di Lecture Hall bukan di kelas kecil. Lecture Hall sendiri merupakan ruang kelas dengan bangku bersusun yang luas dan dapat diisi ratusan anak. Tentu bisa kamu bayangkan, kapasitas kelasnya lebih besar. Nggak cuma 40 anak aja lho! Dan nggak cuma anak jurusanmu saja tapi diisi dari berbagai jurusan lain. Ditambah lagi, ruang kelas tidak terbatas pada jurusan, siapapun bisa pakai. Misal aku nih kan kuliah di SEF (School of Economics and Finance) tapi bisa kuliah di gedung Geografi, Astronomi, Hukum, dll. Jadi konsentrasi sangat dibutuhkan dalam hal ini. Menariknya nih, meski diisi lebih banyak anak justru hampir semua isi kelas memperhatikan dan sunyi!

Iya, ini adalah fakta ketiga yang aku temukan di UK yakni budaya untuk memperhatikan pembicara. Tidak seperti murid-murid Indonesia yang gemar ngomong sendiri di kelas, di sini kegiatan belajar mengajar benar-benar efisien dan efektif. Dosen menyampaikan penjelasan tanpa bertele-tele, slide presentasi super simpel, para mahasiswa duduk memperhatikan. Kami boleh menyela dosen saat memberikan kuliah tapi dalam kondisi akademik yakni bertanya atau menyampaikan pendapat. Selain itu tidak ada sama sekali! Respect!

Kuliah di Lecture Hall tapi nggak berisik sama sekali. Thumbs up!

Soal bahasa, sebenarnya bukan masalah yang berat juga sih. Well, dosenku kebetulan adalah orang-orang yang ngomongnya masih bisa dipahami. Rasanya sama seperti saat menerima perkuliahan bahasa Indonesia, apa yang mereka bicarakan langsung nyambung aja gitu ke otak. Aku sempat mendapatkan pertanyaan, "Apa kamu nggak kesusahan? Kan harus nranslate dulu baru nyatet." Faktanya, aku tidak menerjemahkan satu per satu ucapan dosenku. Despite the fact our language is different, I could still catch their explanations up. Malah kadang secara otomatis tanganku mencatat dalam bahasa Indonesia meski dosennya ngomong bahasa Inggris. Satu hal lagi yang bikin aku bersyukur adalah dosenku yang orang British asli aksennya nggak terlalu bikin aku pusing. Masih oke lah.

Soal partisipasi di kelas, sebetulnya kami dituntut untuk aktif berbicara juga. Hanya saja mungkin karena ini minggu pertama jadi masih malu-malu dan belum punya pertanyaan yang patut untuk ditanyakan. Yang bisa aku nilai, anak-anak sini memang punya inisiatif tinggi untuk bertanya sih. Memang saat kuliah mereka tidak bertanya tapi pasca kuliah atau saat break, masing-masing mendatangi dosen langsung untuk menanyakan hal yang tidak mereka mengerti. Dan tentu saja, dosen-dosen di sini itu sangat open pada mahasiswa yang mendekati mereka. Mereka mau menjawab setiap pertanyaan, meski itu pertanyaan gampang sekalipun. Dan mereka juga nggak keberatan untuk diganggu dengan e-mail atau dimintai kirim materi kuliah lho. Amazing!

Dan yang paling unik dalam kegiatan belajar mengajar ini adalah Dosen menawarkan ISTIRAHAT! Berbeda dengan dosen Indonesia yang menerjang kuliah selama satu setengah jam penuh, dosen di sini pengertian. Kalau mahasiswanya udah keliatan males, mereka akan menawarkan break selama 10-15 menit.

Materi kuliah bisa diakses gratis dan online

Ngomong-ngomong soal materi kuliah, kebetulan kampusku menyediakan semua resource dengan lengkap. Mulai dari e-book free access dalam aplikasi Kortext hingga free slides yang bisa diakses untuk mengikuti kuliah dalam QM Plus. Jadi seperti tidak ada alasan bagi mahasiswa untuk malas belajar atau kesusahan bahan. Semua sudah tersedia, tinggal akses dengan internet saja. Sampai segitunya lho!

Dari hal-hal di atas, yang bisa dijadikan catatan dan ditiru oleh dosen Indonesia ada banyak. Yang pertama keterbukaan, kelonggaran dalam disiplin mahasiswa (karena telat atau tidak itu toh urusan dia, yang rugi juga mahasiswa itu sendiri), kemudahan akses sumber akademik, dan keramahan pada mahasiswa. Mungkin kalau seluruh dosen Indonesia pakai cara ini, pasti mahasiswa bakal betah kuliah.

Tak cuma buat dosen, hal-hal seperti inisiatif berbicara, aktif bertanya, dan respek pada orang yang berbicara merupakan nilai yang seharusnya juga bisa dimiliki oleh mahasiswa Indonesia. Kalau orang sini aja bisa, masa orang Indonesia tidak bisa? Pasti bisa dong, kan sama-sama makan nasi 😉

Sepertinya itu saja dulu soal perbedaan kuliah di Indonesia dan Inggris. Jangan lupa untuk cari tahu juga 5 hal yang kupelajari selama seminggu di Inggris dalam video berikut ya! Annyeong~ 🙋