Resensi Buku: The Silkworm (Ulat Sutera)


Sejak beberapa tahun terakhir, saya sadar betul bahwa saya ini kurang membaca (buku). Yang saya baca terbatas pada artikel-artikel internet dan berita-berita singkat. Maka saya pun merasa agak malu karena mengaku kutu buku tapi jarang baca buku. Nah, berhubung kini saya sudah hijrah ke negara lain saya bertekad pada diri saya sendiri untuk mulai membaca. Bukan, bukan dari buku yang tebel dan berisi padat, bermula dari buku biasa aja dulu. Salah satunya adalah The Silkworm (Ulat Sutera) karya Robert Galbraith.

Sebetulnya soal bacaan saya agak pilih-pilih sih. Dulu saya hanya membatasi untuk membaca genre fantasi dan teenlit saja tapi semakin saya bertumbuh ternyata kebiasaan membaca itu harusnya tidak dibatasi tapi harus di-embrace. Maka mulailah saya menjamah buku fiksi dengan bobot cerita agak berat seperti 1Q84 atau Supernova. Sayang, saya belum sempat meresensi 1Q84 secara lengkap di blog ini. Tapi tak apa, kalian bisa baca review singkatnya di postingan instagram saya ini.

Males ngereview di blog, di sini aja. Jadi, kemarin baru selesai baca 1Q84 setelah entahlah berapa bulan baca. Bukan karena ceritanya berat, bukan, tapi karena gak sempat aja (alesan) . Kata orang, buku ini tuh mindblowing alias bikin bingung. Emm nope, semua jelas sih tapi emang endingnya agak multitafsir. Nah kalau menurutku nih, happy ending and they lived happily ever after . Ada beberapa hal yang bikin kening berkerut dan ending pun tak menjelaskan satu pertanyaan buatku. Sementara pertanyaan lain bisa terjawab kalau misal kita meraba-raba . Development karakter bagus dan aku suka sosok sentralnya yakni Aomame dan Tengo. Dua orang ini serasi, saling melengkapi, dari sifat mereka berdua . Oh ya, satu lagi yang kusuka dari Murakami yakni knowledge-nya. Sama seperti kata dosenku, tingkat kecerdasan atau banyaknya referensi yang dibaca orang itu keliatan dari tulisan. Dan Murakami ini orangnya kaya banget referensinya . Buku ini tuh tiga jilid tapi beda sama trilogi yang pernah aku baca. Bisa dibilang jilid 1 sama 2 nggak punya ending atau 3 buku ini sebenernya 1 buku tapi dipecah jadi 3 karena ketebalan . Not bad tapi nggak mindblowing ah 😝 . Apakah recommended untuk dibaca? Ya, kalau kamu selow baca aja sih . #1Q84 #review #shortreview #resensi . Makasih mas @yoyoyokbudiono udah minjemin. Senin kubalikin yah, maaf lama 😂😂
A post shared by Agista Saraswati (@agistajung) on

Nah, kali ini saya ingin meresensi buku karya penulis favorit saya, JK Rowling. Seperti yang kita ketahui, setelah menamatkan Harry Potter saga beberapa tahun lalu, Rowling tidak berhenti menulis (dan memang seperti itulah penulis, tidak berhenti menelurkan karya). Rowling kembali dengan kisah dewasa macam The Casual Vacancy dan juga menggunakan nama alias Robert Galbraith dengan dua buku berjudul The Cuckoo's Calling (Dekut Burung Derkuku) dan The Silkworm (Ulat Sutera). Alhamdulillah, saya dapat hadiah The Silkworm dari team leader saya semasa bekerja sebagai jurnalis. Thanks a lot Mas Ek, I appreciate this book and your good intention.

The Silkworm sendiri merupakan buku kedua dari kisah si detektif partikelir Cormoran Strike. Setelah selesai dengan kasus Lula Landry di buku pertama (yang belum saya baca), Cormoran kembali dan dimintai tolong oleh seorang wanita misterius bernama Leonora Quine. Leonora mengaku bahwa sang suami yang berprofesi sebagai penulis telah hilang selama beberapa minggu dan dia ingin Strike menemukan sang suami untuknya.

Ini adalah kali pertama saya membaca cerita berbasis kisah detektif. Sebelumya saya membaca secara ringan kisah detektif seperti dalam Lima Sekawan atau Sherlock Holmes tapi itu udah lawas banget. Saya tidak menyangka bahwa JK Rowling lihai membuat kisah thrilling semacam ini dengan penggambaran pembunuhan yang cukup sadis. Saya nggak bisa bayangin apabila buku ini divisualisasikan dalam bentuk film. Pasti bakal keren.


Dan tokoh Cormoran Strike sendiri sangat pas bila diperankan oleh Benedict Cumberbatch, entah sengaja atau tidak dari tinggi, rambut, dan perawakan si Cormoran ini suitable kalau diperankan oleh Benedict (terlepas dari perannya sebagai Sherlock Holmes versi serial TV lho ya). 

The Silkworm dibuka dengan introduksi yang lembut tapi mengalir, membuat pembaca ingin terus menerus mengetahui apa dan siapa pelaku pembunuhan si suami Leonora Quine. Ditambah lagi, JK Rowling juga menyajikan bumbu latar belakang identitas Strike sehingga membuat pembaca tidak bosan. Pergeseran dari inti cerita utama ke sampingan ini tidak terkesan dipaksakan tapi hadir dengan lembut dan membuat jalinan cerita malah runut dan rapi.

Rowling pun menyelipkan sejumlah jokes dan adegan lucu nan manis agar tak membuat pembaca ikut stress seperti yang dialami Cormoran dalam menguraikan untaian benang kusut kasus orang hilang berakhir pembunuhan ini. Tapi tetap saja jokes dan adegan manis tersebut tak sepadan dengan rahasia-rahasia mengerikan yang terkuak satu per satu.

Awalnya saya berpikir bahwa cara JK Rowling menjelaskan untaian-untaian kasus ini mirip dengan Sherlock Holmes tapi kalau dipikir lagi dari chapter-chapter sebelumnya JK Rowling justru malah membuat pembaca menebak-nebak. Ini tuh yang bener yang mana sih? Teorinya seperti apa sih? Dan tak lupa JK Rowling malah menyiapkan kejutan istimewa di bagian akhir. 

Bisa dibilang The Silkworm ini brutal, licin, dan berliku. Mungkin tak semua pembaca akan menyukainya tapi saya jamin penikmat kisah misteri dan thriller apalagi yang detektif-detektifan ini bakal betah membacanya. Well, pesan moral dari buku ini sendiri adalah Jangan jadi pendendam karena jadi pendendam itu tidak baik. Dan lebih baik jaga mulut dan perilaku juga, karena orang baik saja punya banyak musuh apalagi orang yang perilakunya tidak baik?

Rate: ★ ★ ★ ★ ☆