Review Film: Thor - Ragnarok [2017]


Para penggemar Marvel pasti sangat menunggu kehadiran si Dewa Petir tahun ini di layar lebar. Sebab THOR: RAGNAROK merupakan film pamungkas untuk menutup trilogi Sang Putra Odin ini. Ditambah lagi desas-desus soal kemunculan Doctor Strange, kehadiran Cate Blanchett, serta trailer yang menakjubkan makin membuat penonton penasaran, apalagi aku. Jujur sejak trailer Thor dirilis pada saat aku masih jadi editor, aku sudah sangat menantikan film besutan Taika Waititi ini.

Well, ekspektasi jauh dari realita.

Seperti yang sering banget Ron bilang dalam blognya dan seperti yang seharusnya semua Muslim tahu, "Jangan menggantungkan harapan pada manusia karena pada dasarnya harapan tersebut akan berujung kesia-siaan." Begitulah yang kurasakan usai menonton penutup trilogi si ganteng nan macho Chris Hemsworth ini. To put it simply, Thor wasn't that good.

Alkisah Thor Odinson (Chris Hemsworth) kedatangan seorang musuh wanita super kuat. Wanita ini seperti setan yang liar dan beringas, wanita tersebut adalah Hela (Cate Blanchett). Seperti yang kalian ketahui dari trailer, Hela ini mampu menghancurkan senjata sekaligus "pacar" Thor, Mjolnir. Lalu apa jadinya dong Thor tanpa Mjolnir? Itulah yang ingin disampaikan oleh film ini.

Entah mungkin karena ditangani oleh sutradara yang berbeda dari seri sebelumnya, pertanyaan yang muncul di bagian credit scene tak terlalu terjawab. Terjawab sih tapi dengan cara yang sangat janggal, istilahnya kurang smooth gitu. Bisa dibilang, pengembangan plot Thor: Ragnarok ini kurang matang. Kayak ada sejumlah plot hole dan kisah yang melompat-lompat.


But it's okay karena Chris Hemsworth ganteng! APALAGI PAS RAMBUTNYA CEPAK MASYA ALLAH NIKAHIN ADEK BANG!!

Nggak cuma Chris Hemsworth ini, sang adik yakni Loki (Tom Hiddleston) juga makin mencuri perhatian. Tidak hanya karena ketampanan hakiki, Tom Hiddleston membuat penonton merasakan love hate relationship betulan pada karakter Loki. Lalu ada juga Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) yang muncul dan tampak ganteng serta sleek. Honestly, I didn't consider Benedict as a handsome man but yes, he did look awesome on this movie.

Yang patut diacungi jempol dari Thor: Ragnarok adalah olahan visual yang sudah pasti kelasnya tidak diragukan lagi. Tambahan lain yakni soundtrack yang nge-rock banget. Jadi meski plotnya nggak begitu memuaskan, backsoundnya cukup bikin hepi lah. Well, siapa sih yang nggak cinta dengerin Immigrant Song-nya Led Zeppelin? Hahaha

Awalnya juga kukira Thor: Ragnarok ini bakal memiliki tone atau vibe Guardian of The Galaxy. Tidak salah sih, memang ada 'cipratan' tone dan vibe GoTG tapi jatuhnya semacam nanggung gitu. Setengah film tone-nya cerah sementara setengahnya lagi tonenya gelap. Nggak dark sekalian kayak di Thor: The Dark World.


Sebagai seri pamungkas, aku berani bilang bahwa Thor: Ragnarok ini tidak sebagus Civil War atau Iron Man 3. Rasanya kayak kamu tuh sudah berharap lebih tapi dihempaskan dari ketinggian. Film ini tuh kayak menang budget besar tapi tidak digarap serius gitu. Dan satu hal yang perlu kalian tahu, Thor: Ragnarok tidak menyinggung atau membocorkan apapun ke film Avengers ketiga, Infinity War. Kabar baiknya, kalian yang kangen sama si Hulk alias Bruce Banner (Mark Ruffalo) bakal ketemu sama dia.

Sepertinya ada satu hal lagi yang bikin penonton betah nonton Thor: Ragnarok ini yakni humornya yang receh banget. Karakter Hulk pun digambarkan sebagai karakter komedi, tidak seserius karakter yang ada di film-film sebelumnya. Istilahnya Mark Ruffalo benar-benar did a good job sebagai Hulk atau Bruce Banner dalam film ini.

Udah ya segitu aja, sudah malam waktunya bobo nih. Kalau kalian penggemar Marvel rasanya nggak wajib-wajib banget kok nonton Thor tapi kalau kalian maksa ya aku bisa apa? Percayalah Thor: Ragnarok bukan ending yang bagus untuk sebuah trilogi Dewa Petir.

P.S: Jangan lupa nonton sampai habis ya, selalu ada credit scene gaes!



Plot★ ★ ★ ☆ ☆
Akting★ ★ ★ ☆ ☆
Musik★ ★ ★ ★ ½
Grafis★ ★ ★ ★ ½
Overall★ ★ ★ ½ ☆