Whitechapel & Embong Arab di Jantung London


Seperti yang sudah pernah aku bilang, menjadi minoritas atau apapun itu tidak berpengaruh. Karena ya ngapain minta diistimewakan? Kayak kamu penting aja. Selama bisa hidup berdampingan, nggak ada yang namanya derita menjadi seorang minoritas. Hanya saja, tidak semua orang berpikiran sepertiku. Dan kadang, masih ada mahasiswa Indonesia yang manja hanya karena menuntut ilmu di Eropa yang notabene mayoritas non-Muslim.

Setelah hidup lebih dari satu bulan di Inggris, aku tidak mengalami kesulitan untuk beribadah ataupun makan. Asalkan dagingnya ayam dan berlabel halal ya aku makan saja. Tapi aku juga tidak memungkiri untuk makan daging sapi atau ayam di restoran berlogo non-halal. Karena kupikir, meski tidak disembelih dengan menyebut bismillah yang penting cara mendapatkannya halal dan aku sudah baca doa sebelum makan.

Hidup di London juga termasuk tidak membahayakan bagi orang-orang Muslim. Kadang aku ditanya teman-teman dari Indonesia, "Kan kamu pakai jilbab, di sana apa nggak didiskriminasi?" Jawabannya SAMA SEKALI TIDAK. Tidak ada yang namanya diskriminasi atau hak istimewa meski berjilbab. Toh, yang berjilbab di sini tidak cuma aku. Dan Alhamdulillah hingga saat ini aman-aman saja.

Mungkin yang menyebabkan hal ini adalah aku tinggal di lingkungan central Muslimnya London. Ya, aku tinggal di kawasan East London yang terkenal sebagai 'kiblat' orang Muslim di bumi bagian utara Eropa ini. Masjid dapat dengan mudah ditemukan, hanya saja tidak semua masjid mengumandangkan adzan dengan lantang seperti di Indonesia. Somehow, inilah yang bikin aku kangen sama rumah. Suara adzan. Padahal kalau di Indonesia suara adzan malah nggak digubris hahaha.

Ada sejumlah hal unik yang kualami akhir-akhir ini. Yang pertama adalah aku sangat mudah dikenali sebagai orang Indonesia. Pertama kali aku ditanya stranger bahwa aku orang Indonesia adalah ketika aku mencuci pakaian di sebuah laundrette milik Pak Haji di kawasan Romford Road. "Are you Indonesian?" tanya petugas laundrette tersebut padaku. "Yes, I am. How do you know?" Dia menjawab bahwa mukaku iku kentara banget muka orang Melayu. Dan orang Melayu yang pakai jilbab itu terkenal dari Indonesia karena maklum lah ya Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar. Sedihnya, dia juga bilang bahwa orang Indonesia terkenal pemalas juga hahaha.

Yang kedua Sabtu kemarin, konon aku tengah berjalan kaki dari flat menuju Stratford Center. Saat berjalan tersebut, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyapaku dan berkata, "Are you from Indonesia?" dan tentu dong aku jawab, "Yes, I am." Lalu lelaki itu menyapaku dengan ramah dan pergi. Yang terakhir, kualami hari ini saat jalan-jalan di Whitechapel. Pas mau menyeberang, ada seorang Bapak-Bapak yang menyapaku, "Are you from Indonesia? Assalamualaikum. Nice to meet you!" Katanya. Ya tentu aku balas salamnya dengan ramah. Sebetulnya ada satu lagi tapi orang ini tidak menanyaiku apakah aku dari Indonesia atau tidak, yakni petugas keamanan di Stamford Bridge. Dia hanya mengucapkan, "Assalamualaikum," begitu.

Bertemu dengan banyak orang-orang Muslim tentu membuatku merasa berada di rumah. Ini adalah salah satu alasan kenapa aku bisa betah di London. Di London, aku bertemu banyak orang baik. Sekedar menyapa pun oke, ternyata Inggris bukanlah negara yang sedingin aku pikirkan. Hence, aku jadi makin bersyukur karena aku berkesempatan kuliah di Inggris. Coba aku jadi kuliah di Jerman, mungkin aku tidak akan merasakan kehangatan seperti 'rumah' kayak gini. Allah itu baik memang.

Ngomong-ngomong soal minoritas Muslim dan orang-orang yang kutemui di London, seperti yang sudah kusinggung sebelumnya East London merupakan pusat komunitas Muslim. Sebetulnya aku sudah pernah berjalan-jalan di Whitechapel di awal kedatangan tapi hari ini adalah hari dimana aku benar-benar menelusuri Whitechapel.

Well, kedatanganku ke Whitechapel sendiri tak lain tak bukan adalah karena ada campur tangan akademis. Ceritanya ada kelas pengganti yang dilakukan di kampus Queen Mary Whitechapel. Aku baru tahu bahwa Fakultas Kedokteran QMUL ada di balik Royal London Hospital Whitechapel. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di kampus selain Mile End ahahaha. Lalu sekalian juga aku pergi ke kantor pos untuk mengirimkan kartu pos buat teman-teman jadi ya memang hari ini bertajuk 'Petualangan di Embong Arab Whitechapel'.

Kenapa disebut Embong Arab? Karena memang setiap kota pasti punya Embong Arab dan Pecinan yakni kawasan yang didominasi oleh peranakan Arab atau China (eh kayaknya nggak boleh nyebut kata ini biar nggak dikata rasis 😝). Kebetulan, Whitechapel ini semacam jadi Embong Arab-nya London gitu. Padahal tahu tidak kalian bahwa Whitechapel itu sebenarnya adalah gereja bersejarah di kawasan ini? Ngehehehehe~

Di Whitechapel, terdapat salah satu masjid besar yakni East London Mosque. Dan ketika lewat masjid ini, pertama kali kudengar adzan di Britania Raya. Rasanya mau nangis dan kangen banget sama rumah. It feels like century I never listened to adzan (ah ini lebay sih). Sayang tadi pas mau mampir engga tahu pintu masuknya. Di pintunya cuma tertulis "FOR MEN ENTRANCE ONLY" masa? Hmm, sungguh disayangkan.


Di sisi-sisi East London Mosque ini terdapat banyak restoran halal tapi yang dijual sejenis. Jualannya nasi Biryani, masakan India, dan something like that gitu. Aku sih nggak minat makan masakan India jadi tidak mampir. Lalu di sekitar Whitechapel ini terdapat pasar kaget gitu. Sudah jelas lah ya yang jualan kalau nggak orang India ya orang Arab (Pakistan, Bangladesh, Iraq, etc). Modelnya Whitechapel ini bener-bener ngeblend banget sama kultur Indonesia gitu. Benar-benar berasa di rumah.

Lalu yang mencuri perhatianku adalah kampus Barts & London ini sih. Ini tuh fakultas kedokteran tapi gedungnya artsy, cantik, estetik gitu. Pas banget buat jadi background foto instagram. Apalagi tadi aku mengenakan sepatu Timberland KW kan. Kayaknya asyik banget aja gitu kalau foto di kampus Barts & London ini. Sayangnya aku jalan-jalan sendiri hahahaha.





But it's okay, akhirnya beberapa menit sebelum masuk kelas aku bertemu dengan close friend beda jurusan yakni Yuli. Nggak disangka-sangka banget aku bisa ketemu sama fans Bangtan Seonyeondan ini. Setelah ketemu dia, aku jadi nyuekin teman satu jurusanku dan memilih untuk duduk bareng Yuli. Kami pun ngobrol usai kuliah dan menghabiskan waktu untuk ngobrol dari kampus Whitechapel ke Mile End dengan jalan kaki. Kayaknya tidak berfaedah tapi percayalah bertemu Yuli adalah pengobatan batin bagiku hahaha.

Oke, sekian dulu cerita kali ini. Kapan-kapan kita lanjut lagi ya! See ya~ 🙋

Ditulis di flat yang akhirnya punya WiFi, London. 21:57.