Bad Genius, Cerdas Tapi Tukang Tipu


Entah kenapa, November ini banyak sekali isu-isu menarik untuk dikritisi. Maka dari itu konsep tulisan di blog jadi opini semua, bukan cuma Tentang Inggris doang. Total sejak tanggal 21 November kemarin, isi tulisanku adalah opini kritis pada fenomena yang terjadi pada diriku sendiri atau tanggapan atas isu sosial di Indonesia.

Nah, kali ini aku ingin menanggapi soal "Bad Genius". Sesungguhnya istilah tersebut merupakan salah satu judul film Thailand (yang kebetulan aku temukan di kolom komentar Line Today). Film yang dirilis tahun 2017 ini mengisahkan tentang seorang pelajar cerdas yang membuka bisnis contekan. Intinya film ini menggambarkan fenomena ketidakjujuran demi mendapatkan nilai bagus dan bersekolah di tempat yang prestisius. Mengerikan bukan? Akibat kultur orang Asia yang mendewakan nilai, para siswa pun rela menghalalkan segala cara demi terlihat "pintar" dan "sukses". Maka dari itu, apakah kalian mulai sadar bahwa capaian akademis itu tidak penting-penting amat?

Kata orangtuaku (serta orang dewasa khas Asia lain), semakin pintar seseorang maka mereka akan semakin sukses. "Ada anak-anak yang seringkali ingin mendapatkan nilai sempurna (A/100) di semua mata pelajaran, bila tidak maka itu disebut kegagalan. (Tipikal) Orangtua Asia berpendapat bahwa semakin anak mampu maka mereka harus semakin bekerja keras," (PSDN). Secara statistik, anak-anak dari benua Asia belajar lebih dari 13 jam per minggu untuk mengerjakan PR, jauh di atas anak-anak bagian dunia lain (kulit hitam, latin, atau kaukasia).

Semakin dewasa aku menyadari bahwa kesuksesan itu tidak cuma diukur dari intelejensi seseorang saja, ada banyak faktor seperti keuletan, problem solving, sifat pantang menyerah, dan kreatif. Jadi sukses itu tidak bisa diukur dari nilai saja. Buktinya Mark Zuckerberg bisa sukses meski drop out dari Harvard, begitu pula Bill Gates. Karena mereka tidak cuma pintar tapi kreatif, oportunis, dan gigih menjalani passion mereka. Faktor-faktor lain di luar kecerdasan itulah yang jarang sekali disadari oleh orangtua Asia.

Tipikal banget kan?


Karena paradigma "anak pintar" selalu sukses ini, anak-anak yang tidak mendapatkan nilai bagus selalu dianggap bodoh dan tidak punya kemampuan lain (padahal mereka mungkin punya kemampuan di luar hal akademik). Paradigma nilai bagus itu pun akhirnya melahirkan generasi-generasi penipu, mencontek bukan lagi hal tabu di kalangan siswa. Yang penting dapat nilai bagus, berbohong dan jadi orang tidak jujur pun dimaafkan. Secara tidak sadar, paradigma yang tidak tepat tersebut menciptakan monster akademis.

Yang baru-baru ini lagi ngehits adalah Krimi (HDS), seorang mahasiswa Universiti of Malaya yang ternyata melakukan kebohongan besar. Kebohongan ini diungkap oleh akademisi Universitas Indonesia, almamater Krimi sebelum melanjutkan strata "double degree"-nya di negeri jiran. Usut punya usut Krimi ini sudah di-DO dari Universitas Indonesia karena melakukan tindak tidak terpuji. Bukan hanya menyontek lho, mahasiswa ini berani membawa pulang lembar jawaban dan mengumpulkannya dengan alasan "ditemukan Office Boy".

Tak cuma sekali dua kali, rupanya si Krimi ini kebal pada peringatan yang diberikan oleh kampus. Bahkan Krimi ini sepertinya mengidap gejala sociopath atau mythomaniac (pembohong yang tidak merasa berbohong dan malah cenderung menikmati kebohongan tersebut. Sikapnya biasa saja, tidak gugup sekalipun meski dikonfrontasi). Setelah dikeluarkan dari kampus, nampaknya Krimi tidak menunjukkan tanda-tanda jera. Dia malah berani memalsukan dokumen berupa ijazah dan transkrip untuk melanjutkan kuliah di Universiti of Malaya. Namun Krimi akhirnya menuliskan klarifikasi dan mengaku bahwa dia tidak pernah menerima surat DO dari UI hingga akhirnya pindah ke kampus negeri di Malaysia (source: kumparan). Akan tetapi klarifikasi Krimi ini masih diragukan sebab, seorang pengguna twitter lain mengumbar berbagai macam bukti bahwa prestasi akademik Krimi patut dipertanyakan kredibilitasnya.

Selain Krimi, ada satu lagi akademisi Indonesia yang mencoreng integritas Indonesia yakni Dwi Hartanto. Pria yang kini jadi mahasiswa S3 di Institut Teknik ternama dunia, TU Delft, Belanda ini memalsukan sederet prestasi demi terlihat "mentereng" sebagai seorang ilmuwan. Dwi berbohong soal almamaternya, berbohong soal penelitiannya, bahkan sempat mengaku diundang untuk bertemu dengan BJ Habibie. Bila dibiarkan lama-lama, contoh-contoh akademisi kurang berintegritas ini akan semakin menjamur dan bisa dibayangkan implikasi jangka panjangnya terhadap generasi bangsa.



Lalu apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki untuk mencegah hal yang sama terjadi lagi? Yang pertama tentu saja mindset "Anak pintar dengan nilai bagus semasa sekolah adalah orang sukses". Mungkin prinsip tersebut awalnya terlihat sederhana, faktanya membebani anak agar selalu mendapatkan nilai bagus punya efek buruk pada psikologis. Tekanan dari sekolah dan orangtua agar siswa selalu dapat nilai bagus merupakan akar dari penyakit psikologis dilansir dari Stanford.edu.

Sebagai orangtua di era modern, nampaknya ekspektasi terhadap anak untuk memiliki nilai bagus harus sedikit dikurangi. Sebab masing-masing anak kan punya keahlian tertentu yang tak bisa diukur dari nilai saja. Alih-alih mengarahkan anak untuk selalu mendapatkan nilai 100, bukankah lebih baik mengarahkan mereka untuk mendalami passion dan kreatifitas? Finlandia sebagai negara dengan taraf pendidikan terbaik di dunia telah melaksanakan hal ini jauh lebih dulu dari negara-negara lain di dunia.

Pendidikan memang penting tetapi menghalalkan segala cara agar terlihat "jenius" atau "sukses" di mata orang lain tanpa integritas itu bukan kejadian yang patut diapresiasi. Selain mulai mengikis paradigma "Nilai Adalah Segalanya", dibutuhkan juga reformasi sistem pendidikan yang mengakomodir kebutuhan siswa. Seperti apa? Alangkah baiknya lingkungan pendidikan mulai mengapresiasi para siswa dengan kepribadian baik (membuang sampah pada tempatnya, ramah pada guru, berlaku baik pada teman) sama halnya sekolah mengapresiasi siswa cerdas. Karena perilaku itu tidak terbentuk begitu saja, melainkan berasal dari pengaruh orang-orang yang sering ditemui setiap hari. Apabila sekolah menciptakan lingkungan kondusif bagi anak untuk berperilaku baik, berintegritas, dan tidak berpatokan pada nilai rapor saja, mungkin generasi masa depan akan terselamatkan.

Memang sih tiap manusia punya motif dalam berbagai tindakan yang mereka lakukan, termasuk penipuan yang dilakukan oleh akademisi Indonesia ini. Akan tetapi pencegahan sebelum penyakit tersebut terjadi merupakan hal yang seharusnya jadi fokus saat ini. Mari kita mulai berintegritas dengan go with the flow dan tidak mendewakan NILAI. Sebab nilai bagus bukan berarti siswa paham akan pelajaran yang mereka dapatkan di masa sekolah. Sejatinya di dunia ini manusia itu mencari ilmu, bukan mencari nilai apalagi mencari pujian dari manusia lain semata.