Perjalanan Hidup



Baru hari ini aku menandaskan sepenggal kisah biografi role model aku, Gita Savitri. Bagi yang tidak tahu, Gita ini sebetulnya anak biasa saja. Yang pertama dia dikenal karena parasnya yang rupawan (banyak yang bilang dia mirip Kim Ji Won tapi buatku dia lebih mirip Laudya Cinthya Bella). Yang kedua dia tinggal di Jerman. Yang ketiga, dia selebgram. Dan yang terakhir, on the top of them all Gita ini anak muda yang menginspirasi lewat sosial media baik itu Youtube atau Blogger.

Awalnya aku tahu Gita setelah iseng-iseng mengetikkan keyword "Sekolah di Jerman" ketika aku masih punya hasrat menggebu-gebu untuk sekolah di negeri Panzer tersebut. Lama-kelamaan, aku betah nonton kehidupan Gita di Jerman dan berujung ngepoin semua akun sosial media dia. Walhasil kini aku follow hampir semua platform sosial media yang dia miliki.

Awalnya kukira Gita adalah sosok yang religius, cantik, dan kalem. Ternyata tidak, dia punya pikiran yang tajam dan gaya bahasa yang sarkastik pula. Aku baru mengetahui itu dari tulisan-tulisan yang ada di blognya. Nah, setelah menghabiskan RENTANG KISAH (buku Gita Savitri) aku baru tahu bahwa dia sedikit banyak punya pengalaman hidup yang serupa denganku.

Setiap orang pasti berproses, begitu keyakinan yang aku pegang teguh. Entah itu cepat atau lambat, di usia 20-an atau 30-an atau bisa jadi belasan, setiap orang pasti pernah mengalami titik nadir. Karena semua orang pasti sudah yakin betul bahwa roda itu terus berputar, kadang di atas kadang juga di bawah. Hidup juga begitu kok. Dan di balik kesuksesan orang lain, selalu ada tangis, darah, dan air mata. Nggak ujug-ujug terkenal, nggak ujug-ujug jadi kaya. Karena semua hal di dunia ini pasti ada alasannya, semua pasti ada sebab dan akibat, begitulah prinsip kedua yang kupercaya hingga kini.

Membaca RENTANG KISAH membuatku sadar bahwa ada banyak hal yang harus disyukuri, ada begitu banyak kekurangan yang harus dibenahi, dan ada sejuta kisah pahit yang harus diikhlaskan. Selama ini aku hidup dalam ambisi, rupanya Gita juga. Dan RENTANG KISAH mengajariku bahwa menjadi orang yang terlalu berambisi itu tidak baik. Even I'm not ambitious to that extent.

Bagian yang paling membuatku sadar bahwa aku banyak salah adalah saat Gita menjelaskan bahwa orangtua itu punya andil besar dalam hidup anaknya. Selama ini, kukira aku hidup mandiri tanpa bantuan banyak dari orangtua. Aku selalu menganggap bahwa aku tidak terlalu merepotkan mereka karena aku selalu berusaha untuk dapat beasiswa, selalu berusaha untuk jadi anak yang pintar dan belajar sendiri. Kalau dipikir-pikir, sejak kecil orangtuaku sudah mengeluarkan cukup banyak biaya yang gak bakal bisa aku kembalikan dalam bentuk apapun atau jumlah berapapun. 

Mereka memang tidak banyak mengajariku membuat PR saat masih sekolah dulu tapi keringat mereka demi aku dan adik-adikku agar tetap hidup tak boleh dilupakan bukan? Aku jadi merasa sangat bersalah begitu ingat aku sempat berlagak tidak membutuhkan mereka. Aku jadi merasa berdosa karena pernah menanam benci pada Ayahku karena sikapnya yang keras. To be honest, Ayah dan Ibuku memang tidak sepenuhnya jadi contoh yang baik tapi bukan berarti aku boleh bertindak seenaknya untuk tidak menghargai mereka bukan?

Berkat Gita, aku jadi sadar bahwa aku ini penuh dosa pada kedua orangtua.



Bicara soal berproses, aku juga pernah berada di masa-masa transisi. Antara menjadi atheis/agnostik atau tetap berpegang teguh pada keyakinan. I was in a state that I started to doubt my religion. I was in a state that I keep wondering how Islam could be that extreme. I was in a state that I started not to believe in Islam and want to throw it away. Aku kerap kali mempertanyakan logika di balik semua larangan dan ketidakcocokan yang ada dalam Al Qur'an. Bahkan aku sempat tidak percaya bahwa Al Qur'an dijaga kemurniannya, aku sempat berpikir kalau Al Qur'an sekarang ini sudah berbeda dengan zaman Rasulullah dahulu. Astagfirullah hal adzim.

Saat itu, aku benar-benar jauh. Salat tidak pernah, pekerjaan sehari-hari nongkrongin TL Agama Imajinasi, baca-baca teori konspirasi, dan lain sebagainya. Tapi entah kenapa, pada suatu masa aku sadar bahwa tanpa digerakkan olehNya mana mungkin semesta dan isinya ini ada? Sejauh apapun aku memikirkan terbentuknya bumi dan alam semesta ini menggunakan logika baik Big Bang Theory sekalipun, kalau tidak ada suatu Zat yang menggerakkan dan menghendaki ini semua terjadi, gak bakal ada dunia ini kan?

Tapi pada saat itu aku masih belum berhijab meski sudah menyadari bahwa ada kekuatan tak terlihat di jagat raya ini.

Barulah setelah aku merasa malu karena imanku se-dangkal itu aku memutuskan untuk berhijab. Dulu, aku sempat mengenakan hijab tapi kulepas karena aku merasa berhijab itu artificial dan bikin gerah. Tapi setelah mengalami satu dan lain hal, akhirnya aku beranikan diri untuk menutup kepala dan tidak lagi berpikir "Lebih baik dihijabi hatinya dulu baru penampilan fisik." Mau tidak mau, kini aku mengakui bahwa setelah berhijab, sikap dan perilaku perlahan membaik begitu juga soal ibadah. Karena seseorang pasti akan malu melakukan hal buruk ketika dia berhijab bukan?

Setelah berhijab, perlahan juga aku menanggalkan sifat-sifat buruk yang melekat pada diri yang hina ini. Well, sampai sekarang pun aku belum jadi "orang baik" hanya saja sifatku yang pemarah, ambisius, iri hati, dan dengki sudah agak berkurang. 

Pengalaman memang mendewasakan. Pasca pertengkaran hebatku dengan seorang teman, kini aku mulai mengerti arti untuk hidup santai dan go with the flow. Aku tetap punya tujuan hidup dan fokus untuk mencapainya tapi kini aku mencoba untuk ikhlas setiap kali rencanaku gagal. Bagaimanapun juga, Tuhan lah yang menentukan apapun yang terbaik bagi kita.

Kalau dipikir-pikir, ada begitu banyak hal ajaib yang aku rasakan setelah mencoba untuk ikhlas atas kehilangan sesuatu. Yang pertama, dari kegagalan masuk STAN. Kalau aku berkuliah di STAN, mungkin saat ini aku tidak akan mengenyam pendidikan S2 di luar negeri. Atau mungkin ketika aku tinggal di Jakarta selama berkuliah di STAN, aku akan mengalami kejadian tidak mengenakkan. Yang kedua, kalau aku lolos di percobaan pertama tes LPDP mungkin kesempatanku berkuliah di luar negeri sudah hangus. Mungkin aku akan kehilangan beasiswa karena aku tak kunjung mendapatkan universitas di Jerman. Atau bisa jadi saat aku kuliah di Jerman, aku jadi stres dan tidak aman karena tidak menemukan orang-orang baik di sana. Apapun itu, aku benar-benar bersyukur mendapatkan kesempatan kuliah di Inggris dan bertemu orang-orang yang luar biasa baik. Allah itu memang perencana terbaik bagi makhlukNya.

Setiap orang yang datang dan pergi dari hidupku pun selalu punya hikmah. (mantan) Temanku contohnya, kalau aku tidak bertengkar dengan dia mungkin hingga saat ini aku akan terus dimanfaatkan olehnya. Kalau dia tidak mulai membenciku dan menulis segala macam hal buruk soalku di blognya, mungkin aku akan terus membelanya dan rasa iri hati serta jiwa kompetitif akan selalu ada di antara kami. Dan kalau aku tidak bertemu dengan dia, mungkin aku tidak akan bertemu Tryas, Bagus, Sion, dan Nadya (kami bersahabat hingga saat ini). 

Kalau aku tidak bertengkar dengan Mami, mungkin aku akan tetap jadi anak close minded dan antipati pada perspektif serta paham orang lain. Lewat pertengkaran itu pula aku mulai memahami dan mau menerima beberapa poin dari pedoman agama Islam yang dia anut. Yah, meski aku masih tidak bisa menerima sepenuhnya tapi ada juga sejumlah hal yang benar.

Jadi begitulah, memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan tapi setiap waktu yang kita lewati pasti akan membantu kita untuk berproses jadi manusia yang lebih baik. Dan saat ini, aku sedang menikmati perubahan lingkungan selama tinggal di Inggris. Semoga Inggris mengubahku jadi orang yang jauh lebih baik dari aku yang sebelumnya, memenangkan diriku sendiri. Sama halnya Jerman mengubah seorang Gita Savitri.